
“Gimana Di, apa yang kamu dapat dari alat perekam dan video yang kemarin malam”
“Besok aja kamu lihatnya No, sekarang lagi aku edit, dan aku atur agar lihatnya lebih enak, apalagi ketika kamu merasa dingin dan ada sesuatu yang sedang menjalar di tubuhmu itu”
“Eh Di, kita saat ini kan baru juga sampai di ruang keluarga, kita belum eksplorasi ke ruang bawah tanah yang gelap itu. Tapi gangguan yang kita hadapi sudah luar biasa, apa pendapatmu tentang hal ini Di”
“Tetap sesuai komitmen pekerjaan No, kita sudah menerima pekerjaan ini dengan resiko yang tentu saja kita tidak tau. Ya ini resiko pekerjaan yang sedang kita geluti, mau suka nggak suka ya tetap kita lakukan”
“Maksudku gini Di, apakah kita tidak minta bantuan kepada yang ahli dibidang ini?”
“Nggak usah No, ciri dan keunikan kita itu ya disitu, kita tidak pernah minta bantuan kepada siapapun. Karena kita tidak menyakiti makhluk halus, kita malah berusaha untuk berteman dengan mereka, kita berusaha membaur dan merasakan adanya mereka”
“Kalau kita meminta bantuan orang lain, maka otomatis orang itu akan melakukan sesuatu terhadap mahluk halus yang ada di sana, dan itu yang akan membuat mereka marah”
“Pokoknya jangan mengganggu kalau tidak ingin diganggu hehehe” kata Sumadi dengan meyakinkan
“No, editnya lanjut besok aja ya, aku ngantuk sekali, badanku rasanya sudah minta untuk istirahat”
“Ya uwis to Di, kan kamu dewe yang minta kerjakan malam-malam gini hahaha”
Kenapa dari tadi aku ajak Sumadi bicara, karena aku merasa malam ini ada yang aneh, selain kamar yang terasa suram, aku merasa saat ini kamar ini tidak seperti biasanya.
Tapi sekarang Sumadi minta istirahat, dia memang jarang sekali tidur, justru aku yang lebih sering tidur daripada Sumadi.
Lima belas menit berlalu, dan suara ngorok Sumadi sudah membahana, sekarang tinggal aku yang masih terjaga dan sama sekali tidak ada rasa kantuk!.
Terus terang aku ini agak takut kalau harus tidur, karena selama disini aku selalu bermimpi buruk, mimpi tentang kematian Sumadi.
Makanya aku nggak semudah itu bisa tidur disini…
Hhhmmmm kajeng kliwon, dari yang aku baca di google agak mengerikan juga, tapi seharusnya masyarakat disini sudah terbiasa dengan kajeng kliwon.
Coba kalau aku ada teman dari daerah ini, aku pasti akan tau apa saja yang harus aku lakukan agar tidak membuat marah wong samar yang ada di rumah itu.
Ya orang-orang disini menyebut makhluk tak kasat mata itu dengan sebutan wong samar.
Aku jelas nggak bisa tidur ini, lebih baik aku duduk-duduk di kursi teras hotel saja, sambil menikmati malam hingga aku ngantuk dengan sendirinya.
*****
__ADS_1
Suasana di teras hotel begitu nyaman, apalagi kadang aku masih mencium ada aroma dupa disekitar sini, mungkin bekas asap dupa yang menempel, selain itu aku juga mencium bau seperti minyak wangi… eh minyak wangi macam yang biasanya digunakan untuk sesembahan banten.
“Selamat malam pak Paino, belum tidur pak?” sapa petugas hotel yang biasanya aku panggil dengan nama mas Nyoman..
“Ah selamat malam juga mas Nyoman, saya nggak bisa tidur mas, sedangkan teman saya dari tadi sudah ngorok mas hahaha”
“Mas Nyoman sendiri sedang apa mas?”
“Saya sedang jalan cek lingkungan dan kamar saja pak, bagaimana pak ada yang bisa saya bantu pak Paino?”
Aku berdiri dari kursi teras, dan menghampiri mas Nyoman yang ada di jalan jalan depan kamar.
“Mas Nyoman, apa benar hari ini adalah kajeng kliwon?”
“Benar pak, memangnya ada apa pak Paino?”
