Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 34. ENERGI APA MASUK KE TUBUH KAMI?


__ADS_3

Cukup lama juga kami ada di pinggir pantai sambil menikmati dan merasakan tamparan angin dan suara deburan ombak. Tetapi yang membuat aku merasa kerasan disini adalah aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan tubuhku.


Aku merasa berbeda, bersemangat, dan aku merasa lebih sehat, daripada sebelumnya.


Di sampingku Sumadi sedang duduk, tiap ada angin datang dan ombak yang berdebur dia menarik nafas dalam-dalam. Seolah dia sedang memasukan hembusan angin yang berasal dari ombak itu ke dalam tubuhnya.


Aku biarkan saja dia menarik nafas dalam-dalam ketika ada hembusan dan deburan ombak yang datang.


“Di, apa yang kamu rasakan disini, kelihatannya kamu kok bahagia sekali Di?”


“Nggak tau No, rasanya ada yang berbeda dengan tubuhku, rasanya aku lebih bersemangat ketika aku menghirup angin laut, sepertinya ada sesuatu yang muncul dari deburan ombak yang ada di depan kita itu”


“Kamu merasakan ada hangat di tubuhmu Di?”


“Nggak cuma rasa hangat No, tetapi tidak tau ada yang berbeda pokoknya, aku pokoknya merasa sangat bahagia, tubuhku rasanya ringan dan sehat”


“Kita sudah hampir tiga jam ada disini Di, rasanya aku sudah masuk angin rek, ayo pergi dari sini dan cari makan malam yuk”


“Ayo No, aku rasa sudah cukup malam ini kita ada disini,  setelah mendengarkan deburan ombak, merasakan angin agak kencang yang berasal dari laut, sekarang aku merasa cukup sehat No”


Aku nggak tau apakah yang diberikan oleh laut yang tadi kita nikmati di pinggir pantai itu bisa mengakibatkan adanya perubahan di tubuhku,.... Lebih sehat dan lebih bergairah saja.


Nanti saja aku cari informasi dari Gusta dan Gustin saja.


Kami makan agak jauh dari area pantai K. karena di area ini hampir semua harga untuk turis mancanegara, beda dengan perut kami yang isinya nasi bungkus atau nasi jinggo yang harganya lima ribuan saja bisa bikin nagih hahahah.


“Sudah jam sembilan malam No, ayo kita balik saja, aku kan belum selesai memeriksa isi handycam dan alat perekam” kata Sumadi yang suaranya sudah tidak murung lagi.


“Rasanya gak rugi kita tadi ada di laut itu Di, rasanya ada semacam energi yang masuk ke dalam tubuhku”


“Iya No, sama…sama dengan yang aku rasakan tadi”


Pukul sepuluh lewat lima belas menit kami sudah sampai di hotel. Kebetulan hari ini parkiran hotel penuh, kayaknya sedang banyak tamu, tapi untungnya pihak hotel memperbolehkan kami parkir di depan pintu masuk kantor hotel.

__ADS_1


Kami berjalan  menuju ke kamar tempat kami menginap….


Ketika aku buka pintu kamar…. Aku merasa kamar ini suram sekali. Aku dan Sumadi masih di depan pintu kamar yang sedang terbuka.


“Kenapa No…. suram ya kamarnya?”


“Iya Di, apakah karena lampu kamar yang kurang terang ya….?”


“Kayaknya sih iya No, mungkin kalau lampu kamar ini terang keadaan kamar tidak sesuram, ini”


“Eh beli lampu ke toko depan hotel saja dulu Di,.... “


Sumadi menunggu di depan hotel. Sementara aku ke toko yang ada di depan hotel, circle K yang kayaknya buka 24 jam. Ketika sampai di toko ini, ternyata toko ini tidak menjual lampu yang aku maksud.


Coba aku tanya saja di kantor hotel, siapa tau dia punya persediaan lampu yang lebih terang dari pada yang ada di kamar sekarang.


