
“Mau saya antar kesana pak?” tawar Komang
“Tidak usah Komang, kami jalan kesana sendiri saja, terima kasih atas bantuannya”
Aku nggak tau tadi perasaan aku bicara menggunakan bahasa indonesia, dan si Komang menjawab dengan bahasa daerah, tapi anehnya kenapa aku bisa paham dengan yang dia katakan, yang aku dengar dia menggunakan bahasa Indonesia juga, padahal nggak!
Aku dan Sumadi melanjutkan jalan menuju ke tengah hutan, dan apa yang dikatakan si Komang benar, baru juga kami masuk ke area hutan, sudah banyak sesuatu yang mengintip dari balik pohon.
“Di, jangan lihat ke pohon dan jangan menoleh ke belakang…. Ngeriii pokoknya!”
“Kenapa No?”
“Pokoknya jangan, pokoknya tetap jalan dengan pandangan ke depan, jangan melihat apapun yang ada di belakang kita” bisikku kepada Sumadi
Duuuh aku ada aja yang sedang mengikuti kami berdua, bentuknya itu lho yang gak karuan, ada yang rambutnya awut awutan, mata melotot, lidah yang terjulur panjang, kuku panjang, dan taringnya juga panjang…pokoknya semua panjaaang!
Aku nggak tau apa itu sedang mengikuti kami dari belakang, apakah itu rangda atau leak, aku nggak jelas. Tapi sosok itu tidak menyerang kami, mereka hanya melihat dari kejauhan dan ada satu yang mengikuti kami dari belakang!
“No… disebelahku ada sosok ngeriii..”
“Aku tau dah biarkan aja, mereka kan cuma ngikuti kita aja dah jalan biasa aja Di. kamu kira aku nggak ndredeg ta ini Di?”
Semakin kami jalan di jalan setapak tengah hutan, sosok mengerikan ini bertambah satu lagi, aku nggak tau apa itu, ada lagi yang baru datang, kepala bagian depan botak tapi bagian belakang rambutnya panjang.
Duh apa lagi ini barusan aku lirik, mata dia masuk ke dalam kayak lubang gitu matanya, beda dengan yang sebelumnya dengan matanya yang melotot.
Dan yang ngeri ini, yang botak ini phayudaranya panjang.. Aku makin gak berani melirik ke samping ku. Sekarang dia memamerkan lidahnya yang panjang juga…
“No ini yang tadi ada di belakangku…sekarang ada di sampingku No!” bisik Sumadi
“Diam dan jalan terus Di, jangan dilihat”
Aku nggak tau sosok ghaib apa ini, karena selama aku berkutat dengan yang namanya horor, baru kali ini aku dapat melihat sosok ghaib yang bentuknya sangat mengerikan.
__ADS_1
Ternyata ghaib itu nggak hanya putih-putih macam poci dan mbak Kun yang aku rasa mengerikan. Ternyata sosok yang ini lebih mengerikan, taring dan kukunya itu lho panjang dan mengerikan.
Tapi entah kenapa aku tidak takut sama sekali, bahkan aku merasa seperti dikawal.
Kenapa aku bilang seperti dikawal. Karena sekarang di kiri dan kananku sudah ada sosok seperti yang tadi aku katakan, dan mereka melayang kadang jalan di sampingku sambil sesekali menoleh ke arah kami, kemudian memamerkan wajahnya yang mengerikan.
“No mereka dari tadi melihat cincin yang kita pakai, seperti nya mereka tertarik dengan cincin yang kita pakai”
“Iya Di, aku juga tau, dari tadi mereka juga melihat cincinku, tapi biarlah, mereka tidak mengganggu kita, dan kita juga tidak ingin berinteraksi dengan mereka”
Sosok aneh yang menurutku kemungkinan besar adalah rangda itu terus berjalan di samping kami. Sedangkan di sebelah yang kemungkinan randa adalah celuluk, karena matanya berlubang dan botak di bagian depan, mereka berdua tidak henti-hentinya melihat ke arah cincin yang aku pakai.
Aku terus saja jalan hingga di kejauhan aku bisa melihat beberapa cahaya obor yang nyala apinya kadang meliuk-liuk terkena angin malam.
