Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 88. PEMBUKTIAN PAK WAYAN


__ADS_3

Siang hari ini aku nggak ada kerjaan, glundang glundung mangan turu aja. Beda dengan Sumadi, dia mengecas semua gadget yang dia miliki, mumpung kalau siang listrik disini nyala.


Dan untungnya listrik disini bukan menggunakan token, jadi kami bisa bebas menggunakan listri, entah siapa yang bayar hehehe..


“Di, bisa nggak tanya ke kantor PLN rumah ini pembayaran listriknya atas nama siapa?”


“Bisa aja No, asal tau nomor pelanggannya, coba lihat di meteran listrik itu, nanti kita cek di internet untuk pembayaran listrik rumah ini”


Aku keluar rumah untuk melihat apakah ada nomor pelanggan disana, dan ternyata tidak ada. Tapi aku sempat lihat sesuatu yang membuat aku ketakutan.


Dua anak itu ada di sisi jalan yang terlihat dari rumah ini. Mereka berdua sedang melihat ke arahku.


Buru-buru aku masuk ke dalam rumah…


“Di. dua anak itu ada di pinggir jalan, mereka sedang melihat ke arah sini”


“Wis biarin, kita di dalam rumah ini saja, kunci aja pintunya No”


Mereka berdua sudah ada disini, jangan-jangan mereka tadi juga mendengarkan pembicaraan kami dengan pak Wardiono,  kalau ada  apa-apa dengan pak War gimana ini.


“Sudah No, jangan bingung, kita ada di rumah pak Wayan yang tidak bisa ditembus oleh mereka itu”


“Tapi kalau seumpama mereka datang dengan ribuan demit kesini gimana Di, aku rasa ribuan demit yang ada di rumah Agus itu  akan digunakan untuk memberondong rumah tak kasat mata pak Wayan”


“Itu juga yang dari kemarin aku pikir No, sekarang untuk apa pelihara ribuan demit kalau nggak ada tujuannya kan, dan setelah tadi kita ketemu dengan pak War, aku jadi semakin yakin tujuan dari si Agus itu”


“Apa yang kalian pikirkan itu benar” tiba-tiba pak Wayan sudah ada duduk di kursi sebelah kami.


“Saya tadi sempat dengar yang dikatakan oleh orang yang tadi kalian temui.. Memang benar disini ada harta yang dijaga oleh ular kami, dan itu adalah harta peninggalan dari leluhur kami yang dulu merupakan seorang keturunan bangsawan juga”


“Sudah ratusan atau ribuan orang dari berbagai zaman yang berusaha mencari harta itu, tetapi tidak ada yang berhasil sama sekali, kebanyakan mati dan yang selamat menjadi gila”


“Kalau kalian berdua sudah tidak sibuk ayo ikut saya, kalian masuk ke kamar dan jiwa kalian akan saya ajak ke rumah dari leluhur saya yang berbeda dengan yang pernah kalian datangi”


“Baik pak Wayan, ijinkan saya beresin dulu alat-alat saya ini” kata Sumadi


Aku dan Sumadi masuk ke kamar depan, kamar tempat biasanya pak Wayan berada…


Di dalam kamar aku dan sumadi disuruh duduk di lantai…. Tiba-tiba lap!

__ADS_1


*****


Bau dupa sangat wangi dan menyengat, kubuka mataku perlahan-lahan, aku ternyata aku bukan di rumah pak Wayan yang sebelumnya.


Saat ini aku sedang duduk di sebuah pendopo luas yang kayu penyangganya berwarna emas…


Sepanjang mata memandang hanya ada beberapa perempuan dengan pakaian adat yang sedang membawa banten atau sesaji dengan pakaian yang aduuh sulit njelaskannya, karena duh bikin nelen ludah.


Mereka cantik cantik dengan rambut panjang, dan busananya itu yang bikin aku nelan ludah berkali kali.


Kulihat Sumadi yang juga masih terheran heran dengan keadaan disini, dan anehnya pakaian kita bukan pakaian yang kami gunakan sebelumnya, kami sekarang berpakaian apa ya ini, eh pokoknya pakaian adat disini dengan sarung yang berbeda dengan cara pakai di jawa.


Ketika aku akan berdiri ternyata aku tidak bisa berdiri sama sekali, kakiku kaku dan Sumadi juga merasakan hal yang sama juga.


“Selamat datang di puri kami pak Paino dan pak Sumadi, maaf sengaja memang kalian tidak saya perbolehkan untuk berdiri dan berjalan, karena rahasia disini sebenarnya tidak boleh diketahui oleh manusia”


“Hanya saja perkecualian dengan kalian berdua”


“Jadi ini adalah rumah pak Wayan atau gimana?”


