Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 69. TERCEKIK


__ADS_3

“Kalau lendir itu terkena kita apa pengaruhnya Di”


“Aku nggak tau No, tapi yang jelas kalau kamu doyan dijilati oleh bangsa lelembut, mereka akan menjilati kamu sampai kamu jadi mayat, karena di tubuhmu nanti penuh dengan ledir”


“Hah itu kan cuma omonganmu Di…. ayo kita siap-siap jumatan Di”


Untuk saat ini tidak ada sesuatu yang mengganggu kami, keadaan kamar ini bahkan kata Sumadi terang, beda dengan kamar yang sebelumnya.


Siang ini kami menuju ke masjid yang letaknya tidak jauh dari hotel, hanya dengan jalan kaki sekitar lima menit saja sudah sampai di masjid itu.


Sepulang dari masjid aku dan sumadi mampir ke sebuah depot nasi campur ayam khas daerah sini yang searah dengan hotel…..


Aku sempat melihat dua anak kembar yang sedang memperhatikan kami dari kejauhan.


“Di, kamu merasa ada yang sedang perhatikan kita nggak?”


“Iya No, dari tadi ketika kita keluar dari masjid, mereka jauh di belakang kita dan sedang memperhatikan kita saat ini No”


“Ya sudah, selesai dengan nasi campur ayam ini, kita langsung balik ke hotel saja, semoga kamar kita aman-aman saja”


Sampai di hotel kami baik-baik saja, tidak ada sesuatu pun yang mengganggu kami, bahkan kedua anak mengerikan itu tidak menampakan dirinya.


“Di gimana kondisi kamar?”


“Aman No, tidak ada yang berubah… tapi kondisi bekas kamar kita seperti ada yang barusan masuk ke sana”


“Ada semacam jejak -jejak energi jelek yang masuk ke dalam kamar itu”


Siang hingga sore hari tidak ada apapun yang terjadi, meskipun tidak ada apapun yang terjadi, aku dan Sumadi masih malas untuk melakukan editing video.


Yang sedang aku pikirkan adalah apa yang akan aku lakukan ketika bertemu dengan bu TIna,


Eh jangan, lebih baik kami ada di mobil dulu saja, biarkan Hera dan gek Ayu saja yang turun dan melihat apa yang ada di rumah dan warung itu.


“Sudah jam lima Di, sebentar lagi mbak Hera dan gek Ayu akan datang, kita siap-siap saja, apa yang akan kita bawa Di?”


“No. perempuan dua itu suruh bawa salah satu alat perekam kita. Mungkin ada sesuatu atau suara yang tertangkap alat perekam kita kan lumayan No”

__ADS_1


Kami sedang duduk di teras menunggu Hera dan gek Ayu datang..


Tidak lama kemudian ada dua perempuan yang jalan menuju ke kamar kami yang lama…


“Mbak Hera dan gek Ayu… kami pindah kamar”  panggil Sumadi


“Iya pak” jawab mbak Hera, mereka berdua menuju ke kamar kami yang sebenarnya hanya selisih dua kamar saja


“Kenapa pindah sini pak?”


“Nanti saja kita ngobrol di mobil mbak… tapi perhatikan saja kamar kita yang lama itu mbak”


*****


Kami di dalam mobil yang bergerak pelan disebuah jalan yang ramai, maklum ini jam pulang kantor sehingga pasti lebih padat dari pada biasanya


“Mbak Hera… apa yang tadi mbak Hera lihat di kamar kami yang lama?”


“Mengerikan pak, kamar itu penuh dengan berbagai macam dan bentuk wong samar… mereka bukan dari golongan yang baik, dan sebagian besar pemakan mayat yang busuk” jawab Hera


“Bagaimana kalian bisa pindah ke kamar yang satunya pak” tanya gek Ayu


“Mbak ini ada alat perekam yang biasa kami gunakan ketika kami sedang observasi sebuah tempat yang mengerikan, alat perekam ini sangat peka mbak”


“Saking pekanya suara selemah apapun asal terdengar oleh kita maka akan terekam oleh alat ini, nanti masing-masing bawa satu ya mbak.


