Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Takut


__ADS_3

Setelah dari ruangan Bu Wanda Delisa jadi murung dan diam saja, bahkan Guru di depan menjelaskan pelajaran sama sekali tak didengarkannya karena terus memikirkan sekolahnya yang sepertinya di ambang kehancuran.


Pandangan Delisa ke depan namun dengan tatapan kosong, tangan kanannya menompang dagunya seperti begitu menikmati lamunannya yang entah sudah berapa lama.


Delisa sangat takut membuat Ayahnya kecewa akibat masalah yang dibuatnya di sekolah hari ini tadi, tapi semua telah terjadi di sesali pun sudah tak ada gunanya lagi hanya bisa melihat hasil ke depannya apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bel berbunyi sekali dan bernada panjang yang artinya waktunya pulang sekolah, Guru-guru yang ada di dalam kelas mengakhiri acara mengajar mereka lalu meninggalkan ruang kelas.


"Del, Delisa" panggil Wulan sembari menguncang pundak Delisa


"Ehh, iya Lan ada apa. Lho kok kelas udah sepi" kata Delisa saat melihat tak ada teman kelasnya selain dirinya dan Wulan


"Kamu dari tadi melamun, ayo pulang. Udah dari tadi bel pulang berbunyi" ujar Wulan kemudian beranjak dari duduknya


Delisa pun segera memasukan buku-buku yang ada di atas meja ke dalam tas ranselnya, dirinya ikut beranjak dari duduknya dan keluar kelas bersama Wulan.


"Del, Lho gak mau cerita sama Gue?" tanya Wulan saat mereka berdua berjalan di koridor sekolah yang sudah mulai sepi hanya ada beberapa murid


"Gue takut Lan, sepertinya beasiswa Gue bakal di cabut" kata Delisa kembali murung mengingat soal beasiswanya


"Gue bisa kok jadi saksi, kalo Bella itu sengaja nyari gara-gara dengan Lho" kata Wulan meyakinkan Delisa agar tidak pesimis dahulu


Delisa hanya menjawab dengan gelengan kepala, Delisa tau kalo dirinya memang bersalah karena sudah berkelahi di sekolah dan soal saksi takkan ada gunanya yang namanya perkelahian di sekolah takkan ada toleransi sama sekali dari pihak sekolah.


Wulan pun memilih diam dirinya tau maksud dari gelengan kepala Delisa, Wulan juga takut kalo beasiswa Delisa di cabut pasti Delisa harus kembali sekolah seperti mereka membayar uang SPP perbulan.


Delisa dan Wulan duduk di gazebo yang ada di depan sekolah mereka tempat para murid menunggu jemputan atau angkutan umum, Delisa ingin langsung pulang ke rumah saat ini dirinya sudah mengirim pesan demgan Bundanya Aisyah bahwa tak bisa mengajar LES hari ini karena kurang enak badan.

__ADS_1


Mobil jemputan Wulan sudah datang, Wulan menawari Delisa untuk pulang bersama namun Delisa menolak alasan masih mau disini dan mau sendiri dulu.


Wulan yang mengerti keadaan Delisa saat ini tak banyak tuntunan lagi, Wulan pamit dengan Delisa agar segera pulang dan di jawab Delisa dengan anggukkan kepala sembari melambaikan tangan.


Setelah kepergian Wulan Delisa memilih berjalan kaki menyelusuri jalanan yang panjang namun ramai kendaraan berlalu lalang, Delisa benar-benar sedih saat ini langkah apa yang akan diambilnya jika beasiswanya di cabut.


Delisa berhenti sejenak di halte bus pandangannya kembali menghadap ke jalan dengan tatapan kosong dan air matanya terus mengalir, Delisa merasa Tuhan seperti tak adil dengan kehidupannya sekarang sudah menderita dibuat semakin menderita.


Delisa segera memesan ojek online, dirinya tau dimana tempat yang paling tepat untuk dirinya menumpahkan segala kesedihannya hari ini.


"Atasan nama mbak Delisa?" tanya Tukang ojek yang ada di hadapan Delisa


"Iya Pak" jawab Delisa kemudian menerima helm yang diberikan oleh Tukang ojek itu


"Sesuai aplikasi ya mbak" kata Tukang ojek itu yang sudah mulai melajukan motornya


Tukang ojek itu terus melajukan motornya di antara mobil-mobil mewah yang berlalu lalang, sesekali Tukang ojek itu melihat raut wajah Delisa dari kaca spion yang menampakkan kesedihan.


