Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 96. KAMU TIDAK AKAN KEMBALI


__ADS_3

“Percuma, temanmu itu sudah tidak ada, kamu di masa ini bukan mahluk ghaib yang menakutkan, kamu sudah menjadi manusia biasa”


“Disini bukan daerah kekuasaanmu yang bisa bebas kamu mau melakukan apa saja, disini kamu hanya orang biasa yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa”


“Iya benar, dan bisa saja bapakmu mengirim kamu ke sini sekaligus bersama raga kasarmu juga, kamu sekarang terjebak disini, dan tidak akan bisa kembali ke asalmu!” bentak Sumadi


“Kami sudah tau rencana bapakmu, rencana jahat sebelum kalian berdua berumur 17 tahun, sebelum kamu Gusta meninggal!”


“Kalian dimanfaatkan bapakmu untuk mencuri harta selagi masih ada pengawalmu dan masih ada kamu Gusta, karena setelah umur 17 tahun arwahmu akan melebur menjadi satu dengan Gustin, dan pada saat itu Gustin harus kembali ke tempat dimana dia seharusnya!”


Kedua anak itu menoleh ke arahku, Tidak ada jawaban sama sekali dari kedua anak yang sedang meratapi pengawalnya.


Aku tau mereka pasti tidak menyangka bahwa keadaan akan menjadi seperti ini, jadi sekalian aja aja aku buka borok dari ayahnya, terserah mereka akan percaya atau tidak.


“Gusta dan Gustin, kamu harus nurut sama ibumu, kasihan ibumu, dia tidak tau apa kegiatan kalian diluar raga kasar kalian” tambah Sumadi


“Sekarang terserah kalian, kalian ada di daerah asing yang kalian sendiri tidak tau adatnya disini, sedangkan kami adalah tamu kehormatan disini, jadi selamat bersenang-senang, saya dan Sumadi akan kembali ke tempat kami”


“Ayo Di, kita pulang, aku rasa mereka berdua tidak akan bisa apa-apa disini”


Kami jalan pulang ke puri pak Wayan, lagi-lagi sosok mengerikan yang selalu melihat cincin pemberian pak Wayan masih mengikuti kami. Sedangkan si Gusta dan Gustin masih berusaha membangunkan yang mereka panggil dengan Hasto.


Kami biarkan mereka disana, agar mereka tau bahwa kami tidak main-main dengan mereka berdua.


“Pak Paino tunggu….!” teriak suara perempuan


“No, itu Gustin memanggil kita”


“Terus gimana Di, gak mungkin mereka kita ajak ke puri pak Wayan” kuhentikan langkahku sejenak


“Ada apa lagi Gustin, kamu belum puas bikin saya dan Sumadi tersiksa seperti ini?”


“Sudah, urus saja hidup kalian dan ingat, kalian bukan apa-apa disini, kalian tidak punya kekuasaan dan tidak akan bisa memiliki kekuatan disini”


“Ayo Di kita pergi sini saja…”


“Apa kita biarkan kedua anak itu No”

__ADS_1


“Iya biar saja semalaman disini, biar mereka tau bahwa bukan apa-apa disini, mereka cuma dua anak kecil yang tersesat dan mungkin tidak bisa pulang, tapi nggak tau juga kalau si Agus akan memulangkan mereka”


“Kita jalan perlahan saja No, siapa tau si Gustin akan menyusul kita”


Hehehe baru juga beberapa belas langkah, di belakangku sudah terdengar suara langkah sepasang kaki yang mengejar aku dan Sumadi.


“Tunggu pak Sumadi dan pak Paino… “ teriak Gustin


“Ada apa lagi Gustin, kamu kurang puas dengan kelakuanmu dan kakakmu itu?”


“Tidak pak, saya sebenarnya tidak pernah bermaksud menyakiti bapak-bapak ini. Nanti akan saya ceritakan apa sebenarnya yang terjadi dengan kami pak…Gustin dan mas Gusta terpaksa pak!” suara Gustin ketakuan


“Kami terpaksa dengan ancaman apabila tidak kami lakukan maka ibu akan disakiti oleh bapak saya”


“Sudah gak usah cerita, nanti saja ceritanya, sekarang saya dan Sumadi mau istirahat. Kami capek sekali setelah menghindari diri kami dari kalian berdua!”


“Tolong dengarkan cerita Gustin dulu pak Paino.. Gustin bingung mau kemana!”


