
“Selamat pagi bapak, saya sudah sediakan pakaian untuk bapak-bapak sesuai dengan instruksi Ajik Darma” kata pak Ketut di depan kamar
“Pagi pak Ketut, lho bapak dari tadi sudah menunggu di depan kamar?”
“Iya pak Paino, eh ini pakaian yang nanti bapak pakai, agar bisa membaur dengan masyarakat disini”
Pak Ketut menyerahkan dua stel apa ini… eh ada kain sarung, terus ada ikat kepala juga, dan sebuah kemeja juga. Terus terang aku nggak tau cara pakainya, makanya apa yang pak Ketut kasih itu hanya tak pandangi saja.
“Eh nanti saya bantu pakaikan pak, hehehe, bapak mandi saja dulu. Saya akan tunggu disini dulu” kata pak ketut kemudian duduk di bale dauh
*****
“Ini namanya kamen pak, yah mungkin sejenis sarung ya, hanya saja kamen ini kain tipis pak, tapi kamen ini tidak menyambung seperti sarung, dia hanya berupa selembar kain saja pak”
“Bapak berdiri saja, kamen ini hanya dililitkan seperti bapak kalau memakai sarung, hanya saja nanti ujungnya kita ikat, perhatikan cara saya ikat kamen ini pak” kata pak Ketut
“Nah seperti ini pak, ikatan kamen ujung depannya tengah agak mengenai tanah pak, seperti ini pak. Bisa kan pak kalau pakai kamen sendiri nantinya?”
“Bisa pak Ketut, pokoknya kalau diajari, saya pasti bisa”
“Berikutnya adalah saput pak Paino. Saput ini kain yang lebih ada coraknya dan dipakai setelah kamen, gini cara pakainya pak, nanti agar tidak lepas saya kan ikat dengan selendang” kata pak Ketut
Aku nggak nyangka pakaian adat untuk kegiatan keseharian saja seperti ini cara pakainya, agak sedikit ribet, yah mungkin beda tempat beda adat dan pakaiannya.
Aku dan Sumadi sudah menyerupai penduduk setempat, dengan udeng coklat dan ada corak yang sangat indah.
“Nanti Jik Darma akan kesini setelah sembahyang pak, eh saya akan sediakan kopi dulu untuk bapak dan Jik Darma” kata pak Ketut kemudian undur diri
Bau wangi dupa menyengat, tapi aku merasa tenang, aku sudah mulai terbiasa dengan bau dupa mulai ketika menginjakan kaki di pulau ini. Dan apa ya, eh bau wangi ini rasanya natural, dan enak juga dinikmati.
Pagi yang benar-benar membuat otak nyaman seperti ini jangan sampai dinodai oleh pendatang gila harta macam Agus dan komplotannya.
Setelah agak lama menunggu akhirnya pak Wayan datang juga dari arah merajan tempat dia tadi sembahyang.
__ADS_1
“Wah pak Paino dan pak Sumadi udah jadi orang sini ya hehehe” kata pak Wayan kemudian duduk di sebelah kami
“Nah sementara menunggu kopi dan makanan datang, kita ngobrol sejenak tentang apa yang akan terjadi disini pak Paino dan pak Sumadi”
“Kami ini sebenarnya tidak mau ada harta disini, harta bisa mengundang kejahatan dan hal tidak baik lainnya. Harta disini bisa mengundang pencari harta karun dari masa depan”
“Tapi sesuai dengan apa yang saya katakan kemarin, di sini seperti ada lubang yang menghubungkan jaman kerajaan dulu dan sekarang, akibatnya ada saja benda berharga yang masuk ke sini”
“Dari banyaknya benda berharga yang masuk ke sini, mengakibatkan banyak pemburu harta dari masa depan yang berusaha mengambil dengan cara ghaib mereka”
“Dan saya tidak tau bagaimana cara mereka mengambilnya, hanya saja menurut dari mata batin pendeta disini, orang-orang itu sekarang sedang menuju ke sini, dan itu sangat menakutkan bagi masyarakat disini yang kesehariannya hidup dalam keadaan damai”
“Mungkin bisa sore ini atau malam nanti mereka akan masuk desa ini, tapi kabar baiknya, kesaktian mereka akan menyusut ketika mereka bepergian ke masa ini”
“Menyusut bukan berarti hilang ya pak Paino dan pak Sumadi, kesaktian mereka hanya menyusut saja, tetapi kalian jangan khawatir, saya akan bantu kalian” kata pak Wayan kemudian menyeruput kopinya
“Mereka orang jawa, saya tidak mau ada bentrok kesukuan disini, ini juga yang menjadi alasan saya mengajak kalian ke sini”
“Lalu apa yang harus kami lakukan pak Wayan?”
