Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 60. DUA ANAK ITU LAGI!


__ADS_3

“Saya tidak menakut nakuti bapak,.. Eh nama sampeyan siapa pak?”


“Nama saya Paino pak Bas”


“Iya pak Paino,  terakhir bapak bertemu dengan Tina kapan pak?”


“Hehehe sebetulnya saya sama sekali belum pernah bertemu pak. Mbak TIna adalah saudara jauh dari istri saya”


“Saya disini karena ada urusan kerja pak. Tapi istri saya berpesan untuk cari rumah Tina dan tanya bagaimana kabarnya, kok sudah  bertahun tahun tidak pulang ke jawa”


“Nah kebetulan ketika saya tanya alamat ke pak Putu ini, pak Putu ternyata tau, dan pernah sekali makan di warung milik mbak Tina”


“Oh gitu… tapi ya tetap… permisi ya pak, amit amit jabang bayi…. Keluarga Tina itu  amit ya gusti… keluarga Tina itu berantakan pak Paino”


“Yang saya tau suaminya sekarang ada di rumah sakit jiwa, sedangkan kedua anaknya selalu  sakit dan sakitnya itu aneh, karena tidak bisa diobati dengan pengobatan medis”


“Di daerah sini kan ada komunitas jawa pak, saya mendapat info dari teman-teman komunitas, anak Tina itu mempunyai ilmu hitam yang mengerikan, tapi itu hanya katanya pak, karena tidak ada yang bisa membuktikan”


“Itu hanya katanya dari seorang yang bisa melihat dengan menggunakan mata batin, hanya saja saya tidak percaya begitu saja pak Paino.. “


“Kabarnya suami Tina itu gila karena berusaha menyembuhkan kedua anaknya dengan menggunakan cara supranatural, dan mungkin ilmu suami Tina kurang kuat, sehingga menyerang suami Tina…. Itu juga hanya mungkin lho pak Paino”


“Tidak apa-apa pak Bas, biar bagaimanapun saya harus temui dia, karena istri saya yang menyuruh hehehe”


“Eh pak Bas, saya mau pamit dulu, ini berapa semua makanan dan minuman yang saya dan pak Putu makan ini?”


Waktu sudah menunjukan pukul 19.20 Aku harus balik ke rumah sakit, aku nggak enak dengan dua perempuan yang sedang menjaga Sumadi.


Di perjalanan pak Putu hanya diam saja, begitu pula dengan aku… kalau aku diam karena aku merasa ada yang selalu memperhatikan aku.


Aku merasa di kiri, kanan, atas, bawah, depan , belakang ada yang selalu melihat aku.


“Pak Putu… kok diam pak… apa ada sesuatu?” aku iseng aja tanya ke pak Putu


“Eh maaf bapak, entahlah pak… eh saya tiba-tiba merasa kurang enak badan pak”

__ADS_1


“Gini aja pak Putu, kita berhenti dulu saja di minimarket untuk beli obat atau beli minuman stamina, pak Putu kan masih harus cari penumpang lagi setelah saya turun”


“Tidak usah pak, saya antar bapak ini hingga sampai ke rumah sakit saja dulu”


Aneh ada apa dengan pak Putu, tiba-tiba dia merasa tidak enak badan, padahal sebelumnya tidak masalah. Tapi….tapi nggak cuma pak Putu saja yang merasa aneh.


Akupun merasa nggak enak badan, kayak nggereges semacam mau masuk angin gitu… tapi apa yang menyebabkan, mosok makanan warung pak Bas itu yang menyebabkannya?


Suhu udara di dalam cabin mobil taksi pak Putu ini cukup dingin, tetapi wajah dan tubuhku malah mulai berkeringat… badanku benar-benar seperti orang masuk angin, mulai kembung hingga pusing mulai menyerang.


“P…pak Putu… AC mobil apa tidak bisa direndahkan lagi suhunya?, r…rasanya gerah sekali pak”


“Baik pak… saya juga merasa gerah dan mual pak, apakah ini karena masakan Basuki ya pak?


“Sepertinya iya pak Putu, perut saya nggak karuan pak, eh mampir ke SPBU saja dulu kalau lewat pak…saya sudah tidak tahan”


Perutku rasanya kayak diaduk aduk, kepalaku pusing sekali….


