
“Nanti saja lihatnya Di, mataku masih kurang enak kalau harus lihat sesuatu yang bergerak”
“Jadi masih ada seperti bayangan yang mengikuti sesuatu yang bergerak dari apa yang aku lihat Di”
“Ya sudah No, aku akan teliti dan edit lagi yang semalam kita dapat, setelah itu aku mau bikin email ke lolokcicing dulu saja. Sementara itu kamu istirahatkan tubuhmu dulu hingga kamu benar-benar sehat”
“Biarkan aku kerjakan dulu apa yang kita dapat” kata Sumadi
Sumadi berbicara tanpa melihat ke arahku, dia bicara dengan memunggungiku, dan itu bukan hal yang biasa dia lakukan.
Ada yang bukan kebiasaan dari Sumadi, nada bicara dan intonasi dia beda dengan biasanya, ada semacam kegundahan dari nada bicara yang barusan aku dengar.
Apakah Sumadi seperti ini karena setelah mendapatkan penjelasan dari anak kembar tadi, atau memang keadaan dia seperti ini akibat dari tubuh tak kasat matanya yang mati. Dan darah yang mengalir adalah darah orang mati?
“Di, kamu nggak papa ta?”
“Nggak papa kok No, memangnya ada apa?”
“Anu Di, tentang perkataan anak tadi itu lho”
“Ndak papa kok No, tenang aja, aku anggap omongan anak itu hanya selingan di antara kerjaan kita yang tidak karuan ini”
“Ya sudah Di, tapi ingat apabila kamu merasa ada yang aneh dengan dirimu, segera bicara dengan aku ya, jangan kamu pendam sendiri”
“Iya No…iya…. Sekarang biarkan aku cek handycam dan semua alat perekam ini. Kamu istirahat saja sampai keadaanmu pulih lagi”
Tidak….
Ada yang tidak semestinya pada diri Sumadi, aku bisa merasakan adanya perubahan, tapi aku belum tau perubahan apa yang ada pada dirinya itu.
Aku sudah bertahun tahun kenal dengan Sumadi, aku tau apabila ada perubahan atau semacamnya pada diri Sumadi.
Aku harus perhatikan keadaan dia secara lebih intens lagi, aku harus tau sedikit perubahan yang ada pada dirinya, dari pada nanti ada apa-apa dengan Sumadi.
Dan apabila ada sedikit perubahan pada diri Sumadi apa yang harus aku lakukan, apakah aku ke dokter yang diinfo lolokcicing atau aku harus hubungi dua anak kembar itu?”
Untuk amannya aku hubungi kedua anak kembar itu saja, dari pada banyak pertanyaan apabila aku ke tempat yang diinfokan oleh lolokcicing.
Untuk saat ini aku lebih baik istirahat saja, harus ada satu orang yang sehat, jangan sampai dua orang yang tumbang semua.
Kubaringkan tubuhku di tempat tidur hotel, hembusan ac kamar membuat aku semakin ngantuk…..
*****
Tiba-tiba aku terbangun dengan sendirinya….
Aku buka mataku lebar-lebar seolah aku sudah tidur berjam jam lamanya.
__ADS_1
Tidak ada yang membangunkan aku, biasanya Sumadi selalu membangunkan aku kalau aku terlalu lama tidur.
Aku masih ada di tempat tidur, mataku terbuka melihat ke langit langit kamar, aku masih mencoba untuk mengfokuskan penglihatanku pada langit-langit kamar.
Ternyata penglihatanku sudah benar-benar kembali kepada keadaan semula. Jadi nanti malam kami bisa lakukan eksplorasi malam ke tiga.
“Di, Sumadi… mataku sudah bisa lihat dengan sempurna”
Hening….
Tidak ada sahutan dari sama sekali dari congor Sumadi, tidak ada jawaban seperti biasanya….
“Di, kamu ngapain sih kok diem aja” aku masih menatap langit-langit hotel
Kutoleh ke arah meja hotel, ternyata Sumadi tidak sedang kerja… kemudian kutoleh ke arah tempat tidur sebelahku….
Kosong juga….!
Laptop dalam keadaan terbuka, yang artinya harusnya dia sedang kerja di depan laptop. Tempat tidur di sebelahku pun kosong, lalu dimana Sumadi.
Aku beranjak dari tempat tidur kemudian aku lihat kamar mandi yang ada di sebelah ujung kanan….Pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka, dan Sumadi tidak ada di dalamnya.
