
Selama seminggu kemarin Delisa begitu sibuk mencari pekerjaan namun hasilnya masih nihil, hingga akhirnya dirinya memilih untuk menjalankan usaha Ibunya dulu yaitu melaundry pakaian para tetangga dan para anak kuliah yang ngekos tak jauh dari rumahnya.
Beruntung selama satu bulan ini usahanya lancar, semua pelanggan puas dengan hasil kinerja jadi dirinya tak susah lagi untuk memikirkan uang pemasukan setelah usahanya berjalan dengan lancar.
Belum lagi setiap waktu pulang sekolah Wulan akan datang ke rumahnya untuk belajar bersamanya yang tentunya Wulan tetap membayar jasanya sehari 50 ribu, dan tak lupa Wulan membawa makanan jika datang ke rumahnya sehingga setiap sore Delisa tak perlu memasak lagi untuk makan malam karena sudah dapat makanan dari Wulan.
Selesai semua pekerjaannya pagi ini Delisa beristirahat sejenak sebelum nanti dirinya pergi keluar untuk membelikan obat Ayahnya yang sudah habis tadi pagi, sebenarnya membuka usaha seperti laundry begitu menguras tenaga.
Apalagi pagi-pagi Delisa harus mengurus Ayahnya belum lagi mengurus rumah, setelah itu baru mencuci pakaian orang-orang yang melaundry dan jika banyak yang melaundry semakin lama pekerjaannya selesai.
Seperti pagi ini tadi dari mulai selesai sarapan pukul 7 pagi lewat Delisa mencuci pakaian baru selesai pukul 10 lewat, jika ada pekerjaan yang lebih ringan mungkin Delisa memilih untuk bekerja saja meski hasilnya tak begitu besar seperti usaha laundry-nya ini.
Delisa yang sedang berbaring membuka hpnya ingin berselancar di sosial media, namun lagi-lagi di ada pesan whatsapp dari Nathan yang memintanya untuk bertemu atau menanyakan alamat rumahnya.
Delisa sering menolak untuk bertemu dengan Nathan dengan alasan selalu sibuk bekerja, dirinya tak mau terlalu dekat dengan Nathan apalagi dengan keadaan sekarang yang membuat dirinya semakin minder.
Delisa segera beranjak dari tempat tidur ingin segera ke apotek sebelum semakin siang yang tentunya setelah makan Ayahnya harus minum obat, Delisa memesan ojek online melalui aplikasi dihpnya sembari melangkah keluar dari kamar dengan tas yang sudah terselendang di pundaknya.
"Yah, Delisa keluar sebentar ya. Mau beliin obat Ayah yang sudah habis" kata Delisa sembari mengetuk pintu kamar Ayahnya memberi tahu agar Ayahnya tak mencarinya.
"Iya" jawab Dika singkat dari dalam kamar tidurnya
Delisa segera keluar saat mendengar bunyi klakson di depan rumahnya, tak lupa Delisa menutup kembali pintu depan agar tak ada ayam tetangga masuk yang akan meninggalkan jejak kotoran.
Delisa menerima helm yang di sodorkan oleh Tukang ojek itu, kemudian Delisa segera naik di jok belakang dan motor pun mulai melaju meninggalkan halaman rumah Delisa.
__ADS_1
Motor yang di tumpangi Delisa melaju membela jalanan kota A yang tak pernah sepi oleh kendaraan yang berlalu lalang, kota A seperti kota J saja yang terkenal macet dan banyak polusi serta asap dari knalpot kendaraan.
Tak terasa motor yang di tumpangi Delisa berhenti di sebuah apotek 24 jam, Delisa segera turun dan tak lupa membayar ongkos ojek lalu segera mengantri di depan apotek 24 jam yang terlihat lumayan ramai para pembeli.
Setelah selesai mendapatkan obat untuk Ayahnya Delisa segera berlalu dari depan apotek 24 jam itu, dirinya melangkahkan kaki ingin mencari tempat duduk untuk memesan ojek online melalui aplikasi dihpnya.
