Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Tak Percaya


__ADS_3

Selama kumpul dengan teman-temannya Nathan tak begitu menghiraukan panggilan telepon yang masuk di hpnya, hingga sudah enam jam baru Nathan melihat sebuah pesan dari Oma Widia meminta Nathan untuk pulang dan mengajak Nathan jalan-jalan ke MALL bersama Delisa.


Nathan pun akhirnya pamit dengan teman-temannya memutuskan pulang ke rumah sekarang, mumpung belum sore Nathan ingin memenuhi permintaan Oma Widia apalagi ada Delisa membuatnya semakin semangat.


Tiba di depan rumah Nathan langsung menyolong masuk karena pintu depan tidak tertutup rapat, namun saat hendak menuju lantai atas Nathan mendengar suara orang yang sedang berdebat di arah dapur dan Nathan pun memutuskan melihat sumber suara itu.


Nathan berdiri cukup lama mendengar perdebatan Mamanya dan Oma Widia, dan Nathan begitu terkejut ketika Mamanya bilang Delisa mencuri makanya di pecat.


Seperti di sambar petir siang bolong mendengar Delisa di pecat, yang artinya dirinya kembali tak bisa melihat keberadaan Delisa lagi di rumah ini dan Oma Widia terus membela Delisa karena Oma Widia tak percaya kalo Delisa mencuri.


Begitu juga Nathan tak percaya, seorang Delisa yang baik gak akan mencuri walaupun Nathan baru mengenal Delisa namun di hati kecil Nathan paling dalam mengatakan bahwa Delisa tidak seperti apa yang Mamanya katakan.


"Mama tega sekali memecat Delisa" kata Nathan tiba-tiba memotong perdebatan Mamanya dan Oma Widia


"Kamu juga tidak percaya apa kata Mama, Nathan" kata Nathalie yang semakin emosi orang-orang membela Delisa


"Sudah-sudah, percuma juga berdebat pasti Delisa juga gak akan mau lagi bekerja di rumah ini meski suatu saat dia terbukti gak bersalah" kata Oma Widia yang sebenarnya masih syok Delisa di pecat


Oma Widia merasa seperti separuh raganya hilang mengetahui Delisa di pecat dan takkan menemani hari-harinya lagi, Oma Widia memilih berlalu dari situ dan berjalan menuju anak tangga ingin segera ke kamar tidurnya menenangkan kepalanya yang mulai terasa pusing.


Tiba di kamar tidurnya Oma Widia bersandaran di sandaran tempat tidur sembari memijit keningnya dan memikirkan keadaan Delisa yang pasti saat ini sangat sedih serta terpukul karena sudah di tuduh mencuri, sampai kapanpun Oma Widia takkan percaya jika Delisa mencuri karena Oma Widia sangat yakin Delisa itu hanya di fitnah.


Nathan pun juga berlalu dari Mamanya dan memilih kembali keluar rumah dari pada harus berdebat dengan Mamanya, Nathan ingin mencari Delisa di sepanjang jalan karena Nathan yakin Delisa belum jauh dari sini.

__ADS_1


Nathalie memilih pergi ke ruang keluarga dan duduk disitu sembari memijit keningnya terasa sedikit pusing, Nathalie tak habis pikir entah itu Anak bungsunya ataupun Mama mertuanya mengapa begitu menyukai wanita udik seperti Delisa itu.


Beruntung keributan ini terjadi setelah teman-teman sosialitanya sudah pada pulang kalo tidak, mau di taruh dimana mukanya melihat kenah marah oleh Mama mertuanya beserta Anak bungsunya.


Nathalie sedikit merenung perkataan Mamanya yang tadi soal Delisa, jika memang bukan Delisa yang mencuri satu set berlian itu lalu mengapa berlian itu berada di dalam tasnya dan jika ada yang memfitnah Delisa siapa orang itu.


