Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Sukses


__ADS_3

7 Tahun Kemudian


Kini kehidupan Delisa sudah berubah dratis semenjak usaha yang dirintisnya dulu berkembang dan maju dengan begitu pesat, sekarang Delisa sudah memiliki butik terbesar di pusat kota A yang bernama butik Lia Fashion yang di ambil Delisa dari nama belakangnya.


Tak ada yang tau bahwa butik Lia Fashion itu milik Delisa kecuali Wulan sekeluarga, Wulan juga yang menjadi saksi bagaimana Delisa memulai usahanya dari nol hingga bisa memiliki butik terbesar sekarang.


Dika sebagai Ayah Delisa juga bangga dengan pencapaian Anaknya, bahkan dari usaha Delisa sekarang Ayahnya sudah bisa berjalan lagi meski mengunakan kaki palsu yang di belikan oleh Delisa di luar negeri.


Delisa dan Ayahnya sempat tinggal di luar negeri selama tiga tahun selain untuk mengobatan Ayahnya, Delisa juga belajar dengan desainer luar negeri tentang desain-desain gaun pengantin serta kebaya dan lain sebagainya.


Hari ini Delisa harus kembali ke negera mereka yaitu Indonesia, cukup lama Delisa meninggalkan butiknya dengan mempercayai orang kepercayaan dan sesekali juga di kontrol oleh Wulan.


Delisa pulang ke negara dan kota kelahirannya karena harus menghadiri acara pernikahan Sahabatnya yaitu Wulan, yang sebentar lagi status single berganti dengan status istri orang.


Awalnya Delisa berat kembali ke kota kelahirannya apalagi pasti ketika acara pernikahan Wulan nanti dirinya akan bertemu lagi dengan Nathan, bagaimana tak mungkin bertemu jika yang menikah dengan Wulan adalah Bima Sahabat Nathan sekaligus asisten pribadi Nathan.


Namun ini juga permintaan Wulan sebagai Sahabat yang selama ini sudah membantu Delisa menyelesaikan segela masalah yang di hadapi Delisa, mau tau mau dirinya menuruti kemauan Wulan dan di tambah lagi Wulan mau dirinya yang mendesain gaun pengantin untuk Wulan.


Delisa merentangkan kedua tangannya menghirup udara kota A yang sepertinya semalam habis hujan hingga terlihat pagi ini jalanan basah dan daun dari pohon masih meneteskan air, Delisa dan Ayahnya segera masuk ke dalam mobil yang sudah menjemput mereka yang baru tiba pagi ini setelah melakukan penerbangan selama berapa jam yang lalu.


Dika memilih duduk di bangku depan samping supir pribadi mereka, sedangkan Delisa memilih duduk di bangku belakang sekalian ingin merenggangkan otot-otot lehernya yang terasa kaku akibat perjalanan yang terlalu lama.

__ADS_1


Mobil alphard yang di supir oleh Pak Dadang melesat meninggalkan parkiran bandara membela jalan kota A yang masih begitu sepi, mungkin para pengendara lain masih malas untuk beraktifitas pagi ini sehingga jalanan masih begitu sepi.


Hanya 15 menit mobil alphard yang Delisa dan Ayahnya tumpangi kini berenti di salah satu perumahan elit yang ada di pusat kota A, Delisa dan Ayahnya segera turun dari mobil sembari menunggu Pak Dadang menurunkan dua koper milik mereka.


"Saya senang loh Pak bos, melihat Pak bos bisa berjalan" kata Pak Dadang begitu bahagia melihat Dika bisa berjalan lagi


"Alhamdulilah, Pak. Tuhan masih memberi Saya kepercayaan untuk berjalan lagi meski dengan kaki palsu" kata Dika sembari menyunggingkan senyuman


Pak Dadang memberi salam hormat kepada kedua majikannya itu sebelum mereka masuk, Buk Ina istri Pak Dadang ART di rumah Delisa segera membuka pintu utama menyambut kedua majikannya yang baru pulang dari luar negeri sembari membantu membawa koper milik kedua majikannya itu.