"Tolong... Copet.... Tolong" teriak Seseorang
Delisa sayup-sayup mendengar teriakkan orang minta tolong segera menoleh kesana kemari mencari sosok yang minta tolong, saat Delisa menoleh dari jarak 10 meter ada laki-laki yang berlari ke arahnya sembari membawa sebuah tas limited edition.
Delisa tau pasti laki-laki itu tidak mungkin memiliki tas limited edition itu, tanpa ba-bi-bu Delisa segera memasang kakinya pura-pura menoleh ke arah lain.
Brukk
"Hah...hah..." ucap Wanita yang sudah setengah abad sembari ngos-ngosan berdiri di dekat Delisa
"Ini punya Nenek?" tanya Delisa sembari menyodorkan tas limited edition itu
"Iya, terima kasih ya nak" kata Wanita setengah abad itu menerima tasnya kemudian mengambil uang berwarna merah 10 lembar dan memberikan pada Delisa
"Tidak nek, saya ikhlas membantu Nenek. Hanya kebetulan saja saya ada disini" kata Delisa menolak pemberian dari Wanita setengah abad itu
Wanita setengah abad itu terus memaksa Delisa untuk menerima uang pemberiannya, namun lagi-lagi Delisa menolak karena dirinya benaran ikhlas menolong bukan mengharapkan imbalan.
"Siapa nama kamu nak?" tanya Wanita setengah abad itu kembali memasukkan uang yang disodorkannya tadi karena sudah lelah dapat penolakan dari Delisa
__ADS_1
"Delisa nek, nama Nenek siapa?" kata Delisa sembari tersenyum
"Panggil Oma Widia" kata Wanita setengah abad itu yang ternyata bernama Widia
Delisa menganggukkan kepala sembari terus tersenyum, Oma Widia kembali mengucapkan terima kasih kepada Delisa dan bercerita jika Delisa tak menolongnya semua isi dalam tasnya ada uang dan hpnya belum yang lain bisa habis tak bersisa apalagi dirinya baru saja dari mesin ATM menarik uang cash.
"Kalo kamu menolak uang pemberian dari saya bagaimana kalo kita pergi makan di restoran saja, ini sudah waktunya makan siang saya lapar dan kamu pasti belum makan" kata Oma Widia beranjak dari duduknya sembari mengandeng tangan Delisa
"Tapi saya harus pulang Oma, saya gak lap..." kata Delisa namun terpotong saat cacing dalam perutnya berbunyi
Kriuk...kriuk...
"Hahaha... Kamu ini lucu bilang gak lapar tapi cacing dalam perut meronta, Ayo" kata Oma Widia tertawa melihat tingkah Delisa
"Hehehe" tawa Delisa sembari mengaruk tengkunya merasa malu
Oma Widia segera mengandeng tangan Delisa sampai masuk ke dalam sebuah mobil alphard warna silver, Delisa yang baru pertama kali duduk di mobil alphard begitu kagum isi dalamnya apalagi bisa tiduran.
Oma Widia meminta supirnya untuk mengajak ke restoran terlezat di kota A, tiba di restoran Oma Widia segera turun dan kembali mengandeng tangan Delisa untuk masuk restoran itu.
Sebelum sampai di depan pintu masuk Delisa berhenti sejenak meneliti penampilannya yang hanya memakai sendal jepit akan masuk ke restoran mewah, Oma Widia yang tau Delisa memperhatikan penampilan kembali mengandeng tangan Delisa sampai masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Memangnya di restoran mempermasalahkan soal penampilan, yang terpenting bisa bayar" kata Oma Widia setelah mereka duduk
Delisa hanya menanggapi dengan senyuman, Delisa memperhatikan sekeliling restoran yang dulu pernah dikunjunginya bersama Kedua orang tuanya waktu merayakan dirinya mendapatkan juara umum pertama.
__ADS_1