“Nggak papa mas, saya hanya pengen tau apa itu kajeng kliwon mas”
“Saya kan orang jawa jadi saya kurang paham. Tadi saya lihat di Padmasana itu penuh dengan banten, makanya kemudian Sumadi tanya ke resepsionis, dan katanya sekarang sedang kajeng kliwon”
“Waduh kalau dijelaskan mendetail sulit pak heheh, tapi gini aja pak Paino, kajeng kliwon itu hari keramat yang ada tiap lima belas hari sekali, pada waktu purnama, bulan mati, dan ada lagi setiap enam bulan sekali”
“apalagi ditambah dengan adanya orang yang menekuni ilmu hitam atau pengleakan, pengleakan atau istilahnya tenung itu akan dilakukan pada waktu kajeng kliwon pak”
“Maka dari itu salah satu cara untuk menghindari itu yaitu selain dengan cara berdoa, meditasi, ya dengan pemberian banten itu pak”
“Intinya, kajeng kliwon itu hari yang penuh dengan energi magis dan spiritual bagi yang mempercayainya pak, dan tidak disarankan untuk mendatangi tempat-tempat yang tidak aman seperti kuburan atau setra pak”
“Hmm begitu ya mas Nyoman, ya sudah mas terima kasih atas penjelasannya, saya rasa saya juga harus banyak berdoa ya mas”
“Betul pak Paino, kalau begitu saya balik ke kantor hotel pak… selamat malam pak Paino”
Setelah penjelasan sedikit namun cukup bisa dipahami tentang apa itu kajeng Kliwon, aku kembali masuk ke dalam kamar. Aku lihat Sumadi sedang tidur dengan pulas.
Aku duduk di pinggir tempat tidur, dan berpikir hubungan antara kajeng kliwon dengan apa yang aku dan Paino dapatkan di pinggir pantai tadi itu, semacam energi yang perlahan-lahan membuat hangat badanku.
Selain itu aku juga merasakan adanya peningkatan semangat, selain itu tidak tau apa lagi, aku nggak bisa mendeskripsikan apa yang ada di dalam tubuhku, pokoknya ada perubahan yang terjadi di dalam tubuhku.
*****
__ADS_1
“No.. bangun…. Sudah jam enam pagi ini, sebentar lagi Gusta dan Gustin akan kirim makanan ke sini”
“Huaaahhmm….kamu bangun jam berapa tadi Di?”
“Jam lima tadi, kemudian aku sholat subuh dulu, dari hotel ini kita masih bisa dengar adzan subuh kok , meskipun hanya samar-samar saja”
Aku duduk di pinggir tempat tidur… sedangkan Sumadi sudah menyalakan komputer, dia sudah siap untuk editing lagi.
Kulihat wajah Sumadi berbeda dengan kemarin, saat ini dia lebih cerah daripada kemarin, apakah ini karena pengaruh dari udara laut?.
Beberapa menit kemudian ada ketukan di pintu kamar…
“Itu kayaknya si Gusta dan Gustin Di, biar aku bukakan pintu saja”
Aku berjalan dengan malas ke pintu kamar hotel, ketika kubuka memang itu adalah Gusta dan Gustin. Gustin membawa tas plastik berisi nasi bungkus yang akan diberikan kepadaku.
“Selamat pagi pak” sapa mereka berdua
“Selamat pagi mas Gusta dan dik Gustin” sapaku balik
Ketika aku sapa dia balik… sekilas aku melihat Gusta terkejut, dia sempat melotot melihat aku, dan kemudian dia menoleh ke arah Sumadi.
Tiba-tiba wajah dia menampakan wajah yang kurang senang dengan kami, seperti wajah yang diperlihatkan apabila melihat seorang musuh.
“Ini nasi bungkusnya pak… dua bungkus dua puluh ribu saja” kata Gusta merebut tas kresek yang dibawa adiknya dan diberikan kepadaku dengan kasar
“Eh sebentar mas Gusta, masuk dulu mas….”
“Nggak pak, kami ada urusan, masih banyak kerjaan yang harus dikerjakan” kata Gusta ketus masih dengan wajah yang tidak bersahabat
“Ih mas Gusta kok gitu sih…” kata adiknya
“Sudah diam saja kamu dik!…. Ayo cepat pak, kami masih harus jaga jualan kami pak” kata Gusta dengan kasar
Ada yang tidak beres dengan anak laki-laki ini, setelah aku berikan uang nasi bungkusnya, dia langsung menarik adiknya pergi dari depan pintu kamarku….
“Ada apa dengan anak itu No?” tanya Sumadi sambil menoleh ke arahku
“Embuh Di….”
__ADS_1