
Aku tidak bisa bernafas, dadaku mulai terasa sesak..
Mataku mulai kabur….kepalaku rasanya sakit sekali seperti ada yang berusaha menekan batok kepalaku…
Semakin sakit, semakin sulit untuk bernafas, seolah ada yang membuntu jalur udara yang menuju paru-paru, seluruh uratku rasanya sakit sekali…
Aku menjadi lemas, dan aku mulai kehilangan kesadaran…..
Bukan, aku tidak kehilangan kesadaran, karena aku masih bisa merasakan tubuhku, tapi yang ini berbeda.
Tubuhku menjadi ringan, semua rasanya sangat ringan, kurasakan aku tidak bernafas sama sekali, bahkan aku juga tidak merasakan detak jantungku…
Aku tidak membuka mata, tapi aku bisa melihat dan merasakan sesuatu yang sangat berbeda….
Melayang sangat ringan dan kini aku ada di sebuah ruangan hitam sangat gelap dengan satu titik putih di kejauhan.
Berdiri tegak dan berusaha berjalan menuju ke arah titik putih yang ada di kejauhan,
Seperti itu… sepertinya ada yang memerintahkan aku untuk berjalan menuju ke sana, menuju titik cahaya yang jauh.
Tapi tiba-tiba seperti ada yang menarikku dari belakang, ada mengganduli aku dari belakang…
Langkah yang tadi ringan sekarang menjadi berat dan sangat berat. Sangat berat hingga untuk menggerakan tubuh saja tidak bisa.
*****
“No.. bangun…. Ayo bangun No!”
Aku mendengar suara orang yang memanggilku begitu saja….
Dan anehnya tiba-tiba aku sadar begitu saja, tapi aku masih belum membuka mata… aku masih takut!
Tapi rasanya ada yang memaksa aku untuk membuka mataku.. Kelopak mataku kayak ada yang berusaha menarik agar aku membuka mata.
Kubuka mataku perlahan, wajah Sumadi… wajah mbak Hera, dan wajah gek Ayu….
Tapi ada orang lain selain mereka bertiga…. Tapi ternyata ada bu Tina diantara mereka juga.
Aku sangat lemas, bahkan untuk berucap saja aku tidak bisa, aku hanya melihat mereka melalui mataku saja, kemudian rasa lemas melanda tubuhku…
Kututup mataku lagi….
SUMADI POV
“Lebih baik kita kembali ke hotel saja mbak Hera dan gek Ayu…kita urus Paino di hotel, dan bu Tina, saya sangat berterima kasih sudah membantu teman saya Paino”
__ADS_1
“Besok saya ke sini lagi untuk berterima kasih”
“Tidak usah kesini lagi pak…yang penting kalian berdua sudah selamat”
Perempuan yang sudah berumur itu pergi begitu saja, dan menjauh dari mobil…
Mbak Hera dan gek Ayu duduk di kursi belakang mobil sambil memegang Paino yang entah sudah sadar atau belum sadar.
Mobil aku jalankan dengan hati- hati dengan kecepatan sedang.
Kejadian tadi berlangsung sangat cepat… aku tidak tau apa yang menyerang kami.
Tiba-tiba ratusan bahkan ribuan demit mengepung mobil, dan masuk ke dalam mobil.
Ketika tadi aku sedang bingung dengan serangan ratusan atau ribuan makhluk tak kasat mata yang mengerikan, aku tidak sempat memperhatikan Paino.
Saat ketika Paino berteriak bahwa ada yang mencekiknya, keadaanku sedang dipegang oleh dua orang anak bu Tina dengan wajah mengerikan dan sangat marah!
Tidak hanya dua orang. Ada lagi satu yang bertubuh besar ada di depanku.. Dia membawa sebuah senjata sejenis tombak yang akan di tusukkan ke tubuhku.
Tapi ada yang aneh, ketika aku perhatikan wajah yang sangat besar itu, wajahnya sangat mirip dengan dua anak kembar yang sedang memegang tanganku.
“Pak Sumadi… kalau bawa mobil jangan melamun pak.. Bapak terlalu ke kanan, melebihi marka jalan!” tegur gek Ayu dari bangku belakang
“Nanti saja kita bahasnya pak, yang penting kita sampai di hotel dengan selamat dulu saja”
Aku tidak bisa menunggu hingga nanti sampai di hotel, keburu hilang dan lupa apa yang barusan kami alami tadi, jadi wajah yang tinggi besar itu mirip dengan wajah dua anak kembar itu.
Wajah bengis, jahat, dan mengerikan penuh amarah yang sedang membawa sebuah tombak yang siap di hujamkan ke tubuhku.