Ah, mungkin awalnya Delisa tak berniat untuk mencuri namun karena ada kesempatan jadi dilakukannya tadi, apalagi Delisa hanya anak orang miskin mana mungkin gak mau dengan satu set berlian yang kalo di jual harganya sampai miliyaran begitulah dalam pikiran Nathalie saat ini.


.


.


Di tempat lain


Soalnya tak ada yang tau soal berlian itu kecuali Tantenya dan teman-temannya, sedangkan teman-teman Tantenya gak kenal dengan dirinya jadi siapa lagi dalang dari balik kejadian ini kalo bukan Tantenya.


Delisa juga bercerita seminggu yang lalu bahwa Bella datang ke rumah Nathan, bahkan Bella di kenalkan sebagai Calon menantu di rumah Nathan dan ini seperti ada hubungannya dengan kejadian hari ini.


"Benar, mungkin Bella takut Lho mengeser posisinya. Apalagi Nathan begitu menyukai Lho" kata Wulan membenarkan semua cerita Delisa


"Tapi Lho percaya kan Lan dengan Gue, kalo Gue gake mencuri" kata Delisa butuh kepercayaan dari orang lain


"Gue percaya dengan Lho, Lho itu sahabat Gue. Gue tau Lho, meskipun Lho mungkin memepet banget butuh duit tapi Lho gak akan melakukan hal seperti itu" kata Wulan sembari memegang kedua pundak Delisa

__ADS_1


"Terima kasih Lan, Lho memang sahabat terbaik Gue" kata Delisa kemudian kembali memeluk Wulan


Wulan tersenyum sembari mengelus punggung Delisa, lagi-lagi Delisa terlibat masalah yang selalu menjadikannya tersangka padahal Delisx adalah korban dari kejahatan orang lain.


Wulan takkan tinggal diam, Wulan akan balas setiap air mata Delisa kepada Bella dan keluarganya yang sudah membuat Delisa menderita terus menerus.


Selama ini Wulan diam karena masih menghargai Bella sebagai keluarga kandung Delisa satu-satunya di dunia ini, namun jika masih terus di buat seperti ini Wulan takkan bisa diam lagi dan sudah waktunya dirinya bertindak.


"Jadi sekarang Lho mau bekerja apalagi?" tanya Wulan pada Delisa yang sudah mulai tenang


"Sepertinya Gue mau buka usaha Lan" jawab Delisa yang teringat lagi dengan Oma Widia


"Usaha apa? Mungkin Gue bisa bantu" kata Wulan yang penasaran dengan usaha yang di bilang Delisa


"Entar saja, ini baru mau coba. Kalo suatu saat Gue butuh bantu pasti Gue hubungi Lho, satu yang Gue minta jika Nathan nanya tentang Gue bilang saja kalo Gue sudah tidak tinggal di kota ini" kata Delisa yang teringat perkataan Nathalie yang melarangnya menampakkan diri di hadapan semua keluarganya.


Wulan mengangguk sejutu dengan permintaan Delisa, Wulan juga tak ingin sampai Delisa dapat masalah lagi jika masih berhubungan dengan keluarga Wijaya sebelum Wulan bisa membuktikan bahwa semua yang terjadi ini hanya fitnah.


Delisa pamit dengan Wulan ingin segera pulang agar tidak ke sorean, Delisa juga harus memberi tahu Ayahnya jika dirinya tak bekerja lagi di rumah Oma Widia namun soal dirinya di pecat itu akan jadi rahasianya karena dirinya tak ingin Ayahnya sampai semakin membenci Tantenya.


Wulan mengantar Delisa sampai ke depan rumah, saat Delisa sudah berada di atas motor Wulan melambaikan tangan hingga motor matic Delisa menghilang di belokkan jalan.


Delisa melaju motor maticnya dengan kecepatan sedang sembari menghirup udara di kota A yang sudah tak asri lagi karena sudah banyak kendaraan jadi menimbulkan polusi dari debu dan asap, sepanjang jalan Delisa memikirkan tentang usahanya yang ingin dirintisnya dari nol dan semoga usahanya berjalan dengan seperti impiannya.

__ADS_1


__ADS_2