Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 21. BERTEMU SI KEMBAR LAGI


__ADS_3

Yah semoga yang dikatakan Sumadi benar, karena kaca itu penuh dengan embun, jadi aku salah lihat. Tapi nggak, aku tidak salah lihat sama sekali, itu wajah orang tua.


Aku masih ingat wajah orang tua yang sempat terekam di handycam Sumadi, wajah orang tua yang memakai udeng…. Tapi aku ragu, apakah wajah itu sama dengan yang ada di cermin kamar mandi.


Sumadi sedang mandi, sedangkan aku hanya duduk di pinggir tempat tidur, aku sedang memikirkan wajah yang nampak di  cermin kamar mandi, tapi ya sudahlah mungkin apa yang dikatakan Sumadi itu benar, itu mungkin karena siluet dari embun yang ada di kaca.


Siang menjelang sore, setelah Sumadi membeli makan siang di warung jawa yang letaknya tidak jauh dari sini, hanya beda beberapa gang dari hotel ini.


“Rencana untuk hari ini apa No?”


“Malam ini kita akan di kamar utama dulu Di, kita ada disana hingga kita rasa aman, dan tidak ada gangguan lain, baru kita ke ruang tengah”


“Rencanamu di kamar utama apa No?, ingat kita disana jangan sampai menantang siapapun, kita tetap diam saja hingga keadaan disana benar-benar kondusif”


“Iya jelas lah Di, kita kan hanya ingin tau apa saja yang ada disana, setelah itu kita pindah ke ruang tengah, eh mungkin kita lebih sorean dikit aja ke sananya, mungkin jam sembilan kita start dari pom bensin”


“Tapi kondisimu gimana No, apa masih sakit kepala?”


“Masih Di, cuman sudah bisa aku atasi lah, gak perlu ke tempat yang lolokcicing bilang itu. Eh foto yang tadi kita ke rumah itu apa sudah kamu pindah ke komputer? Gimana hasilnya?”


“Oh iya No… sini kamu lihat dulu hasil foto siang ini… “ sumadi menyalakan laptopnya yang tadi dia matikan


“Kamu lihat dan nilai sendiri saja. Terutama bagian dapur dan kamar yang ada tangga kebawahnya itu”


Foto-foto yang dihasilkan Sumadi mulai dari ruang tamu, kamar utama, kamar mandi tidak menunjukan apa-apa dalam artian foto biasa yang bagus.


Sedangkan untuk ruang keluarga, ruang makan, dapur dan yang paling menonjol adalah kamar yang ada anak tangganya menuju ke arah bawah.


“Gambar yang dihasilkan berbayang semua… seperti ada asap rokoknya Di”


“Nah itu No, padahal ini kan siang hari, siang haripun mereka berani menampakan diri di depan kamera No”


“Iya benar Di…mereka berani menampakan diri. Nggak papa Di, nanti malam setelah kita selesai dengan yang ada dikamar utama, kita beralih ke ruang keluarga, aku sudah siap kok”


Sebentar No, kamu perhatikan selama kita melakukan eksplorasi tempat yang berhantu, apakah kita pernah mendapati foto dan kejadian yang menyerang kita seperti kemarin malam?”


“Nggak pernah…. Memangnya kenapa Di?”

__ADS_1


“Selama ini kita selalu baik-baik saja kan, dan baru kali ini kita mendapatkan halangan, atau ada yang ingin menghalangi kita, meskipun niat kita bukan niat yang buruk…. Betul tidak No?”


“Iya…. trus kenapa memangnya Di, ini kan resiko kerjaan kita”


“Gini lho No, apa kamu nggak  berpikir bahwa lolokcicing itu ada tujuan tertentu?”


“Hahahaha… sudahlah Di, gak usah mikir ke sana, pokoknya kita jalani dulu saja apa yang biasanya kita kerjakan… ok”


Siang menjelang sore ini Sumadi seperti biasa mengirimkan email kepada lolokcicing untuk apa  yang kita temukan siang ini di ruang keluarga dan sekitarnya.