Tapi sebelum semuanya terjadi, tiba-tiba mbak Hera, gek Ayu, dan yang bikin aku kaget, Bu Tina datang. Ya aku ingat sekali wajah bu Tina yang kelihatan marah ada di depanku waktu tadi itu.
Aku tidak tau bagaimana mereka bisa tau bahwa kami dalam keadaan bahaya. Mereka bertiga datang seperti ada yang memberi tahu bahwa kami dalam bahaya.
Meskipun keadaanku pada waktu itu sedang kritis karena aku berusaha melepaskan pegangan dua anak setan itu, tetapi aku masih ingat apa yang dilakukan bu Tina…
Dia membuka pintu mobil yang memang tidak dikunci oleh Paino, kemudian dia berkata dengan nada membentak.
“Gusta, Gustin.. Lepaskan dia…!”
“Gusta, suruh penjagamu untuk pergi!”
Sepersekian detik kemudian, dua anak kembar dan satu yang tinggi besar itu hilang dari hadapanku!.
Begitu juga dengan bu Tina yang begitu saja pergi dari hadapan kami, setelah aku mengucapkan terima kasih..
__ADS_1
Tidak itu saja, demit yang tadi sedang mencekik Paino, dan ribuan demit yang mengelilingi kami hilang, semudah menjentikan tangan saja.
Semua hilang begitu saja bersama dengan hilangnya dua anak kembar dan satu sosok yang mirip wajahnya dengan anak kembar itu.
Dan semua ini atas perintah bu Tina..!
Bu tina juga bilang bahwa kami tidak usah datang ke sana lagi.
Dua anak kembar itu sama sekali tidak melawan perintah dari ibunya.. Mereka hanya pergi begitu saja dari hadapanku
Sebenarnya mereka ini siapa, dan apa yang mereka inginkan dari kami…
“Pak Sumadiii.. hotelnya kelewatan tuuuh!,”
“Ma..maaf mbak Hera, saya kurang konsentrasi”
Kumundurkan mobil yang sudah kelewatan beberapa belas meter dari pintu masuk hotel..
“Pak Sumadi, minta bantuan pegawai hotel untuk memapah pak Paino ya” kata mbak Hera lagi
“Nggak usah mbak Hera, kamar kami yang pojokan ini bagian depannya agak lebar, sehingga bisa digunakan untuk parkir mobil, nanti biar saya yang memapah Paino mbak”
Keadaan Paino ini sudah sadar, tetapi dia masih sangat lemas, sehingga untuk bicarapun dia belum bisa apalagi harus berjalan dari mobil menuju ke kamar dan ke tempat tidur.
Setelah selesai dengan urusan Paino, lebih baik aku suruh pulang dulu saja dua perempuan yang sudah membantu kami.
“Mbak Hera dan gek Ayu.. banyak terima kasih di hari ini kalian berdua sekali lagi membantu kami. Dan kalau mbak dan gek Ayu ini mau pulang silahkan saja”
“Eh nanti saja pak Sumadi… eh saya mau bicara kepada pak Sumadi dulu terkait yang tadi itu, dan ini alat perekam kami kembalikan. Nanti pak Sumadi bisa mendengarkan apa yang saya dan Hera tadi bicarakan”
“Hera.. kamu aja yang bicara” suruh gek Ayu
“Jadi gini pak Sumadi… terkait dengan yang tadi, dan ini diluar pembicaraan dengan bu Tina yang sudah terekam di alat perekam”
“Yang mau Hera bicarakan ini tentang apa yang Hera dan gek Ayu tadi lihat di sana pak”
“Ketika Hera dan gek Ayu masuk ke warung itu, rasanya panas, berat, dan bikin pusing dan mual..tenggorokan rasanya panas dan kering”
“Mungkin bagi orang yang biasa aja masuk ke warung itu tidak akan terasa apa-apa, tapi bagi kami masuk ke warung itu sangat menyiksa pak”
“Tadi Hera sempat lihat ada laki-laki seumuran dengan bu Tina yang sedang mengintip ke arah kami berdua pak. Laki-laki itu wajahnya pucat, tetapi sekilas tatapan matanya sangat tajam melihat ke arah kami”
“Laki-laki itu sempat tersenyum kepada kami, tapi senyumnya itu aneh pak, seperti tersenyum dengan penuh ancaman kepada kami”
“Tapi dia hanya sekilas saja, kemudian dia entah masuk entah hilang begitu saja. Eh gek, laki-laki tadi itu sebenernya wong samar atau bukan?”
__ADS_1