Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Curhat


__ADS_3

Delisa kembali mengirimi Wulan pesan untuk tidak mengantarkan tas ranselnya ke rumahnya karena dirinya akan menemui Wulan dirumah Wulan saja, sekalian ingin bercerita tentang masalahnya yang belum di ketahui oleh siapa pun kecuali Bu Wanda.


Kini Tukang ojek yang di pesan Delisa sudah datang dan bahkan motor yang di tumpangi Delisa sudah melaju menuju rumah Wulan, sepanjang jalan Delisa hanya bisa merenung dan memikirkan langkah yang harus di ambilnya setelah ini.


Motor yang di tumpangi Delisa pun berhenti di rumah yang mewah dan megah bernuansa modern serta berwarna biru seperti rumah peninggalan Kakeknya dulu yang sekarang di tempati Tantenya sekeluarga, setelah membayar ongkos ojek Delisa melangkahkan kaki ke pintu utama yang terbuat dari kayu jati itu.


Baru ketukan pertama Wulan sudah membukakan pintu itu dan mengajak Delisa masuk ke dalam, Wulan juga langsung mengajak Delisa ke meja makan karena Wulan sengaja belum makan ingin mengajak Delisa sekalian.


"Tapi Lan" Delisa berusaha menolak ajakkan makan dari Wulan


Namun bukan Wulan kalo tak memaksa, Wulan tak banyak bicara langsung mengambilkan nasi serta lauk untuk Delisa dan menyodorkan makanan itu di hadapan Delisa yang masih mematung di depan meja makan.


"Ayo, itu tinggal makan. Kalo gak di makan nanti mubazir loh" kata Wulan segera duduk di kursi setelah mengambil makanan untuk dirinya dan Delisa


"Terima kasih ya" ucap Delisa akhirnya mengalah


Delisa dan Wulan mulai menyantap makanan yang di masak oleh tangan Mamanya Wulan sendiri, makanan iti begitu lezat menurut Delisa tak kalah jauh dengan masakkan almarhumah I Ibunya.


Winda Mamanya Wulan memang sangat pinter soal memasak makanya mereka membuka restoran dan kini sudah punya cabang, saat ini juga Kedua orang tua Wulan sedang ke restoran sebentar karena akan memberikan gaji pada para karyawannya apalagi ini sudah akhir bulan.


Delisa merasa iri dengan kehidupan Wulan yang masih bisa memiliki Kedua orang tua lengkap, bahkan kehidupan Wulan juga sudah berada di atas meski Delisa tau kehidupan Wulan pernah ada di bawah namun hanya satu tahun Tuhan menguji mereka.


Sedangkan dirinya sudah hampir dua tahun kehidupannya masih tetap seperti ini, bahkan tak tau kapan waktunya dirinya kembali berada di atas bukannya tak bersyukur atau mengeluh dirinya hanya ingin kembali menikmati bagaimana rasanya tak perlu banting tulang kesana kemari untuk mencari uang hanya demi sesuap nasi.

__ADS_1


Selesai makan Delisa langsung membereskan piring kotor bekas mereka, sebenarnya Wulan sudah menolak karena ada ART yang akan mengerjakan namun Delisa tetap kekeh ingin mencucinya hingga mau tau mau Wulan membiarkan saja.


Kini Wulan dan Delisa berada di dalam kamar Wulan yang sangat luas namun masih luas kamar milik Delisa waktu di rumah peninggalan Kakeknya dulu, mereka berdua duduk santai sembari menikmati cemilan yang di bawa Wulan tadi.