“Kalungkan atau taruh di kantong celana kalian. Kenapa masing-masing bawa alat ini, karena mungkin nanti  mbak Hera atau gek Ayu ingin jalan di sekitar warung atau apalah, jadi apabila ada suara yang mencurigakan bisa masuk di salah satu alat perekam ini”


Alat perekam ini kecil bentuknya jadi bisa dimasukkan ke kantung atau dikalungkan seperti aku dan Sumadi, ternyata untuk mbak Hera yang memakai hijab dia lebih suka dikalungkan dan ditutup dengan hijabnya.


“Hera kalungkan aja gimana, kira-kira kelihatan apa tidak gek?” tanya Hera kepada gek Ayu


“Nggak papa Hera, tidak kelihatan kok. Yang saya bawa ini saya taruh di dalam kantung saja” kata gek Ayu


Aku masih ingat jalan menuju ke warung bu Tina, sebenarnya tidak jauh dari hotel, hanya saja lalu lintas yang padat menyebabkan perjalanan jadi agak tersendat.


“Sudah dekat disana itu warungnya… nanti akan saya lewati dulu, agar kita tau suasananya, setelah dirasa aman, nanti mobil ini berhenti sebelum warung itu saja ya”

__ADS_1


“Iya pak Paino, jangan di depan warung, nanti bu Tinanya curiga”


Mobil sudah aku parkir sebelum warung bu Tina yang sekarang sedang sepi, Hera dan gek Ayu sudah jalan menuju ke warung, alat perekam sudah nyala.


Aku dan Sumadi menunggu di dalam mobil, keadaan sudah gelap di sekitar sini. Sekarang tinggal menunggu hasil dari percakapan kedua perempuan itu dengan bu Tina.


“No… tiba-tiba aku merasa aneh”


“Kenapa Di”


“Rasanya aku seperti di pinggir  pintu masuk sebuah tempat yang sangat ramai… disini banyak sekali orang yang sedang mengantri untuk masuk….No”


“Masuk ke mana Di?” aku mulai was was dengan Sumadi


“Aku juga belum tau No, masuknya kemana, ah seperti kalau kita masuk ke sebuah arena yang mengharuskan kita bayar tiket masuknya”


“Di…. kenapa mbak Hera dan gek Ayu tidak merasa apa-apa?”


“Aku… aku juga nggak tau No. tadi waktu kita datang, keadaan disini masih sepi. Tetapi ketika tadi aku sedang sedikit melamun karena mikir keadaan kita, tiba-tiba disini sangat ramai sekali”


“Mbak Hera dan gek Ayu gimana Di, apa mereka dalam bahaya?”


“Aku tidak tau kenapa mereka tidak melihat apapun No, seharusnya mereka melihat begitu banyaknya sesuatu yang ada di sini No… tapi sebentar No.. tiba-tiba ada yang aneh No…..”


“Aneh gimana Di, ayo konsentrasi Di… fokus dan katakan ada apa lagi disini!”


“Jalan besar… jalan besar di sekitar sini kenapa jadi sepi, tidak ada kendaraan yang lewat sama sekali No!”


“Dan… dan kerumunan sesuatu yang belum nampak jelas itu semakin banyak No”


“Tidak No, aku salah menebak! Ternyata kerumunan di luar itu ingin masuk ke dalam mobil ini, di luar memang mirip dengan antrian… tetapi yang mereka tuju adalah kita!”


Setelah Sumadi membahas sesuatu yang sedang berkerumun di luar, aku merasa ada yang tidak beres. Bulu kudukku meremang, dan tiba-tiba aku kehilangan konsentrasi…


Aku mulai ketakutan, tapi sebaliknya Sumadi tidak melakukan apapun selain melihat kesana kemari!


Aku semakin gelisah, karena aku sekarang merasa ada yang sesuatu yang sedang ada di sebelahku… tetapi aku tidak bisa melihat sesatu itu.

__ADS_1


“AAARRG KKKHHHH….KKKHHHKKK….. DI.. ADA KKHHKK YANG MENCEKIK AKHUUUKKHHH! TOLLLLOOOOONG DI”


__ADS_2