
"Kamu pernah kesini?" tanya Oma Widia yang masih memperhatikan Delisa
"Iya Oma, dua tahun yang lalu bersama Kedua orang tua saya" jawab Delisa kembali memandangi Oma Widia
Tak lama makanan yang di pesan Oma Widia datang, Oma Widia memesan barbeque yang kemungkinan sudah hampir 3 Tahun Delisa tak pernah makan makanan itu dan terakhir kali saat Delisa dan Kedua orang tuanya masih memiliki segalanya.
Delisa menelan ludah berapa kali melihat hidangan di atas meja yang ada dihadapannya, Oma Widia tersenyum melihat tingkah Delisa dan bisa di tebak Oma Widia kemungkinan Delisa tidak pernah memakan makanan tersebut.
"Ayo, dimakan. Kenapa hanya di perhatikan" ujar Oma Widia mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya
Delisa pun ikut menyantap makanan itu namun baru berapa suap Delisa tiba-tiba meneteskan air mata dan berhenti memakan makanan itu, lahi-lagi Oma Widia di buat bingung oleh tingkah Delisa yang berubah-rubah.
"Kenapa?" tanya Oma Widia
"Saya teringat Ayah saya di rumah, Ayah saya pasti hanya makan lauk seadanya yang saya masak pagi tadi. Sedangkan saya disini makan makanan lezat" jelas Delisa tak ingin Oma Widia salah paham
"Ohh, nanti kita bungkus untuk Ayah kamu" kata Oma Widia menenangkan Delisa
"Benaran Oma?" tanya Delisa memastikan lagi
Oma Widia menjawab dengan anggukkan kepala, Oma Widia begitu senang melihat Delisa yang tak lupa dengan Ayahnya jika sedang memakan makanan lezat andai gadis lain kemungkinan hanya mementingkan isi oeeut sendiri.
Selesai makan seperti yang telah Oma Widia janjikan membungkus lauk untuk Ayahnya Delisa dan sekalian untuk makan malam mereka, namun Oma Widia belum mengajak Delisa beranjak dari situ karena Oma Widia ingin bertanya-tanya tentang kehidupan Delisa.
Oma Widia juga bisa menebak bahwa usia Delisa sepertinya seumuran dengan cucunya saat ini sedang duduk di bangku SMA, namun mengapa Delisa justru tidak sekolah dan pasti punya alasan tersendiri.
Setelah bertanya seperti itu, Delisa menjawab apa adanya dengan Oma Widia tentang dirinya yang berhenti sekolah dan kesulitan ekonomi bahkan keadaan Ayahnya juga tak luput Delisa ceritakan sampai air matanya yang dari tadi mengenang di kelopak matanya lolos juga.
__ADS_1
Oma Widia menjadi iba mendengar cerita kehidupan yang di jalani Delisa sekarang, andai gadis lain yang ada di posisi Delisa sekarang takkan bisa sanggup yang pasti lebih memilih jalan pintas agar bisa kembali menikmati dunia yang penuh sandiwara ini.
Sedangkan Delisa demi menyambung hidup rela putus sekolah dan menjadi buru cuci para tetangganya, padahal hasil dari melaundry itu tak seberapa namun Delisa tetap bersyukur apalagi ada Wulan juga yang sedikit membantunya dari hasil belahar bersama dan makanan yang sering di bawa Wulan.
"Ohh bagaimana kalo kamu kerja di rumah saya saja?" kata Oma Widia menawari Delisa pekerjaan
"Bekerja di rumah Oma, tapi Oma tau saya gak bisa meninggalkan Ayah saya di malam hari" jawab Delisa yang hanya bisa bekerja di siang hari
"Tenang kamu cukup bekerja dari pukul 8 pagi sampai 5 sore, bekerja khusus untuk saya. Di rumah sudah ada ART yang mengerjakan tugas masing-masing" jelas Oma Widia kepada Delisa
Delisa terdiam sejenak memikirkan tawaran pekerjaan dari Oma Widia, dirinya sebenarnga juga sudah mulai lelah membuka usaha laundry meski hasil lumayan namun cukup menguras tenaga jika banyak yang melaundry.