Aku duduk di depan meja kerja, aku lihat layar laptop itu dalam keadaan pause yang sedang mengetengahkan hasil dari rekaman video semalam.
Kubiarkan saja layar laptop itu seperti itu, karena siapa tau sedang dalam proses edit oleh Sumadi.
Aku berjalan ke pintu kamar hotel, kemudian aku buka pintu kamar hotel, ternyata di luar sepi.
Aku hanya berdiri di depan pintu kamar yang dalam keadaan terbuka. Jarakku dengan kusen dan daun pintu kamar hanya sekitar tiga puluh centimeter saja di belakangku
Setelah aku yakin Sumadi tidak ada di depan kamar hotel, aku kembali masuk ke kamar dengan jalan mundur beberapa langkah saja.
Pintu kamar kututup agar udara dingin yang berasal dari hembusan AC kamar tidak keluar, tangan kananku memegang handle pintu, kutarik pelan-pelan pintu kamar.
KLEK….
“Lho No…..kamu dari mana!” kata suara milik Sumadi yang terdengar berasal dari belakangku
Aku diam…
Kaget dan bingung…
“No…kamu dari mana… kok aku nggak tau kamu tadi keluar kamar?” kata suara milik Sumadi lagi
Kubalik tubuhku yang tadi membelakangi meja kerja, tempat tidur dan semua yang ada di kamar hotel.
Sumadi ada di tempat tidurnya…….
__ADS_1
Dia dalam keadaan terbaring di tempat tidurnya…..
Sumadi dalam keadaan telentang dan memejamkan mata….
Beberapa lalat hijau hinggap dan berterbangan di sekitar tubuh Sumadi yang kelihatan lebih gemuk daripada biasanya.
Kulit wajah Sumadi sebagian sudah pecah dan berwarna kehitaman.
Siapa tadi yang berbicara denganku…… Sumadi?
Kulihat meja kerja, laptop masih terbuka dan dalam keadaan layarnya nyala… seperti tadi ketika aku lihat.
Aku tidak berani bergerak dari sisi pintu sama sekali….
Samar-samar aku mulai mencium bau busuk……
Bulu kudukku mulai merinding, ketika aku lihat lantai keramik kamar sebelah tempat tidur Sumadi ada semacam cairan yang berwarna bening kekuningan dan agak kental.
Cairan itu menetes dari kasur tempat Sumadi terbaring.
“No, kamu dari mana, kenapa kamu nggak ngajak aku kalau kamu keluar No!”
Kali ketiga aku mendengar suara yang berasal dari tubuh Sumadi yang terbaring di atas tempat tidur dengan lalat hijau yang hinggap dan berterbangan di sekitarnya.
Tapi untuk kali ini suara itu kedengaranya lebih lambat dan intonasinya datar!
Aku sama sekali tidak berani bergerak dari sisi pintu, kakiku rasanya seperti lumpuh, otakku berkata segera melangkah dan pergi dari sini wahai kaki.
Tapi kakiku masa bodoh dengan perintah otakku, dia tidak mau bergerak satu sentimeter pun dari tempat aku berpijak!
Keringat dingin mulai membasahi ubun-ubun dan tubuhku. Detak jantungku berpacu semakin cepat, aku mulai merasa kehilangan akal sehat.
Aku ingin teriak, tetapi tenggorokanku rasanya seperti ada yang menghambat, seperti ada benda besar di dalam tenggorokan yang membuat aku tidak bisa teriak sama sekali.
“No… sudah jam berapa ini, kenapa kamu tidak membangunkan aku No”
Suara itu… suara itu terdengar lagi dengan nada yang datar dan intonasi seperti sebelumnya…..
Aku semakin ketakutan.. Leher dan kepalaku seperti kesemutan dan ingin kuteriak…..
Kupaksa untuk teriak…. Kupaksa… kupaksa terus….INGIN KUTERIAAAAAK!
“TEMPPPPPPEEE………KKKHHHH! ……”
“AAAAAAHHHHHHHHH…. TOLOOOONG…..”
Mataku berkunang-kunang dan aku mulai kehilangan kesadaran
__ADS_1
“Woooii Nooooo bangun Noooooo banguuuun!” teriak suara yang aku kenal
“BANGUUUUN NO!... SIANG SIANG KAMU MIMPI APA C*K!”