Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 36. KEDATANGAN HERA


__ADS_3

“Anak itu agak aneh Di”


Sumadi tidak menjawab perkataanku, dia disibukan lagi dengan komputernya, dan memasang headset ke telinganya, tinggal aku yang sedang berpikir tentang apa yang aku lakukan hingga anak itu kelihatannya marah kepada kami.


Aku seharusnya tidak ambil pusing dengan Gusta, tetapi karena dia yang sudah menyelamatkan aku, sekarang aku jadi kepikiran dengan anak itu.


Perasaan tadi aku nggak ngomong apapun yang menyinggung dia, tapi kenapa dia seolah benci sekali sama aku dan Sumadi.


Tiba-tiba ada ketukan di pintu disertai dengan ucapan permisi dari suara seorang perempuan.


“Ya sebentar….” aku turun dari tempat tidur, kemudian aku buka pintu kamar


“Eh ada mbak Hera. Di…Sumadi, ada mbak Hera ini” teriaku pada Sumadi yang masih menggunakan headset


“Saya ngerepotin bapak ya?... eh kenalkan ini saudara Hera pak, istri dari kakak Hera…. namanya Ayu”


“Nggak..nggak ngerepotin, sebentar ya, saya ambilkan kursi lagi, eh silahkan duduk dulu mbak Hera dan mbak Ayu”


Sumadi mengangkat kursi yang diduduki di depan meja kerjanya, sedangkan aku mengambil kursi dari teras kamar sebelah yang keliatnya kosong.


“Nah kalau gini kan enak, kita bisa ngobrol dengan Santai”


“Hera datang kesini bersama saudara Hera hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pak Paino dan pak Sumadi… eh kalau boleh nanti sore mau kami ajak bapak-bapak ini makan malam”


“Waduh mbak Hera, kami menolong karena memang sudah seharusnya mbak, kebetulan mobil kami kan ada di belakang motor mbak Hera. eh maaf malam nanti kami tidak bisa mbak, karena ada pekerjaan yang harus kami lakukan mbak”


“Kebetulan saya dan Sumadi disini untuk menulis novel kami yang berikutnya”


“Eh sebentar pak….” potong Hera kemudian mengambil ponselnya


Kemudian dia membuka ponselnya, kayaknya sedang membuka sebuah aplikasi… tapi nggak tau lagi


“Apa benar bapak-bapak ini Paino & Sumadi yang ini?” kata Hera menunjukan sebuah novel horor buatan aku dan Sumadi yang ada di aplikasi


“Lho hahahah iya itu kami mbak, itu novel terakhir kami mbak”


“Hera selalu mengikuti novel bapak. Tiap ada novel baru selalu Hera baca pak, karena novel bapak berbobot, pembaca rasanya bisa masuk dan mengikuti alur yang bapak bikin” kata Hera dengan wajah sumringah

__ADS_1


“Terima kasih mbak Hera, kami tidak menyangka bisa bertemu dengan penggemar novel kami disini”


“Yang terakhir itu kan Novel RUMAH PENGGAJIAN PAK…. ceritanya apa sudah gitu aja pak, gak ada sambunganya?


“Apakah dua anak yang tidak menerima gaji dan kemudian bunuh diri itu bisa diselamatkan pak?” tanya Hera dengan wajah penuh pengharapan


“Tentu saja ada mbak, dan sedang saya buat ini”


“Wah jadi benar ya pak, dua anak yang tidak menerima gaji itu selamat, dan kemudian pindah ke sini dan akan ada lanjutannya?”


“Tenang saja mbak Hera, semua akan saya buat detail kok. Dan maaf nanti malam …yah seperti yang mbak Hera tau , kami menulis novel berdasarkan pada apa yang kami rasakan kan, dan nanti malam kami akan melakukan tugas kami”


“Dimana pak, apa Hera boleh tau dimana tempatnya?”


“Jangan mbak Hera, saya tidak mau sebutkan, karena takutnya ada saja yang akan gunakan tempat itu untuk hal yang tidak diinginkan”


Wajah Hera terlihat senang ketika bertemu aku dan Sumadi, tetapi tiba-tiba dia menjadi serius, beberapa kali dia melongokan wajahnya ke dalam kamar.


“Eh ada apa ya mbak Hera?”


