
"Sayang bangun, perutku sakit sekali" kata Delisa terus mengoyangkan tubuh Nathan yang tertidur pulas disampingnya
Nathan yang sebenarnya begitu kelelahan hari ini karena banyak meeting dan bertemu klien mau tak mau tetap membuka kedua kelopak matanya saat mendengar suara Istrinya dan merasakan tubuhnya terus digoyangkan Istrinya.
"Ada apa sayang?" tanya Nathan beranjak duduk di sandaran ranjang sembari mengucek kedua kelopak matanya
"Perutku sakit banget, sepertinya aku mau lahiran" kata Delisa yang terus meringkis sembari memegang perutnya yang buncit
"Hah, lahiran bukannya belum waktunya. Baiklah ayo kita ke rumah sakit sekarang" kata Nathan yang langsung turun dari ranjang dan membantu Istrinya berdiri
Saat keluar kamar Nathan dan tiba di depan kamar tidur Buk Ina dan Pak Dadang, Nathan segera mengetuk begitu keras daun pintu kamar tidur itu seperti seorang yang tengah ketakutan minta di bukakan pintu.
Buk Ina yang mudah terbangun segera beranjak dan membuka pintu kamarnya, Buk Ina kaget saat mendengar Nathan bicara bahwa Delisa akan melahirkan dengan buru-buru Buk Ina juga membangunkan Pak Dadang agar menyiapkan mobil alphard.
Kini mereka semua telah berada di dalam mobil setelah membawa tas perlengkap bayi yang akan di butuhkan nanti, di dalam mobil Nathan menghubungi Kedua orang tuanya dan Papa mertuanya mengabari bahwa malam ini akan ke rumah sakit karena Delisa mau melahirkan.
"Aduh sakit sekali..." kata Delisa sembari mengengam tangan Nathan begitu erat
"Pak Dadang agak cepat ya, kasihan Delisa sudah kesakitan" kata Nathan meminta Pak Dadang lebih cepat
Pak Dadang yang duduk di kemudi hanya menganggukkan kepala dan menuruti perintah Majikannya, Buk Ina juga merasa kasihan melihat Delisa kesakitan seperti itu meski dirinya tak pernah merasakan mengandung dan melahirkan tentu dirinya tau dari cerita orang-orang yang selalu mengatakan bahwa akan melahirkan itu mempertaruhkan nyawa.
Tak butuh waktu lama mobil alphard yang mereka kendarai tiba di area parkiran rumah sakit, Buk Ina turun terlebih dahulu untuk memanggil perawat dan dokter untuk membawa brangkar ada yang ingin melahirkan.
"Ahhh...." teriak Delisa lagi sembari terus mencengkeram kuat lengan Nathan membuat kulit lengan Nathan sedikit robek akibat goresan kuku Delisa
__ADS_1
Brangkar yang membawa Delisa sudah masuk ke dalam ruang persalinan dokter kandungan mulai memeriksa jalan lahir yang ternyata baru pembukaan delapan yang artinya masih menunggu dua pembukaan lagi, selagi menunggu pembukaan bertambah dokter kandung mengecek detak jantung bayi serta tensi darah Delisa.
Nathan masih menemani Delisa di dalam ruang persalinan itu dan gengaman tangan mereka tak sedikitpun Nathan berniat melepaskannya, dirinya ingin menyaksikan Istrinya melahirkan buah hati mereka yang telah mereka nanti selama ini.
Di depan ruang persalinan sudah ramai yang menunggui Delisa dan menanti Delisa melahirkan, yang pasti Buk Ina dan Pak Dadang serta ada kedua orang tua Nathan bersama Ayahnya Delisa yang tak mau ketinggalan menyaksikan cucu pertamanya.
"Oek....Oek...Oek" suara bayi menangis mengema di dalam ruang persalinan
Suster langsung memberikan bayi merah itu kepada Nathan setelah Nathan mencium kening Istrinya sembari meneteskan air mata karena terharu, Nathan langsung mengazankan buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki itu.
Setelah itu Nathan mendekati Delisa sembari mengendong bayi merah itu, Delisa menyunggingkan senyumannya setelah mencium pipi buah hatinya yang baru saja dilahirkannya.