“Kalian kan tinggal minta jemput bapak kalian saja kan, dan selesai. Kenapa harus bingung?”


“Bukan gitu pak, Gustin dan Gusta tidak akan dijemput sebelum mendapatkan apa yang ayah saya minta” rengek Gustin


“Gustin tidak tau harus apa, Hasto yang seharusnya tidak bisa mati, ternyata disini dia bisa mati, sekarang kami tidak bisa berbuat apa-apa pak”


“Ya sudah sekarang rasakan apa yang pernah saya dan Sumadi rasakan, apalagi  kakakmu itu yang sangat tidak punya sopan santun terhadap orang tua!”


“Ayo kita pulang Di, kayaknya urusan kita sudah selesai!”


“Belum pak, urusan kalian masih panjang, karena ayah saya sedang menunggu kalian berdua”


“Dia akan membunuh pak Paino dan pak Sumadi sebagai persembahan nyawa kepada setan yang sekarang dia ikuti”


“Pak Sumadi dan pak Paino sudah ditunggu ayah saya dan pesuruhnya ketika kalian kembali ke masa depan” tambah Gustin


“Gustin rasa disini Gustin sudah jauh dari ayah Gustin. Dari lubuk hati Gusti, Gustin tidak pernah suka dengan yang dilakukan oleh ayah Gustin, tapi kami berdua ini diancam”


“Kasihan ibu Gustin yang tidak tau apa-apa, ibu Gustin hanya taunya bahwa ayah Gustin sedang berusaha menyembuhkan Gustin dan mas Gusta, udah itu saja pak”

__ADS_1


“GUSTIN… TUBUH HASTO HILANG!” teriak Gusta dari kejauhan


Gustin lari menghampiri kembaranya yang berkata bahwa tubuh pengawalnya hilang.  Aku dan Sumadi masih bingung dengan kata-kata yang bernada ancaman dari Gustin.


Artinya Agus tau kalau kita ada disini, dan dia sedang menunggu kami berdua untuk dihabisi ketika kami kembali ke dunia kami.


Sejenak aku diam, pikiranku buntu, aku bingung apa yang harus kami lakukan dengan ancaman Agus itu.


Sekarang kedua anak berusia 15 tahun itu sedang bingung, tubuh Hasto hilang, aku sih nggak peduli dengan  mereka, hanya saja aku masih kepikiran dengan perkataan Gustin tadi.


“Kita hampiri dua anak itu dulu Di, hidup kita masih belum aman kayaknya Di”


Kudatangi kedua anak yang masih bersimpun di depan tanah kosong, tanah yang sebelumnya ada si Hasto yang lenyap tiba-tiba


Aku tidak menyapa dan berkata apapun, hanya melihat saja kemudian aku kasih kode Sumadi untuk pergi dari sini.


“Gimana menurutmu DI?”


“Menurutku apa No, aku aja masih bingung dengan omongan si Gustin tadi”


“Kita bicara sama pak Wayan saja DI, kita sekarang ada di alam yang tidak bisa dipikir dengan pikiran kita, kita harus minta bantuan ke seseorang yang paham dengan ginian”


Kutinggalkan dua anak yang masih bingung karena jagoannya sudah tidak ada di depan mereka, kita akan diskusikan apa yang tadi dibicarakan dengan pak Wayan.


“No kamu merasa nggak, kalau nanti Agus akan datang ke sini?”


“Iya DI, tapi aku juga berpikir seperti itu, tapi aku rasa dia nggak akan datang ke sini karena seumpama dia ada disini, maka dia akan menjadi manusia biasa seperti kita”


“Mangkanya tadi Gustin bilang kalau Agus menunggu kita di alam sana”


Kami berdua sudah dekat dengan puri pak Wayan, pak Ketut sedang menunggu kami di depan pintu gerbang.


“Bagaimana urusannya pak Paino, apa sudah selesai?” tanya pak Ketut.


“Saya tidak tau pak Ketut, karena mereka masih ada disana, dan tentu saja saya tidak akan mengajak mereka kesini kan pak Ketut”


“Eh pak Ketut, kalau dua anak itu ada di tengah hutan, apa yang akan terjadi dengan mereka berdua pak?”

__ADS_1


“Hehehe mereka akan dibunuh oleh Rangda dan anak buahnya pak Paino…”


“Waduhh, apa tidak ada jalan lain agar kedua anak itu tetap hidup dan tidak dibunuh oleh  penunggu hutan itu pak?”


__ADS_2