Pak Dadang dan Buk Ina sudah lima tahun bekerja di rumah Delisa sama dengan usia rumah elit yang di tinggali Delisa dan Ayahnya sekarang, dulu Delisa membeli tanah di pusat kota setelah bangunan butiknya jadi Delisa memutuskan menjual rumah lama mereka dan sementara tinggal di butik.


Delisa segera melangkahkan kaki ka arah anak tangga dirinya ingin ke lantai atas dimana kamar tidurnya berada, sedangkan kamar Ayahnya ada di lantai bawah Ayahnya menempati kamar utama.


Di lantai atas ada dua kamar satu di gunakan Delisa untuk tempat tidurnya yang satu lagi di gunakannya untuk ruang kerjanya, Delisa memang lebih suka bekerja di rumah untuk mendesain baju-baju pesanan pembeli.


Karena di butik itu khusus tempat jual baju dan fitting baju bagi yang ingin menikah, ada satu ruangan untuk Delisa hanya itu lebih sering di gunakan Delisa untuk bertemu dengan tamu-tamu pentingnya.


Di lantai bawah rumahnya ada empat kamar tidur, satu kamar utama sudah di pakai oleh Ayahnya dan satu di pakai oleh Pak Dadang serta Buk Ina sedangkan dua kamar lagi di sediakan Delisa untuk tamu jika ada yang menginap di rumah mereka.


Kini Delisa sudah berbaring di atas tempat tidurnya mengistirahatkan tubuhnya sejenak yang memang begitu lelah, tanpa sadar Delisa pun terlelap saking kelelahan karena perjalanan yang cukup jauh tadi.

__ADS_1


Tok...tok...tok


"Nyonya Delisa.. Di tunggu Pak Bos di bawah, sekarang sudah waktunya makan siang" kata Buk Ina yang sudah berapa kali mengetuk pintu Delisa


Delisa yang mendengar sayup-sayup seperti asa yang memanggilnya berusaha membuka kedua kelopak matanya yang terasa berat, belum sepenuhnya kedua matanya terbuka Delisa meraba sisi tempat tidurnya mencari hpnya dan ingin melihat jam berapa saat ini.


Dalam keadaan mata masih setengah terpejam Delisa melihat layar hpnya yang menunjukan pukul 12 siang, kedua mata Delisa pun terbuka sempurna dirinya begitu terkejut ternyata tertidur begitu lama.


Tiba di rumah pukul 7 pagi ingin istirahat sebentar tau-taunya begitu lama, Delisa segera beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar sembari terus mengucek kedua matanya yang masih terasa berat.


Delisa berjalan menuruni anak tangga satu persatu hingga sampai ke lantai bawah, Delisa pun langsung menuju ruang makan dimana Ayahnya pasti sudah menunggu dari tadi.


"Tidur kayak kebo" kata Dika saat melihat Anaknya baru turun


"Hehehe, maaf ya" kata Delisa menyengir sembari mengaruk tengkuknya yang tak gatal


Delisa dan Ayahnya segera menyantap dan menikmati hidangan yang di masak oleh Buk Ina, Buk Ina dan Pak Dadang juga ikut makan di meja makan karena Delisa dan Ayahnya tak ada membedakan antara Majikan dan ART.


Manusia itu sama derajatnya di mata Tuhan makanya Delisa juga menghormati Buk Ina dan Pak Dadang yang lebih tua darinya, Delisa juga sudah menganggap Buk Ina Dan Pak Dadang seperti orang tuanya apalagi pasangan suami istri itu sudah puluhan tahun belum di karuniai Tuhan anak makanya Delisa meminta Buk Ina dan Pak Dadang menganggap dirinya seperti anak mereka.


Selesai makan Delisa akan berkunjung ke butiknya sekalian ingin melihat rancangan gaun pengantin pesanan Wulan sudah jadi apa belum di jahit oleh salah satu desiner yang bekerja di butik Delisa, Delisa mempekerjakan tiga desiner dibutiknya sedangkan dirinya hanya menjadi cadangan saja karena dirinya juga begitu sibuk dengan urusan yang lain.

__ADS_1


__ADS_2