“Inilah yang sebenarnya, dan disinilah yang sedang dicari oleh pemburu harta itu”


“Hehehe sama saja letaknya juga disini, hanya saja yang ini jauh lebih tua daripada yang biasa kalian datangi itu”


“Disini tersimpan emas hasil rampasan perang, dan harta-harta berharga lainnya… sekarang kalian paham kan kenapa saya resah sekali dengan kedatangan mereka itu”


Aku dan Sumadi disini otomatis bicara dengan bahasa daerah sini, ya seperti sebelum sebelumnya, tiba-tiba aku paham dengan bahasa daerah sini..


Tiba-tiba ada seorang perempuan cantik khas daerah sini datang menghampiri pak Wayan.. Dia tersenyum dan terus menerus menundukan kepalanya..


“Ah pak Sumadi, saya perkenalkan seseorang yang suka tanya-tanya ke saya tentang pak Sumadi, panggil saja Ni luh” kata pak Wayan kemudian memperkenalkan seorang gadis cantik kepada Sumadi


Aku dan Sumadi ini sudah bisa dibilang tua, umur kita sudah kepala tiga, tapi kok ya ada yang suka sama Sumadi. Ya agak iri juga sebenarnya hihihi.


“Eh maksudnya gimana pak Wayan?” tanya Sumadi gelagapan


“NIluh ini kerabat saya, dan selama kalian berdua disini, dia selalu memperhatikan pak Sumadi hehehe”


“Terus s..saya harus bagaimana pak Wayan?”

__ADS_1


“Ya nggak ada harus gimana-gimana, saya cuma kasih tau saja kepada pak Sumadi tentang Ni luh ini hehehe”


“Sudah sana mebanten dulu sana” kata pak Wayan kepada Ni luh


Perempuan cantik itu pergi dari hadapan kami.. Memang sangat cantik menurutku, rambut panjang, kulit putih, heheh beruntung si Sumadi itu.


“Kalau pak Sumadi mau, nanti akan saya nikahkan dengan dia, meskipun hal ini sangat dilarang di adat kami. Tapi karena kalian berdua mulai berjasa atas tempat tinggal kami, saya rasa tidak masalah”


“Eh tidak usah pak, eh terimakasih pak, eh mungkin Paino saja pak Wayan”


“Untuk pak Paino ada sendiri pak Sumadi, tapi nanti saja akan saya kenalkan”


“Sekarang yang penting kalian sudah tau keadaan disini, dimana orang-orang itu berusaha masuk ke sini untuk mengambil apa yang ada disini”


“Tidak usah berlama-lama ada disini, karena akan berakibat tidak baik dengan tubuh tak kasat mata kalian”


“Sekarang tutup mata kalian, kita kembali ke alam kalian lagi”


Secara mengejutkan kami sudah ada di rumah belakang setra… kami masih ada di dalam kamar pak Wayan. Memang benar yang dikatakan pak Wayan, kami hanya ada di sana sekitar sepuluh menit saja.


“Kalian tidak bisa terlalu lama ada di alam ratusan tahun silam, bahaya bagi tubuh halus kalian. Nah itu sebagai pembuktian bahwa ada sesuatu yang selalu dicari oleh manusia serakah”


“Tapi kan penjaga disini sangat kuat pak Wayan?” tanya Sumadi


“Memang sangat kuat pak Sumadi, tetapi apabila ribuan yang datang dan menyerang, bisa saja tembus juga pak”


“Eh sekarang karena masih siang,  akan saya tunjukan sesuatu yang lain yang dicari oleh mereka pemburu barang keramat dan pemburu pusaka”


“Bisa juga mereka yang menyerang kalian hanya mencari pusaka yang ada disini, pokoknya rumah ini penuh dengan barang bertuah dan pusaka yang berasal dari leluhur saya yang kadang terlempar hingga ke masa terdekat dengan masa ini”


“Ayo ikut saya.. Kita ke ruang bawah tanah yang kalian belum pernah masuki”


“Eh saya boleh pakai kamera pak Wayan?” tanya Sumadi


“Silahkan, tapi kamera kalian tidak akan bisa merekam apa yang akan saya tunjukan pak Sumadi”


“Nggak papa pak, saya cuma melanjutkan tugas saya saja untuk mengeksplorasi tempat yang belum kami masuki”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Sedikit informasi untuk penyuka horor gore, pembunuhan, *** menyimpang, dan yang agak extrim bisa mampir di Novel saya yang judulnya “AKU PACUL KEPALAMU” tapi di....


__ADS_2