Selesai di bersihkan bayi laki-laki Delisa dan Nathan kini telah berada di ruang bayi, semua anggota keluarga Nathan dan Delisa melihat bayi merah dan mungil itu satu persatu serta bergantian dan tentunya dengan protokol yang di buat oleh dokter anak.
.
.
"Uhh aku jadi gak sabar lahiran juga" kata Wulan yang kemungkinan tinggal menunggu waktu juga
"Kamu tau gak, rasanya nyawa di ujung kepala" kata Delisa yang kembali teringat perjuangannya semalam
"Ahh jangan buat aku ketakutan donk" kata Wulan yang jadi sedikit takut membayangkan proses melahirkan
Delisa hanya tersenyum tak menghiraukan Wulan yang ketakutan, Delisa kini beralih memperhatikan Bella yang tengah mengendong buah hatinya meski duduk di kursi roda namun dari wajah dan senyuman Bella begitu terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
Delisa bersyukur senyum di wajah Bella sudah kembali lagi meski tak sepenuhnya karena Delisa tau Bella begitu sulit untuk menerima keadaannya bahkan psikis Bella sempat down awal-awal dirinya bangun dari komanya, Delisa berharap dan berdoa semoga ada laki-laki yang mau menerima Bella apa adanya meski keadaan Bella seperti itu.
"Assalamualaikum" ucap seseorang dari balik pintu yang kemudian masuk ke dalam ruang VVIP yang merawat Delisa
"Walaikumsalam" jawab semua yang ada di dalam ruang VVIP tersebut secara bersamaan
Delisa mengeryitkan dahinya melihat seorang laki-laki yang gagah dan tampan masuk ke dalam ruang rawatnya karena dirinya tak mengenali laki-laki tersebut bahkan seingatnya Nathan tak memiliki teman laki-laki yang kini ada di hadapan mereka semua, laki-laki tersebut menyalami satu persatu orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Dokter Rian" kata Bella yang terkejut melihat Dokter Rian ada dihadapannya
Seingatnya dulu Dokter Rian pernah pindah ke luar negeri sehingga sudah lama Bella tak melihat Dokter Rian lagi di rumah sakit tempat Bella bekerja dulu, Dokter Rian tersenyum melihat Bella yang masih mengingatnya sedangkan yang lain terheran karena ternyata laki-laki di hadapan mereka seorang Dokter.
"Maaf sebelumnya, saya telah menganggu kalian semua yang ada disini. Saya seminggu yang lalu baru kembali dari luar negeri, saya kesini ingin bertemu dengan Dokter Bella" kata Dokter Rian dengan begitu sopan
Bella langsung menundukkan kepala, dirinya tau bahwa dulu Dokter Rian sempat menyukainya karena salah satu suster memberitahu dirinya namun Bella tak mengidahkan waktu itu apalagi dirinya dulu begitu terobsesi dengan Nathan.
"Saya kembali ke Indonesia ingin menyampaikan niat baik saya, Om yang kini sebagai wali Bella sekarang saya ingin melamar Bella di hadapan kalian semua" kata Dokter Rian to the poin apa yang ingin disampaikannya
"Maaf Dokter Rian, aku gak bisa karena sekarang aku cacat" jawab Bella langsung menolak karena keadaannya
"Saya menerima kamu apa adanya, tak peduli kamu akan selamanya di kursi roda ini. Tapi saya janji karena saya dokter saraf, saya akan membawa kamu ke luar negeri untuk pengobatan kamu" kata Dokter Rian yang kini mengeluarkan sebuah kotak cincin yang berisi cincin berlian bermata satu
Bella meneteskan air matanya, dirinya begitu terharu dan bahagia karena ada laki-laki yang mau menerima dirinya apa adanya meski dirinya kini sudah cacat dan kemungkinan besar tidak bisa sembauh seumur hidup.
Semua yang melihat ikut terharu dengan adegan yang ada di depan mereka dan mereka seperti sedang menonton film secara langsung, Bella pun menerima lamaran Dokter Rian karena ini adalah kesempatannya mendapatkan laki-laki yang sangat mencintainya apa adanya dan rasa cinta tentu akan tumbuh seiring waktu berjalan
__ADS_1
....................................TAMAT....................................