“Nggak ada lampunya No?” teriak Sumadi dari seberang jalan


“Ya No, aku ke kantor hotel dulu”


Aku menyeberang jalan yang saat ini masih cukup ramai. Yah tau sendiri kan kota ini mana pernah sepi kecuali hari raya nyepi.


“Nggak ada No, kata pegawai hotel, mereka hanya punya lampu yang sejenis itu saja, nggak ada yang lebih terang lagi”


“Ya wis Di, besok kita cari di toko elektronik saja, sekarang kita balik ke kamar sana Di”


Cahaya kamar ini sebenarnya sudah terang, tapi aku nggak tau kenapa saat ini kok keadaanya suram. Eh sebenarnya dari kemarin ya kayak gini juga cahaya lampunya.


Tapi nggak tau kenapa malam ini rasanya beda, rasanya suram sekali….


Aku iseng melihat ke arah kanan dari kamarku….


Kebetulan di tidak jauh dari kamar kami ada tempat yang namanya Padmasana (tempat untuk sembahyang dan menaruh sajian banten). Dan saat ini Padmasana itu banyak berisi banten (sesajen).

__ADS_1


Dari kemarin ketika kami kesini banten yang ada di Padmasana itu tidak sebanyak sekarang, aku dekati padmasana yang tidak jauh dari kamar kami.


Ada beberapa batang dupa yang sudah mati diantara banten itu…


“Di, kayaknya hari ini adalah hari raya, coba kamu tanya ke petugas hotel, kenapa kok hari ini padmasananya banyak berisi banten”


Sumadi menuju ke kantor Hotel yang jaraknya tidak jauh dari kamar kami… tidak lama kemudian Sumadi sudah keluar dari kantor hotel itu.


“Iya No, hari ini adalah Kajeng Kliwon…”


“Coba cari di Google atau ChatGPT apa itu kajeng kliwon Di”


“Hmm ini No… yang aku baru baca di google,  itu kajeng kliwon hari yang sakral dan keramat”


“Kajeng kliwon itu sendiri merupakan salah satu upacara keagamaan yang kerap diidentikan sebagai hari keramat oleh umat Hindu. Saat kajeng kliwon tiba, kekuatan negatif dari dalam diri maupun dari luar yang mudah muncul dan mengganggu keseimbangan alam.”


“Dan banten itu sifatnya untuk menetralisir kekuatan negatif, makanya di Padmasana itu banyak bantennya.….Untuk lengkapnya kamu cari sendiri di Google No”


“Ini ada pantangan ketika hari kajeng Kliwon… tidak boleh berpergian ke tempat yang angker. Untung malam ini kita gak ke sana No”


“Waduh…. Lolokcicing kok gak ngasih tau tentang hari ini waktunya kajeng kliwon ya Di. apa dia sengaja nggak ngasih tau kita yang buta tentang adat disini?”


“Sudahlah… yang penting kita sekarang gak kesana No”


Memang dari ketika kami akan pergi ke pantai, di tiap rumah, di tempat persembahyangan itu penuh dengan banten, beda dengan kemarin-kemarin. Tapi tadi aku nggak perhatikan sama sekali.


Baru tadi ini ketika aku mau masuk kamar, lha tempat sembahyang disini juga sama dengan yang ada di luar sana, banten yang disajikan beraneka ragam dan banyak.


Ternyata saat ini sedang ada hari keramat Kajeng Kliwon… dan nanti aku cari di google saja apa makna dari kajeng kliwon…


Di dalam kamar, seperti biasa Sumadi sedang sibuk dengan peralatannya, sedangkan aku hanya tiduran dan memikirkan apa yang akan kami lakukan lagi.


Terus terang untuk kali ini aku takut datang ke rumah itu lagi, rumah itu sudah hampir membunuh aku dan Sumadi. Tapi masak iya sih, niat kami kan baik harusnya tidak ada yang terjadi dengan kami disana.

__ADS_1


__ADS_2