“No itu lihat yang ada disana itu” tunjuk Sumadi pada nyala obor dikejauhan
“Ayo percepat langkah kita Di, semoga yang dikatakan anak tadi itu benar, karena aku sangat malas kalau harus lewat hutan ini dengan sosok mengerikan yang selalu ada di sebelah kita Di”
Tidak ada yang diperbuat dua makhluk aneh dan unik yang ada di samping kami, mereka hanya melihat cincin kami berdua saja, tidak ada yang mereka lakukan.
Semakin jauh kami berjalan ternyata yang dikatakan Komang tadi benar, di depan kami ada semacam tembok tinggi mungkin setinggi kurang lebih tiga meter dan sepertinya tembok tinggi itu mengelilingi sesuatu di dalamnya.
“Mungkin itu yang dimaksud Puri sama Komang tadi No”
“Iya pasti, karena tidak ada lagi bangunan di sekitar sini Di”
Anehnya semakin kami dekat dengan bangunan itu , dua sosok mengerikan yang tadi ikut bersama kami berdua itu pergi begitu saja, mereka berdua sama sekali tidak mengganggu kami.
Kami semakin dekat dan akhirnya kami bisa melihat bahwa di pinggir jalan bangunan itu ada sesosok orang yang sedang berdiri. Orang yang sedang berdiri di depan bangunan yang mungkin di dalamnya adalah merupakan pemukiman itu sepertinya sedang menunggu seseorang.
“Kita tanyakan saja ke orang itu, kita tanyakan saja tempat tinggal pak Wayan Di”
Aku masih belum bisa melihat sosok orang yang sedang berdiri sendirian di pinggir jalan itu, apakah dia anak muda seperti Komang atau sudah tua, jadi kami datangi saja dulu untuk memastikannya.
__ADS_1
“Permisi pak, apa bapak tau tempat tinggal pak Wayan?” aneh seperti sebelumnya, yang keluar dari mulutku ini adalah bahasa daerah sini
“Ini pak Paino dan pak Sumadi…?” jawabnya dengan menggunakan bahasa daerah yang anehnya aku bisa memahami apa yang dia katakan
“Benar, saya Paino, dan yang ini Sumadi” kaget juga ketika orang ini bisa menebak nama kami “ eh bapak siapa ya. Kok tau nama kami?”
“Mari masuk dulu, saya sudah tunggu dari tadi, saya kira bapak-bapak ini tersesat.. Mari masuk” ajak orang yang baru kami kenal ini
Ternyata benar apa yang aku perkirakan sebelumnya, ketika kami masuk di dalam ini seperti sebuah pemukiman, tapi bukan pemukiman seperti desa gitu.
Di dalam ternyata juga ada rumah-rumah yang berdekatan, mirip kampung di kotaku, tapi kami tidak diarahkan ke salah satu rumah yang saling berdekatan itu.
Jalan yang kami lalui ini seperti gang, berbelok belok dan akhirnya sampai di sebuah rumah yang memiliki lahan lebih luas daripada yang lainya.
“Ini kan rumah pak Wayan No?” bisik Sumadi
“Iya Di, aku ingat tempat kita duduk dan itu tempat sembahyang itu juga aku masih ingat”
“Berarti sekarang kita ada di zaman ketika pak Wayan masih hidup No?”
“Aku juga nggak tau Di, bisa saja kita masuk ke alam ghaib atau gimana, aku sendiri masih bingung”
“Silahkan duduk di situ dulu bapak Paino dan bapak Sumadi, eh tiang panggilkan Ajik Darma dulu nggih”
“Oh iya silahkan pak”
“Berarti rumah pak Wayan itu ada di dalam puri ya Di?”
“Iya, kita selama ini kan hanya duduk disini saja, aku pikir rumah pak Wayan hanya seperti ini saja, tapi ternyata luas No”
“Tadi dia bilang mau panggil yang namanya Ajik Darma, waduh siapa lagi orang itu Di, jangan-jangan itu nama pak Wayan sendiri hehehe”
Lama juga orang yang tadi masuk ke dalam rumah pak Wayan yang ada di sebelah kanan kami. Suasana malam disini sangat tenang dan dingin, rasanya ngantuk sekali, padahal baru saja tidak ada dua menit aku duduk disini.
__ADS_1
“Selamat malam pak Paino dan pak Sumadi” sapa orang yang keluar dari dalam rumah yang di sebelah kanan kami, dia didampingi orang yang tadi menjemput kami dari depan.