
Hari ini pesta pernikahan Wulan dan Bima akan di gelar dan pagi-pagi Wulan sudah di sibukan oleh tukang make-up yang saat ini bergelut di sekitar wajah Wulan, beruntung semalam Wulan sekeluarga sudah menginap di hotel bintang 5 inI jadi tak perlu bersusah payah untuk mereka bersiap pagi ini.
Kedua orang tua Wulan sudah di rias oleh tukang make-up lain bahkan Mamanya sudah selesai berdandan yang kini kelihatan cantik seperti Wulan, setelah itu Winda memilih ke ruangqn dimana Anaknya yang saat ini masih di make-up.
Winda bahagia akhirnya anak semata wayangnya kini telah menemukan pasangan hidupnya, dan sebentar lagi anak semata wayangnya akan menjadi istri orang tentunya setelah menikah akan mengikuti suaminya kemanapun.
"Akhirnya selesai" kata Wulan yang begitu lelah terlalu lama duduk
"Masyaallah nak kamu cantik banget" kata Winda yang berdiri di samping Wulan
"Mama juga cantik" jawab Wulan sembari tersenyum memandangi pantulan dirinya di cermin
Saat ini Wulan masih memakai kebaya panjang berwarna putih milik Mamanya waktu menikah dengan Papanya namun kebayanya tetap masih bagus bahkan warnanya sedikitpun tidak pudar meski sudah puluhan tahun, selesai akad nikah baru Wulan akan memakai gaun pengantin yang di desain oleh Sahabatnya siapa lagi kalo bukan Delisa.
Membicarakan Delisa Wulan melihat jam yang ada di dinding pukul 8 kurang berapa menit namun Sahabatnya itu belum menampakkan diri padahal acara sebentar lagi akan di mulai, bahkan rombongan mempelai laki-laki sudah datang namun batang hidung Sahabatnya itu belum juga nampak.
"Pengantin wanita silahkan di bawah keluar, akad nikah akan segera di mulai" ucap MC pembawa acara setelah dapat perintah dari penghulu
Para tamu yang baru datang berhenti sejenak langkah mereka yang hendak masuk saat melihat mobil ferrari berwarna putih baru memasuki lobi hotel, padahal rombongan mempelai laki-laki sudah datang dari tadi dan mengunakan mobil-mobil mewah semua salah satunya ada mobil BMW tapi mengapa ini ada yang baru datang pikir mereka.
"Bell, bukannya itu mobil ferrari yang terparkir di depan butik kemarin ya" kata Sintya ketika baru tiba juga bersamaan dengan pemilik mobil ferrari
"Iya benar warna dan platnya Aku masih hapal" kata Jesica membenarkan perkataan Sintya
"Coba kita tunggu sebentar siapa pemilik mobil ferrari itu" kata Bella yang penasaran juga siapa pemilik mobil ferrari yang hanya ada satu di kota A ini
__ADS_1
Saat pintu terbuka satu kaki yang memakai heels tinggi yang keluar, Bella the gengs bisa menebak bahwa pemilik mobil ferrari adalah seorang perempuan namun siapa mereka masih bertanya-tanya.
Bella the gengs langsung membuka mulut mereka saat tau bahwa Delisa yang keluar dari mobil ferrari itu, yang semakin membuat mereka membuka mulut pria paruh baya yang juga turun dari mobil ferrari itu adalah Ayahnya Delisa yang kini bisa berjalan normal dan seingat mereka Ayahnya Delisa cacat.
"Bell, kita gak mimpikan" kata Sintya menyenggol lengan Bella sembari mencubit
"Aw.. Sakit tau gak" kata Bella merintih kesakitan akibat cubitan dari Sintya
"Kita benaran gak mimpi, jadi yang kita lihat barusan itu nyata" kata Jesica yang berusah mengucek kedua matanya
Bella the gengs buru-buru keluar dari mobil avanza milik Bella, mobil lama Bella di jual Bella gara-gara Bella terlalu banyak hutang di kartu kreditnya itu pun kenah amukan oleh Rani yang tau Anaknya banyak hutang dan Rani tak mau membantu apalagi sekarang perusahaan Bagas yang mengelolanya.
