
“Apa yang sedang mereka cari disini… itu adalah pertanyaan yang harus kita ketahui jawabanya No”
“Ingat yang dikatakan pak Wayan, ada harta yang tiba-tiba muncul begitu saja dan katanya berasal dari masa kerajaan di masa lalu nya”
“Tapi setelah mendengar omongan dari Komang dan Gusta. Aku merasa ada yang masih disembunyikan oleh pak Wayan Di, kurasa pak Wayan sendiri tidak jujur dengan kita..”
“Terus apa yang harus kita lakukan sekarang No, apa kamu akan minta pak Wayan untuk terus terang apa yang ada disana, dan kenapa penduduk desa menginginkan harta itu?”
“Aku nggak tau Di, aku harus bicara apa dengan pak Wayan soal ini, aku belum punya ide”
Kami masih di sisi hutan sambil berjalan kembali ke puri pak Wayan, rasanya semua ini janggal dan ada bagian yang kami tidak pahami.
Otakku sudah lelah, lebih baik kami pulang saja, dari pada berpikir yang tidak-tidak, tapi tiba-tiba aku nggak sengaja melihat sesosok orang yang sedang berjalan di tengah hutan…
“Merunduk Di!” kutarik Sumadi agar merunduk
“Ssst diam Di, lihat di dalam hutan sana itu… ada orang yang sedang jalan”
“Mana No….?” bisik Sumadi
“Itu disana, lihat ada bayangan orang yang sedang jalan, dia menuju ke arah desa”
“Iya… siapa ya orang yang berani jalan di tengah hutan sendirian seperti itu No?”
“Ingat tadi apa yang dikatakan Gusta kepada Komang Di?”
“Tentang Agus yang akan menuju ke sini itu ya No?”
“Iya Di, jangan-jangan itu Agus yang sedang jalan ke sini”
“Iya aku yakin itu Agus, dari cara jalannya yang membungkuk dan pelan, aku yakin itu adalah Agus, coba kamu perhatikan dari cara dia jalan Di”
“Benar katamu, kayaknya itu Agus, apa yang akan kita lakukan No”
“Kita ikuti kemana dia pergi, ingat kita tidak berdua saja, kita dilindungi oleh celuluk dan Rangda yang dari tadi masih doyan melihat cincin kita Di. tapi terserah kamu, kamu mau ikut aku, atau kamu ke puri untuk melaporkan bahwa ada Agus yang datang ke sini Di”
“Jangan lapor ke pak Wayan dulu, kita ikuti saja kemana si Agus itu”
Orang di tengah hutan yang mirip dengan Agus itu sangat santai cara jalannya, dan yang bikin aku heran, dia kayaknya sama sekali tidak khawatir dengan mahluk ghaib penghuni hutan ini.
__ADS_1
Kalau orang normal seperti kami berdua, pasti akan ketakutan ketika harus jalan di tengah hutan dengan mahluk macam celuluk dan Rangda yang menguasai hutan ini.
Aku yakin si Agus punya sesuatu untuk menaklukan dua mahluk ghaib penghuni desa ini. Langkah Agus sangat santai dengan kepala melihat kedepan, tanpa melihat ke arah tanah sama sekali.
“Dia pasti memiliki sesuatu, sehingga dia sama sekali tidak takut berjalan di tengah hutan No” bisik Sumadi
“Iya, beda dengan Gusta dan Gustin yang nampak ketakutan Di”
“Kita tunggu hingga dia aga jauh, kemudian baru kita ikuti dia Di”
Kami mengikuti Agus perlahan-lahan, setelah yakin Agus sudah cukup jauh melewati kami, dia berjalan dengan sangat tenang dengan kepala selalu menghadap ke depan, seolah tidak ada yang lebih penting dari pada melihat ke arah depan saja!
Dia terus jalan dengan pelan dan badan yang agak membungkuk, seperti kalau kita sedang membawa beban berat di punggung kita.
“Sebentar lagi dia akan keluar dari hutan, dan pastinya menuju ke warung sana itu No”
“Tapi di warung itu apa masih ada mereka? Bukanya tadi mereka lari karena melihat celuluk yang datang bersama kamu No?”