"Jadi kenapa Lho gak masuk kelas hari ini dan memilih minggat?" tanya Wulan yang dari tadi pagi penasaran


"Gue mulai hari ini keluar dari sekolah Lan" jawab Delisa menundukkan kepala hingga tampak di minta air matanya menetes


"Lho serius, apa Lho di keluarin dari sekolah" kata Wulan yang terkejut mendengar perkataan Sahabatnya itu


"Beasiswa Gue di cabut, terus Gue mikir dari pada lanjut karena harus bayar SPP mending Gue keluar dari sekolah" jelas Delisa menghapus air matanya yang masih terus mengalir


"Gue bisa bantu Lho buat bayar SPP Lho, jadi kenapa harus keluar dari sekolah" kata Wulan menghadap Delisa sembari memegang kedua pundak Delisa


Wulan mengusap wajahnya dengan kasar, tak menyangka selicik itu cara Bella ingin menghancurkan masa depan Delisa padahal mereka saudara sepupu namun seperti orang lain.


Wulan langsung mengambil tubuh Delisa, memberi kekuatan kepada sahabatnya itu agar bisa lebih kuat menghadapi kehidupan di dunia ini yang sangat kejam.


Delisa pun yang tadi sudah mulai mereda akhirnya kembali menangis, beruntung dirinya masih mempunyai sahabatnya yang mengerti akan posisinya sekarang dan mau memberinya kekuatan.


"Gimana kalo Lho pindah sekolah aja?" tanya Wulan kepada Delisa


Delisa mengelengkan kepala, dirinya tau nama baiknya pasti sudah jelek di sekolah mana pun bahkan wajahnya sudah terlihat jelas di video yang sudah di tonton miliyaran orang.

__ADS_1


Pastinya dirinya akan kesulitan untuk pindah sekolah, apalagi sekolahnya sekarang sekolah terbaik dan terbagus di kota A jika pindah ke sekolah lain pasti di pertanyakan orang-orang.


"Kenapa?" tanya Wulan


Delisa mengeluarkan hpnya dan mencari akun halaman SMA Tunas Bangsa, setelah bertemu disodorkannya hpnya ke Wulan sembari video itu berputar.


Wulan yang melihat langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, dirinya tidak tau menau soal video tersebut karena dari kemarin hingga hari ini tidak terlalu memegang hp karena memikirkan sahabatnya yang sedang memiliki masalah.


"Siapa yang memvideokan ini, dan sepertinya video ini hanya setengah" kata Wulan karena seingatnya ada caci mako dari mulut Bella


Namun mengapa di video hanya Delisa langsung menampar Bella dan berakhir mereka berkelahi, Delisa hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau apapun.


Wulan tak bisa berkata-kata lagi di sini seperti terbukti bahwa Delisa yang langsung menyerang Bella, apalagi Delisa menceritakan juga apa yang terjadi tadi pagi di dalam ruangan Bu Wanda Bella berani berbohong.


Lagi-lagi Wulan tak menyangka kelakuan Bella itu sudah di luar batas, Bella yang dikenalnya dulu tak seperti itu namun mengapa sekarang menjadi gadis yang memiliki ambisi besar.


Sudah merasa begitu lama di rumah Wulan, Delisa pamit pulang karena ingin mengajar LES mumpung masih ada waktu satu jam namun tak masalah dirinya terlambat dan hanya mengajar sebentar walau di gaji separoh yang penting ada pemasukan apalagi kemarin dirinya sudah tidak mengajar jadi merasa tak enak dengan Bundanya Aisyah.


Setelah pamit dan ojek online yang di pesan Delisa sudah tiba, Delisa langsung naik setelah memakai helm dan tak lupa melambaikan tangan pada Wulan yang masih menunggunya di depan rumah.


Motor yang di tumpangi Delisa melaju membela jalanan kota A yang semakin sore semakin ramai, bahkan sepertinya semua kendaraan berlomba-lomba seperti ingin segera sampai ke tempat tujuan masing-masing.


Delisa tak tau bagaimana nanti menjelaskan dengan Ayahnya jika dirinya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, Delisa juga berpikir pekerjaan apa yang akan dicarinya setelah tak melanjutkan sekolah lagi demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan Ayahnya nanti karena tak mungkin dirinya hanya ongkang-ongkang kaki di rumah.

__ADS_1


__ADS_2