"Maaf Oma, kalo boleh saya tau gajinya berapa Oma?" tanya Delisa agak ragu karena langsung bertanya soal gaji
Oma Widia justru menanggapi pertanyaan Delisa dengan kekehan kecil, Oma Widia tau Deliaa bertanya seperti itu karena ingin mempertimbangkan pekerjaan yang ditawarinya barusan.
Lumayan besar bagi Delisa yang hanya lulus SMP meski dirinya juga belum tau pekerjaan apa yang akan dikerjakannya nanti, namun Delisa yakin pekerjaan ini tidak terlalu sulit karena di jelaskan Oma hanya khusus bekerja dengan Oma.
"Bisa gak Oma kalo gajinya saya minta perhari" kata Delisa meminta toleransi karena dirinya butuh untuk kehidupan sehari-harinya bersama Ayahnya
"Ohh baiklah" jawab Oma Widia.
Setelah lama berbincang Delisa pamit dengan Oma Widia ingin segera pulang karena takut Ayahnya menunggu ke pulangannya, apalagi tadi dirinya izin keluar sebentar untuk beli obat ini justru sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam.
Oma Widia menganggukkan kepalanya tanda menyetujui Delisa untuk pulang, Oma Widia juga ingin pulang ke rumah sekarang karena tadi juga keluar sebentar ini justru keluar lama gara-gara keasyikan ngobrol.
.
__ADS_1
.
Malam hari
Di rumah yang bak istana dari luar maupun dalam, para penghuninya sekarang sedang berkumpul di ruang makan dan setiap anggota keluarga duduk di kursi masing-masing yang seperti biasa sekarang ingin menyantap makan malam bersama.
Hening tak ada yang berani mengeluarkan suara jika sedang makan hanya terdengar dentingan sendok yang terkena permukaan piring, begitulah yang di ajarkan di keluarga besar Wijaya tata krama dan sopan santun proritas nomor satu.
Selesai makan mereka belum beranjak dari kursi makan meski semua hidangan di atas meja telah bersih di rapikan oleh para ART, Oma Widia ingin menyampaikan sesuatu dengan para anggota keluarga makanya mereka belum beranjak.
"Ada apa Ma?" tanya Wijaya kepada Mamanya yang sore tadi memberitahu ingin menyampaikan hal penting
"Tadi siang, Mama hampir kena copet beruntung ada anak muda yang membantu saya" kata Oma mulai bercerita tentang kejadian siang tadi
"Oma gak apa-apa kan?" tanya Nathan memegang tubuh Omanya takut ada luka
"Gak apa-apa, dan satu lagi karena anak muda itu sudah membantu saya. Jadi saya kasih dia pekerjaan tapi khusus untuk mengurus kebutuhan saya" kata Oma Widia
"Mengapa begitu Ma? Disini kan sudah banyak ART. Terus kalo mau balas budi cukup kasih uang" kata Nathalie (Mamanya Nathan) tak terima dengan keputusan Ibu mertuanya
"Kamu pikir anak muda itu gila uang, dia menolak. Dan dia lebih membutuhkan pekerjaan karena untuk biaya kehidupannya dengan Ayahnya" kata Oma Widia sedikit menaikkan notasi bicaranya
"Sudah sayang, keputusan Mama bagus kok. Dengan memberi dia pekerjaan kita sudah bisa balas budi dengannya yang sudah menolong Mama" kata Wijaya menengahi Istri dan Mamanya yang selalu beda pendapat.
Nathan yang mendengar hanya bisa diam tak bisa membantah keputusan orang yang paling tua di rumah ini, selesai bicara mereka semua baru beranjak dari kursi makan dan pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Nathan memilih langsung masuk kamar ingin segera beristirahat apalagi pulang sekolah tadi dirinya langsung syuting membuat tubuhnya begitu lelah, sembari berbaring Nathan kembali mengirim pesan dengan Delisa agar Delisa mau bertemu dengan dirinya walaupun hanya sebentar.
__ADS_1