
Tidak ada yang mengikuti kami, kemudian tiba-tiba sepasang keris itu datang dengan sendirinya, mereka ternyata mencari rumahnya yang sedang aku dan Sumadi bawa.
“Disini adalah tempat yang netral dan aman” kata Gustin yang masih bersuara nenek nenek
Aku tau tempat ini, aku dan Sumadi pernah diajak pak Wayan ke sini, di bawah ini ada sumur dan penuh dengan harga yang berharga.
Tapi untuk saat ini aku dan Sumadi hanya diam saja , kami sudah berjanji tidak akan mengatakan apa yang ada di bawah ini.
“Nduk Tina, sesuk kowe kudu pulang ke desa, di desa memerlukan awakmu dan cucuku”
“Soal Agus biar diurus oleh penghuni tak kasat mata tanah ini, ratusan demit suruhan Agus yang ada disana akan terbakar, jadi tidak usah khawatir”
“Mbah Sutinah, bagaimana saya dan Gusti akan pulang, kami kan ada di alam yang berbeda?” tanya ibu Tina
“Besok pagi, minta tolong pak Wayan untuk mengembalikan kamu dan cucuku secepat mungkin, sementara Agus, Gusta, dan Hasto masih disini,mereka bertiga tidak akan aman disini”
“Rumahmu bukan disini, rumahmu ada di jawa timur sana Nduk”
“Besok setelah awakmu wis balik ke alam normal, segera pergi ke terminal bus, nanti ada orang yang datangi kalian, namanya pak Joko, dia adalah orangnya mbah yang mbah utus untuk menjemput kamu”
“Sebenarnya mbah malu karena Agus sudah membuat keributan disini, di tempat orang”
“Sekarang mbah tinggal dulu, mbah mau urus Agus dan lainya, kalian tunggu disini saja dulu, tenang saja disini aman dari apapun”
“Sebentar mbah, Tina harus selesaikan yang ada disini dulu mbah, Tina malu sama pak Wayan dan penduduk desa yang sudah dibuat susah sama Agus, Gusta, dan Hasto”
“Sudah tunggu disini, jangan kemana mana, mbah mau ke sana dulu, mbah mau liat apa yang dilakukan mereka bertiga di tempat pak Wayan”
Setelah itu Gustin sadar, dia menjadi sangat lemas setelah dirasuki leluhur ibu Tina. kami sekarang ada di tengah hutan yang sangat gelap dan sepi.
“Bagaimana bu Tina, besok siap pulang?”
“Iya pak Paino, sebenarnya tidak enak juga ada disini dan membuat keributan disini, untungnya tadi mbah Sutinah datang”
__ADS_1
“Lha terus bagaimana dengan Agus, mereka tetap ada disini, mereka bertiga hanya cari sesuatu yang ada disini saja, mereka tidak peduli bu Tina mau ada dimana atau sedang bagaimana”
“Jadi cuma sampai disini saja, setelah bu Tina pulang Agus akan kalah dengan sendirinya?” sela Sumadi
“Sepertinya begitu pak Sumadi, lalu apa yang diinginkan pak Sumadi?” bu Tina balik bertanya
“Nggak bisa begini, harus dituntaskan dulu semuanya, setelah selesai dan tuntas baru melangkah ke jenjang berikutnya bu”
“Lho tadi kan sudah dibilang, mbah Sutinah yang urus semuanya, dia akan selesaikan urusan dengan Agus dan yang lainnya kan?” jawab bu Tina dengan nada agak tinggi
“No… masak hanya sepele gini saja, hal sepele gini harusnya pak Wayan dan yang lainnya bisa hadapi. Kalian tunggu disini, aku penasaran dengan yang ada di desa sana”
Aneh, hanya gitu aja sudah selesai, dan mereka akan pulang. Cuma datang sebentar dan sat set wat wet sudah!... nggak ada basa basi atau sedikit sandiwara yang menyedihkan, cuma gitu tok dan selesai.
Aku berjalan ke arah desa, aku nggak percaya begitu saja dengan yang tiba-tiba merasuki Gustin dan semudah itu bu Tina mempercayai itu adalah leluhurnya.
Nggak, aku nggak percaya. Pasti ada yang mengerikan di balik semua ini. Aku harus tau sebelum mereka pergi dari sini, aku tidak percaya dengan yang namanya Sutinah atau siapa itu, aku nggak kenal sama dia!
Desa sudah di depanku, dan semua nampak sepi, tidak ada apapun atau siapapun, lengang sepi seperti sebuah desa yang selayaknya, seperti desa yang seharusnya pada malam hari seperti ini. Ada yang nggak beres disini.
Dua orang remaja yang sedang duduk dan mengobrol, seperti sesuatu hal yang biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa disini.
“Selamat malam bli… “ aku menyapa mereka berdua yang sedang duduk santai
“Oh selamat malam pak, ada yang bisa kami bantu, bapak ini siapa dan mau ke mana kok malam-malam jalan dari tengah hutan” jawab salah satu dari mereka
“Eh, maaf bli, kalian dari tadi sudah ada disini atau barusan saja?”
“Kami berdua dari tadi disini mulai sore, memangnya ada apa ya pak kok tanya seperti itu?”
“Dari tadi sore yang ada disini ada berapa orang?”
“Barusan tiga teman kami pulang, ini kami juga akan pulang sebentar lagi, bapak ini siapa dan kenapa tanya seperti itu?”
__ADS_1
“Apa disini barusan ada sesuatu keramaian?... eh maaf saya kesini cari Agus, Gusta, Hasto, atau Komang”
“Siapa itu…memang ada orang jawa disini?” mereka berdua sedang bicara dan sepertinya sedang mengingat apa yang barusan aku tanyakan
“Tidak ada, sudah lama tidak ada orang Jawa yang datang ke sini” jawab salah satu dari mereka
“Maaf pak, tidak ada orang Jawa ke sini pak, kalau komang eh komang siapa ya pak?”
Semakin aneh, jawaban dua orang remaja yang sedang duduk di warung biasanya ini, ada yang nggak beres, dan tidak sewajarnya. Aku coba jelaskan ciri dari Komang yang aku maksud itu.
Aku takut membayangkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu aku bayangkan.
“Ah itu pak… itu Komang Sentanu. Dia memang asalnya dari sini, tetapi sekarang sudah tidak disini lagi”
“Dimana saya bisa temui Komang Sentanu itu bli?”
“Hehehe di sudah mati beberapa minggu lalu, bapak ini kenapa cari orang yang sudah mati hahahahaha”
“Eh yang bener kalian ini, apa memang dia sudah mati beneran?” aku tidak percaya dengan jawaban dua orang ini
“Sudah pasti pak, dia mati bunuh diri, Sentanu itu ngeleak, tapi tidak berhasil pak. Kalau tidak percaya besok pagi saya antar ke rumah keluarganya pak”
“Eh tidak usah bli… eh kalian tau puri yang ada di tengah hutan itu?”
“Kami tau lah pak, itu punya Ajik Darma. Eh bapak ini keluarga puri, Kok saya tidak pernah tau ada bapak ini disana?”
“Kok kalian bisa mengira saya keluarga puri?”
“Itu cincin yang bapak pakai, cuma keluarga besar di puri itu yang pakai cincin seperti itu pak”
“Eh saya saudara jauhnya pak Wayan…saya baru datang kesini”
“Mau saya antar kesana pak?” tanya salah satu dari mereka
__ADS_1
“Tidak usah bli, saya bisa jalan kesana sendirian”