Tukang ojek seperti tau kalo Delisa saat ini sedang memiliki masalah, apalagi tempat tujuan Delisa saat ini adalah TPU entah makam siapa yang akan di kunjungi Delisa itulah pemikiran Tukang ojek itu.


"Udah nyampe mbak" kata Tukang ojek


Delisa yang dari tadi melamun akhirnya tersadar saat mendengar suara Tukang ojek, Delisa segera turun dari motor itu dan membayar ongkos ojek.


Tukang ojek itu langsung pergi setelah mendapat bayaran dari Delisa, Delisa mulai melangkahkan kaki masuk ke TPU tempat dimana Ibunya di makamkan.


Cukup jauh Delisa masuk ke tempat itu hingga akhirnya bertemu dengan gundungkan tanah yang sudah menghijau, Delisa jongkok di depan makam itu sembari tangannya memegang nisan yang ada nama Ibunya.

__ADS_1


"Bu, apa kabar? Maaf Delisa jarang berkunjung, Ibu pasti sudah tau masalah apa yang sedang Delisa hadapi saat ini" kata Delisa seakan-akan berbicara dengan Ibunya


Air mata Delisa kembali menyucur begitu saja dan semakin deras, Delisa mulai merasakan titik kelemahan sekarang setelah selama ini berusaha menerima keadaannya dan menerima apa yang telah terjadi.


Tak ada satu pun orang yang bisa Delisa andalankan sekarang untuk memberinya semangat, Ibunya telah pergi jauh sedangkan Ayahnya saat ini pun juga butuh suport dari orang-orang terdekatnya.


Setelah puas menumpahkan segala kesedihannya di hadapan makam Ibunya, Delisa segera beranjak ingin kembali ke rumah agar bisa istirahat dan menghilangkan sejenak masalah yang dihadapinya sekarang.


Mungkin ini hanya masalah kecil, namun Delisa begitu takut tak bisa melanjutkan sekolahnya jika beasiswanya benar-benar di cabut padahal almarhumah Ibunya begitu menginginkan dirinya menjadi orang sukses suatu saat nanti.


Beruntung dari TPU ini ke rumahnya tak terlalu jauh jadi Delisa memutuskan untuk berjalan kaki saja, dan agar kedua matanya yang sembab kembali normal dan Ayahnya takkan khawatir atau pun curiga.


Setengah jam berjalan kaki akhirnya Delisa sampai di depan rumahnya, Delisa segera melangkah ke arah pintu depan dan mengetuk pintu yang seperti biasa selalu di kunci Ayahnya dari dalam.


"Assalamualaikum yah" ucap Delisa saat pintu sudah di buka Ayahnya seperti biasa Delisa langsung mengambil tangan Ayahnya dan mencium punggung tangan Ayahnya


"Walaikumsalam" jawab Dika sembari tersenyum


Delisa masuk ke dalam rumah sembari mendorong kursi roda Ayahnya hingga di depan kamar tidur Ayahnya, Delisa pamit dengan Ayahnya untuk ke kamar tidurnya.


Delisa lupa kalo seragam sekolahnya sekarang berubah warna, Ayahnya dari tadi memperhatikan seragam sekolah Delisa namun tak ingin bertanya dulu apalagi Delisa baru pulang.


Selesai mandi dan memakai baju santai Delisa masih berada di dalam kamar sembari membaca surat panggilan untuk orang tuanya, Delisa takkan bisa memberikan surat ini kepada Ayahnya meskipun Ayahnya tau dan mau datang ke sekolahnya.


Tapi Delisa tidak mau sampai Ayahnya ke sekolahnya bukan karena dirinya malu mempunyai Ayahnya yang tak sempurna, justru dirinya takut mental Ayahnya down jika mendengar para murid menghina Ayahnya.


Apalagi semenjak kejadian kecelakaan waktu dulu dan keadaan Ayahnya jadi seperti ini sekarang Ayahnya menjadi lebih mendiam bahkan tak berani untuk keluar, di tambah wanita yang di cintai Ayahnya telah pergi selama-lamanya membuat Ayahnya semakin lebih suka mengurung diri di dalam kamar tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2