“Maaf pak.. Apa ada orang lain selain bapak berdua disini?”


Aku biarkan saja ketika Hera berdiri  dan menuju ke depan pintu kamarku, dia tidak masuk ke dalam kamar, dia hanya melihat ke sekeliling kamar saja…..


“Pak. nasi bungkus itu dari siapa?”


“Apakah sudah bapak makan sebagian?”


“Eh belum kami makan…. kami pesan dari orang yang biasa jualan di samping hotel mbak”


“Coba keluarkan saja nasi itu pak, dan jangan dimakan…terserah bapak mau percaya dengan Hera atau tidak….”


Aku mulai merasa aneh dengan perempuan yang bernama Hera ini, dan ada apa dengan nasi yang diberikan Gusta dan Gustin.


“Di, bawa sini nasi bungkusnya” aku kok penasaran dengan yang dikatakan mbak Hera ini


Sumadi membawa nasi bungkus pesanan dari Gusta dan Gustin tadi, kemudian ditaruh di meja teras. Hera dan Ayu saudaranya sedang bicara dengan bahasa daerah sini.

__ADS_1


Wajah mereka berdua serius sambil terus memperhatikan nasi bungkus yang ada di depan kami.


“Permisi ya pak Paino dan pak Sumadi, Hera mau kasih tau dulu ketika bapak-bapak antar Hera ke rumah, setelah dari rumah sakit”


“Kala itu yang Hera lihat dari tubuh tak kasat mata,  pak Paino ini luka parah, dan tidak akan lama lagi akan meninggal, sedangkan pak Sumadi sudah meninggal mungkin lebih dari lima jam”


“Tapi harap diingat pak, yang Hera lihat kemarin itu tubuh tak kasat mata bapak-bapak ini”


“Tetapi pagi ini kalian sehat dan segar bugar, tidak ada nampak luka atau bau mayat sama sekali…sungguh aneh pak”


“Sedangkan nasi bungkus yang ini… eh gimana ya gek?” tanya Hera kepada saudaranya, kemudian mereka bercakap dengan bahasa daerah lagi


“Sedangkan nasi yang ada di depan bapak ini berisi wong samar yang siap menghabisi tubuh tak kasat mata bapak-bapak ini, dan  tentu saja akibatnya bapak-bapak ini juga akan meninggal tidak lama kemudian”


“Ini bukan cara orang daerah sini yang biasa main ilmu hitam seperti ini pak.. Ilmu hitam cara ini bukan dari pulau ini pak” kata saudara Hera


“Maksud saya jenisnya…jenis yang ada di dalam makanan ini bukan dari sini….” ralat mbak Ayu atau yang dipanggil Hera dengan nama gek Ayu


Aku melongo dengan ucapan mereka berdua, termasuk Sumadi juga.. kami bingung dan harus berkata apa lagi.


“Jadi maksudnya mbak Hera dan mbak Ayu, ada yang ingin membunuh kami saat ini?”


“Bukan saat ini pak, tetapi ada yang akan membunuh tubuh kasat mata bapak ketika tubuh tak kasat mata bapak dalam keadaan luka parah, dan sudah menjadi mayat… mudah pak untuk membunuh tubuh kasat mata bapak”


“Tinggal habisi saja tubuh tidak nyata bapak, dan setelah itu selanjutnya yang ada di nasi itu akan menggerogoti tubuh kasat mata bapak hingga bapak mati perlahan lahan”


“Tujuannya apa mbak?!”


“Kalau penduduk disini yang suka main ilmu hitam, ketika kemarin sedang kajeng kliwon mereka pasti akan mencari mangsa untuk menerima ilmu yang mereka kirim itu pak”


“Intinya tes ilmu gitu pak”


“Tapi kalau yang ada di nasi bungkus ini saya nggak tau lagi pak, apakah dia juga sedang tes ilmu juga”


Apa yang terjadi dengan dua anak kembar Gusta dan Gustin…


Apakah karena aku dan Sumadi merasa sehat dan kata mbak Hera tubuh kami sudah kembali ke sedia kala?...pantas saja ketika mereka tadi datang dan melihat aku, wajah dia marah dan seperti tidak suka dengan aku…

__ADS_1


Apakah dia memang mempunyai niat jahat terhadap kami? Padahal dia sudah menyelamatkan aku sebelumnya.


__ADS_2