Roda Kehidupan

Roda Kehidupan
Musibah 2


__ADS_3

"Baiklah sebelum acara penutupan, akan ada pembacaan puisi tentang GURU yang akan dibacakan oleh saudari kita yaitu Delisa Amalia" kata MC pembawa acara


Wulan yang mendengar itu langsung mencari Bu Nadia wali kelas mereka ingin memberitahu tentang Delisa, Wulan berjalan kearah barisan nomor dua dimana semua guru duduk disitu.


"Bu Nadia.." panggil Wulan sembari memengang pundak Bu Nadia


"Wulan ada apa?" tanya Bu Nadia langsung menoleh saat merasakan ada yang menyentuh pundaknya


Agar Bu Nadia mendengar semua penjelasan Wulan jadi dirinya memilih membisikkan di telinga Bu Nadia, Bu Nadia yang mendengar pun langsung membungkam mulutnya merasa kasihan dengan musibah yang menimpah Delisa barusan.


Bu Nadia pun berjalan menuju MC pembawa acara dan menyampaikan bahwa tak bisa melanjutkan pembacaan puisi tentang GURU karena yang akan membacanya berhalangan datang, MC pembawa acara menganggukkan kepala paham maksud Bu Nadia.


"Maaf sebelumnya, sepertinya pembacaan puisi tentang GURU dibatalkan karena yang membacanya sedang berhalangan hadir. Jadi acara selanjutnya penutupan dan setelah itu semua tamu yang hadir silahkan menikmati hidangan yang kami sediakan disini" jelas MC pembawa acara


Selesai acara para peninggi di kota A ini bersamaan dengan para guru dan para wali murid mulai mengantri untuk mengambil makanan yang terhidang di meja panjang yang ada di samping, setelah semua barulah para alumni kemudian dilanjut para adik kelas.


"Bel, bukannya tadi ada ya Delisa. Kok tiba-tiba ngilang ya kayak jelangkung" kata Jesica yang sempat melihat Delisa duduk di arah barisan kursi mereka tadi meski agak jauh


"Iya Gue tadi lihat dia, tapi biarin aja lah bukan urusan kita" jawab Bella memilih cuek


Sekarang semua yang ada di dalam gedung olahraga itu saat ini sedang menyantap dan menikmati hidangan yang di sediakan oleh pihak sekolah SMP Merdeka Mandiri.


Selesai makan para peninggi di kota A mulai pamit dengan para guru dan tentunya para guru tak lupa mengucapkan rasa terima kasih kepada para peninggi di kota A ini karena sudah berkenan hadir di acara perpisahan SMP Merdeka Mandiri ini.


Kemudian Bu Nadia memberitahu kepada para guru kabar musibah yang terjadi kepada Kedua orang tua Delisa, Semua guru pun berinisiatif setelah acara benar-benar selesai mereka semua akan mengunjungi rumah sakit yang merawat Kedua orang tua Delisa.


Wulan sedang berjalan ingin mendekati Mamanya tak sengaja berpapasan dengan Bella dan Mamanya Bella, Wulan pun langsung menghentikan langkahnya dan menoleh lalu mengejar Bella dan Mamanya Bella.

__ADS_1


"Maaf tante, ada yang mau saya sampaikan" kata Wulan yang bernisiatif memberitahu Mamanya Bella kabar Kedua orang tua Delisa karena Ayahnya Delisa saudara kandung Mamanya Bella


"Mau apa Lho sama nyokap Gue, kita mau pulang jangan menghadangi jalan kita" kata Bella marah karena jalannya dan Mamanya telah di hadang


"Sudah Bella, kita denger dulu dia mau menyampaikan apa" ujar Rani yang agak penasaran dengan apa yang ingin disampaikan teman satu sekolah Anaknya itu


"Kedua orang tua Delisa kecelakaan tante, sekarang di rawat di rumah sakit xxxxxx" jelas Wulan to the poin


Rani yang mendengar itu langsung terdiam dan memasang wajah terkejut, meski dirinya membenci Adik laki-laki tetap saja Dika adalah saudara kandungnya satu-satunya di dunia ini.


"Terus urusannya dengan kita apa?" kata Bella yang awalnya terkejut kemudian pura-pura biasa aja


"Bella, Gue udah tau semuanya tentang Lho dan Delisa yang sebenarnya saudara sepupu karena Delisa sudah menceritakan semuanya" kata Wulan kesal dengan tingkah Bella


Bella terdiam tak menyangka kalo Delisa akan mengakuinya sebagai saudara sepupu di depan Wulan, Bella pun menoleh ke arah Mamanya dan ternyata wajah Mamanya kelihatan begitu sedih mendengar berita musibah yang terjadi kepada pamannya.