“Wah mbuh maneh Di, ayo kita dekati saja… itu si Agus sudah keluar dari hutan, dan sekarang menuju ke warung. Eh kayaknya di warung itu masih ada yang sedang nongkrong”
Aku dan Sumadi berusaha sedekat mungkin dengan posisi warung, tapi sayangnya kami tidak bisa sedekat ketika aku mendengarkan pembicaraan antara Komang dan Gusta.
“Gimana kok sampai Hasto mati?” tanya Agus ketika sudah sampai di warung
“Saya juga tidak tau pak…. Tau tau leher dia berdarah dan kemudian dia mati, tapi mayat dia hilang!”
“Goblok….!”
PLAK…!!!!
Tamparan Agus mendarat di pipi Gusta
Aku bingung, sebenarnya ini bagaimana, kenapa Gusta bicara dengan Agus seperti seorang bawahan bicara kepada atasannya, dan dengan kejamnya Agus mengatai anaknya dan menamparnya juga!
Sebenarnya siapa si Agus ini, gak mungkin seandainya seorang ayah bersikap kejam seperti itu.
“IYA HASTO HILANG KARENA SAYA TARIK KE MASA KITA…!” teriak Agus
“Dia belum mati dan akan kesini secepatnya!”
__ADS_1
“Sekarang apa yang kamu dapat selama disini, apa kamu sudah bisa mendekati rumah itu!?”
“Belum, karena kami dihalangi oleh dua bapak-bapak yang menginap di hotel C itu” jawab Gusta tapi suaranya kayak suara seseorang yang ketakutan
“GOBLOK….! Masak sama dua orang tua seperti itu kalian tidak pernah bisa berhasil sama sekali!”
“Apa gunanya kekuatan kamu yang mengerikan itu, ditambah kekuatan Gustin, dan kekuatan si Hasto! Kalian bertiga sama sekali tidak ada gunanya!”
“Maaf pak. Disini kekuatan kami tidak bisa digunakan sama sekali, sepertinya kekuatan kami hilang!”
“Heh tolong ya kalau goblok itu jangan pakek tolol!..... Saya bilang berkali-kali sebelum kalian saya kirim ke sini…JAWAB SAYA BILANG APA KEPADA KALIAN!” bentak Agus
“Eh kami harus berbuat dosa pak” jawab Gusta dan Gustin bebarengan
“YA!..... APAKAH SUDAH KALIAN LAKUKAN?!!!!” teriak Agus
“Belum pak. Eh saya tidak bisa pak. Gustin adalah adik saya, saya tidak bisa melakukan pada adik sendiri pak”
“KAMU INI SUDAH GOBLOK JUGA TOLOL!…. KALIAN MASUK KE SINI TANPA PUNYA KEKUATAN SAMA SEKALI…. APA ITU NAMANYA BUKAN BUNUH DIRI!”
“Berarti selama ini…selama beberapa kali kalian kesini kalian dalam keadaan kosong!”
Tidak ada jawaban sama sekali dari Gustin maupun Gusta, atau juga beberapa pemuda yang ada disana.
Aneh…sangat aneh, kenapa Agus begitu teganya menyuruh kedua anaknya untuk berbuat dosa. Apakah Agus tidak berpikir bahwa Gustin dan Gusta itu anaknya.
Keadaan di warung itu sangat sepi, Agus berdiri membelakangi kami, sehingga aku tidak bisa melihat bagaimana wajah orang yang dengan kejam menyuruh kedua anak itu untuk berbuat dosa.
“JAWAB PERTANYAAN SAYA GOBLOK!”
“I..iya, maafkan saya dan adik saya pak”
“Sediakan saya tempat untuk istirahat dan menyendiri!.... Saya capek sekali!” kata Agus tiba-tiba entah kepada siapa dia bicara
Tidak ada yang menjawab, hanya ada satu orang pemuda disana yang kemudian membukakan pintu warung dan menyuruh Agus untuk masuk ke dalam.
Agus berjalan ke arah pintu warung yang dibukakan oleh salah satu pemuda yang ada disana, tetapi tiba-tiba Agus menoleh ke arah kami berdua.
Dia terus memandang kami, hanya beberapa saat kemudian dia berjalan masuk ke dalam warung.
__ADS_1