Ternyata tidak jauh di depan ada SPBU. pak Putu mengarahkan mobilnya masuk ke SPBU…kemudian memarkir mobilnya di bagian yang memang diperuntukan parkir kendaraan.


Ketika aku buka pintu mobil dan ketika aku dan pak Putu sudah ada di luar mobil, mendadak rasa mual itu hilang seketika.


Pak Putu sudah lari ke dalam kamar kecil, tapi aku masih bertahan di samping belakang mobil.


Posisiku ada di  bagian belakang samping mobil… aku berpegangan pada bagasi mobil, dan secara tidak sengaja aku melihat ke dalam kabin mobil…..


“Siapa itu yang ada di jok belakang dan jok depan samping pengemudi?” aku bergumam sambil terus aku perhatikan yang da di dalam kabin mobil


Kuperhatikan dengan lebih teliti lagi, …. Dua orang yang satu duduk di jok belakang, dan satunya ada di depan..


Masyaallah… kalau dari belakang itu kan mirip dengan Gusta dan Gustin. Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam taksi.. Apa yang harus aku lakukan.


Jelas sekali karena kaca taksi terang, tidak menggunakan kaca film, menggunakan pun hanya kaca film yang tidak terlalu gelap. Sehingga apabila ada sinar lampu dari mobil yang berlawanan arah, aku bisa melihat kepala bagian belakang mereka.


“Gimana pak Paino?” tanya pak Putu yang tiba-tiba ada di sebelahku

__ADS_1


“Eh pak Putu… apa tidak lihat ada orang yang ada di dalam taksi ini?”


“Tidak ada siapapun pak… kosong kok”


“Tadi waktu kita keluar mobil, pintu mobil sudah saya kunci pak, jadi tidak ada yang bisa masuk”


Benar kata pak Putu, di dalam taksi itu tidak ada siapapun.


Tapi tadi aku lihat ada dua anak mengerikan di dalam mobil ini.


Pak Putu membuka pintu dan kemudian menyalakan mesin mobil, dia terlihat sudah lebih baik dari pada tadi ketika kami selesai makan di warung Basuki.


Setelah aku anggap keadaan aman, aku masuk ke dalam kabin mobil pak Putu, hawa udara Ac yang nyala membuat aku merasa lebih tenang daripada tadi,


“Gimana pak Paino, sudah baikan kan, wah saya jadi yakin tadi itu ulah si Basuki, makanan Basuki mungkin ada yang basi” keluh pak Putu


“Saya sudah baikan pak Putu, dan jangan berprasangka buruk dulu, bisa saja ada hal lain yang mengakibatkan kita tadi mual”


“Tadi ketika saya sudah ada di luar mobil rasa mual dan pusing itu mendadak hilang pak…kalau pak Putu tadi gimana?”


“Eh iya pak Paino, sebenarnya sama juga, tadi setelah saya keluar dari mobil rasa mual itu  hilang, kemudian saya buang air kecil saja di toilet itu… eh sebenarnya ada apa ya pak?”


“Tadi apa pak Putu tidak lihat ada dua orang sedang duduk di jok belakang dan jok depan sebelah pak Putu?”


“Tidak pak, saya tidak lihat apa-apa”


“Ya sudah pak Putu, kita balik ke rumah sakit saja, eh besok pak Putu saya telpon lagi ya, mungkin saya ingin ke tempat bu TIna lagi, tapi nggak usah ke tempat pak Basuki lagi ya hehehe”


Taksi sudah sampai di rumah sakit tepat pukul 20.00 rumah sakit ini tidak begitu sepi … bahkan lorong disini masih ada orang yang berlalu lalang.


Ketika aku ada di depan pintu kamar VIP Sumadi, dari luar aku mendengar suara tertawa. Suara tertawa itu berasal dari dalam kamar.


Ketika aku buka pintu kamar… ternyata mbak Hera, gek Ayu, dan Sumadi sedang tertawa tawa sambil melihat layar televisi yang sedang memutar film mr Bean,


“Wah udah datang kamu No, lama sekali sih pergimu” kata Sumadi yang sedang duduk di ranjang pasien

__ADS_1


“Lho Di… kamu kok sudah duduk gitu..!”


__ADS_2