Bella pun segera menarik tangan Mamanya berlalu dari hadapan Wulan, Rani yang dari tadi terdiam karena terkejut soal berita itu tadi langsung tersadar saat Anaknya menarik tangannya.


Acara pun akhirnya benar-benar selesai baik para guru dan para wali murid semuanya sudah pada keluar dari gedung olahraga itu, termaksud seluruh murid SMP Merdeka Mandiri baik dari kelas VII serta kelas VIII para alumni juga sudah bubar dari gedung olahraga dan mereka sudah sudah bersiap pulang ke rumah masing-masing.


Semua guru yang sudah berencana ingin ke rumah sakit tempat Kedua orang tua Delisa di rawat, begitu juga dengan Wulan dirinya mengajak Kedua orang tuanya untuk mampir sebentar di rumah sakit xxxxxx tempat Kedua orang tua Delisa di rawat.


.


.


Setengah jam kemudian

__ADS_1


Wulan berlari di koridor rumah sakit mencari ruangan tempat kedua orang tua Delisa di tangani oleh Dokter, tiba di depan sebuah ruangan Wulan melihat Delisa yang terduduk menangis sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan.


Wulan pun langsung menghamburkan pelukan di tubuh Delisa, Delisa dengan kedua mata yang sembab melihat siapa yang memeluknya dan ternyata itu adalah sahabatnya.


"Ibu dan Ayah ku kritis lan" kata Delisa dengan suara serak karena terlalu lama menangis membalas pelukan Wulan


"Sabar ya, kita berdoa semoga mereka tetap baik-baik saja" kata Wulan memberi semangat sembari mengelus punggung Delisa dan sesekali menyeka air matanya agar tak jatuh


Winda (Mamanya Wulan) ikut meneteskan air mata mendengar dan melihat keadaan Delisa, dirinya tak sanggup membayangkan bagaimana jika itu di posisi Wulan dan Winda pun langsung memeluk Suaminya sembari menangis serta perihatin dengan musibah yang menimpah Delisa.


Semua guru yang baru datang pun ikut sedih melihat keadaan Delisa, bahkan terlihat dari pintu kaca Kedua orang tua Delisa sepertinya mengalami kecelakaan yang luar biasa.


"Administrasi sudah di bayar?" tanya Dodi (Papanya Wulan) kepada Delisa yang sekarang agak sedikit reda menagis


"Udah om" jawab Delisa singkat jelas dan padat


Delisa sedikit beruntung Ibunya pernah memberikan sebuah kartu ATM yang ternyata isi saldonya sangat banyak bagi Delisa, dan separoh telah di pakai untuk biaya rumah sakit tempat Kedua orang tuanya di rawat.


Sebelum semuanya pamit para guru memberikan sebuah amplop yang berisi uang kepada Delisa agar uang itu bisa sedikit membantu Delisa, uang yang sudah mereka kumpulkan sebelum ke rumah sakit tadi.


Setelah kepergian para guru, Kedua orang tua Wulan juga memberikan sebuah cek kepada Delisa yang sudah di tulis oleh Papanya Wulan dan tentunya jumlah uang yang tertulis itu lebih banyak dari pemberian para guru.


"Terima kasih om tante Wulan" kata Delisa setelah menerima sebuah cek itu


"Sama-sama, kita pamit ya udah agak sore. Entar kita kesini lagi kalo ada waktu" kata Winda sembari mengelus pundak Delisa


"Iya tante, hati-hati di jalan" ujar Delisa berusaha tersenyum

__ADS_1


Dan kini tinggal Delisa sendirian yang masih menunggu di depan ruangan Kedua orang tuanya, setelah kepergian semua orang Delisa memilih ke sebuah bank yang tak jauh dari rumah sakit hanya terletak di seberang jalan.


Delisa ingin menyimpan uang pemberian para guru dan Kedua orang tua Wulan tadi agar lebih aman jika berada di dalam tabungannya, selesai semua Delisa mampir sebentar ke kantin rumah sakit karena dirinya memang belum mengisi perutnya dari tadi bahkan terakhir kali di isi sebelum dirinya berangkat ke sekolah tadi.


__ADS_2