Jadi keluar masuk uang perusahaan Bagas harus tau, Bagas juga sempat marah mengetahui Bella banyak hutang karena sering foya-foya membeli barang-barang branded yang tak begitu manfaat dan di tambah sampai detik ini Bella tidak mau bekerja sama sekali padahal lulus dengan nilai yang bagus dan bahkan universitas yang bagus.
Namun entah mengapa Bella tak mau bekerja dengan alasan masih mau senang-senang menikmati masa muda, terus sampai kapan ingin bekerja menunggu menikah yang belum tentu Suaminya nanti mengizinkan bekerja.
Delisa mengapit tangan Ayahnya berjalan memasuki area hotel bintang lima yang dimana pesta pernikahan di gelar, semua mata tamu undangan memandangi Delisa dengan tatapan kagum saking Delisa begitu cantik dan anggun.
Semua yang langganan membeli dan memesan baju di butik milik Delisa tau pria paruh baya di samping Delisa adalah Ayahnya, namun sebagian yang tidak tau hanya bisa berkomentar bahwa Delisa menyukai pria tua yang pasti kaya raya.
Nathan yang tadi awalnya cuek saja dengan suara bisik-bisik para tamu undangan akhirnya menoleh ke belakang karena saat ini posisinya sedang duduk di belakang Bima sebagai pendamping Bima, Nathan terkejut bukan main melihat perempuan yang berjalan ke arahnya adalah pujaan hatinya yang dicarinya selama 7 tahun ini.
Delisa mengantar Ayahnya duduk di kursi paling depan dimana tempat duduk rombongan mempelai perempuan, setelah itu Delisa berjalan ke arah ruangan dimana Wulan berada yang saat ini belum keluar sama sekali.
"Ihh kok lama sekali kesini, MC udah nyuruh AKu keluar dari tadi" kata Wulan sedikit kesal melihat Sahabatnya baru datang
__ADS_1
"Sorry, Aku kesiangan" kata Delisa berbisik di telinga Wulan
Dengan reflek Wulan menampar lengan Delisa, bisa-bisanya Sahabatnya satu ini kesiangan di hari bahagianya padahal dirinya takkan keluar kalo bukan Sahabatnya yang menjadi pendampingnya serta yang membawanya ke depan pengantin pria.
Wulan pun akhirnya keluar dari ruangan tersebut dan berjalan beriringan dengan Delisa yang terus mengapit tangannya, Mamanya sebelah kiri sedangkan Delisa sebelah kanan dan Papanya sekarang sudah duduk di hadapan Bima yang sebentar lagi akan mengucapkan ijab kabul.
Tiba di depan penghulu dan Bima, Wulan segera duduk di samping Bima dan ternyata di belakang Bima ada Nathan membuat Delisa pura-pura tak tau karena dirinya belum sepenuhnya siap bertemu lagi dengan Nathan.
Delisa terpaksa duduk di belakang Wulan dan bersampingan dengan Nathan, Bella yang duduk tak jauh dari sana begitu geram melihat pemandangan didepannya padahal sebelumnya Bella sudah berusaha mendekati Wulan agar Wulan menjadikannya pendamping.
Namun ternyata di hari pernikahan Wulan dan Bima, Delisa malah muncul lagi entah kemana dirinya selama ini dan mengapa ketika Wulan dan Bima menikah harus kembali serta menjadi pendamping Wulan.
"Bagaimana para saksi" ucap Pak penghulu
*Sah...
Sah*...
"Alhamdulilah" ucap Semua orang yang ada disana
Wulan segera mencium punggung tangan Bima dan Bima mencium kening Wulan, mereka pun bergantian memasangkan cincin di jari manis mereka masing-masing.
"Sebentar lagi kita yang akan ada disitu" kata Nathan berbisik di daun telinga Delisa
Deg
__ADS_1
Jantung Delisa seperti berhenti berdetak mendengar perkataan Nathan barusan, bisa-bisa Nathan berbicara seperti itu tanpa melihat situasi dan keadaan.