“Saran saya temui mereka dan ajak mereka bicara agar tidak menjarah harta yang ada disini” kata pak Wayan
“Pagi ini kita sarapan dulu, setelah sarapan, saya akan ajak kalian berdua jalan di sekitar puri ini, agar kalian tau keadaan disini”
*****
Kami bertiga keluar dari gerbang puri, aku sebut gerbang karena bentuknya indah, menyerupai candi, dan ini merupakan pintu masuk ke dalam puri.
“Itu disebut angkul-angkul, yah semacam pintu gerbang puri saja kok, namun kalau dipelajari lebih lanjut semua ada arti dan maknanya juga hehehe”
Kami sudah ada di luar puri, puri ini kalau menurutku kayak sejenis benteng, dengan dinding yang mengelilinginya, di luar puri sejauh mata memandang adalah hutan yang indah.
“Jalan ini mengarah ke desa lain, ke arah sana” tunjuk pak Wayan ke arah kiri dari puri “Kalian datang dari kanan sana, dan dihutan tempat kalian datang itu ada wong samar dan sosok seperti yang kalian alami tadi malam”
__ADS_1
“Saran saya nanti sore hingga malam kalian berdua tunggu di hutan saja, saya yakin sore atau malam mereka akan datang”
“Apa mereka ini tau kalau kami ada disini pak Wayan?”
“Saya tidak tau pasti, tapi kalian siaga saja, nanti ada yang akan membantu kalian disana”
*****
Sore hari menjelang malam, bau wangi dupa kembali muncul, aku yang sedang duduk bersama Sumadi sedang menikmati sunyinya keadaan disini dan bau wangi dupa. Rasanya tenang dan damai.
Sangat disayangkan apabila keadaan tenang seperti ini diusik oleh pemburu harta macam Agus itu.
“Di, jam berapa kita keluar puri?”
“Tunggu info dari pak Wayan dulu saja No, aku rasa secepatnya kita bisa keluar, agar nggak keduluan Agus yang datang kesini”
Tidak lama kemudian pak Wayan datang dari tempat dia sembahyang….
“Kalian bisa bersiap untuk ke hutan sana, atau kalau mau kalian bisa jalan-jalan ke desa tempat kalian datang kemarin itu”
“Iya pak, saya ini sedang nunggu pak Wayan, saya nggak enak kalau keluar dari sini tanpa pamit dulu hehehe”
“Ayo saya antar kalian sampai di depan, setelah itu terserah kalian mau apa, eh nani ada Ketut yang jaga di angkul-angkul sini”
Seperti kemarin, di luar sini gelap, tapi sekali lagi sinar bulan masih menerangi sekitar kami, sehingga aku masih bisa dengan agak jelas melihat kejauhan.
“Di, kita kemana?”
“Masuk hutan aja No, dari sana kita kan bisa perhatikan tiap orang yang jalan di jalan setapak ini”
“Iya sih, ayo kita ke sana.. Eh tapi disana kan ada apa itu namanya Di?”
“Rangda dan eh celuluk ya kalau tidak salah”
__ADS_1
“Iya Di itu yang aku maksud”
“Mereka berdua kan tidak akan menyakiti kita No”