Sumadi juga memberitahu kalau malam ini kami akan lanjut untuk ruang keluarga dan sekitarnya.


*****


Jam tujuh malam kami menyiapkan peralatan untuk nanti malam, karena jam delapan kurang kami akan berangkat ke sana.


Jam tujuh tiga puluh menit kami sudah ada di parkiran hotel, ketika aku akan mengambil mobil aku nggak sengaja lihat anak kembar yang jualan makan di sebelah hotel.


Kedua anak itu sedang jalan di trotoar dari arah kanan ke kiri


“Eh bapak yang beli makanan nasi untuk sarapan….. Ini pak, kami tadi kirim makanan untuk rumah toko yang ada disana, mereka kan juga dari jawa, dan nggak biasa makan masakan disini pak” kata Gusta anak kembar yang laki-laki


“Jadi saya dan adik saya kalau pagi, siang, dan malam kirim makanan ke sana pak hahaha lumayan untuk tambahan uang keluarga pak” kata Gusta lagi


“Lha sekarang kalian mau ke mana?”


“Kami mau pulang pak, kami naik angkot kok pak” jawab yang laki-laki


“Kalian berdua tinggal dimana?”


“Kami di daerah jalan GS pak..” jawab Gusta. Dari tadi yang jawab selalu yang laki-laki, saudara kembar yang perempuan pendiam sekali


“Ayo saya antar, kebetulan saya juga mau keluar, kami ke arah jalan GS juga, eh jalan GS itu kan panjang mas Gusta, kalian yang sebelah mana hehehe”


“Nggak usah pak. Rumah kami nggak jauh dari sini kok pak”


“Nggak papa dik, kan biar hemat ongkos naik angkot, ayo saya antar saja”

__ADS_1


“Kami dekat kok pak, kalau dari hotel ini lurus aja, di sekitar jalan K pak” jawab sang kakak


“Nanti kami turun di depan jalan K saja pak” kata sang kakak lagi


Akhirnya mereka berdua mau kami antar, kami kan juga ke arah jalan GS, jadi searah, aku lihat kedua anak itu bukan anak yang berada, dari apa yang mereka pakai sudah kelihatan.


“Usia kalian berapa dik?” tanya Sumadi


“Kami lima belas tahun pak” jawab sang kakak


“Wah adik kamu diam ya dik Gusta heheh”


“Adik saya memang pendiam pak, dia selalu ikut kemana saya pergi, dia gak mau jauh dari saya pak”


“Pokoknya kemana pun saya pergi, di sebelah saya pasti ada adik saya pak, tapi kalau ke kamar mandi tentunya tidak pak hehhe”


Kulirik dari spion tengah mobil, memang kembaran si Gusta ini dari tadi hanya menunduk saja, kayak minder gitu, tapi gak papa, aku akan ajak mereka ngobrol, kasihan juga kayaknya mereka berdua ini.


“Orang tua kalian sehat semua?” aku coba tanya tentang keluarga mereka


“Ibu saya sehat pak, eh bapak saya………. Aduh!, sakit dek!” kata Gusta sambil mengelus rambut adiknya


“Lho kenapa dik Gusta?”


“Ini lho pak, adik saya mencubit lengan saya”


“Oh iya, bapak ini mau ke mana?” tanya Gusta mengalihkan pembicaraan


“Kami sedang ke arah mana ya hehehe, eh pokoknya ke arah pinggiran kota dik, mau datangi teman yang rumahnya ada disana”


“Oh iya dik Gusta, besok pagi bisa kirim kami makanan untuk sarapan, karena makanan di hotel ini kurang nendang rasanya hehehe”


“Baik pak, besok jam berapa saya kirim makanan?”


“Eh jam enam saja dik Gusta, karena jam segitu biasanya pak Sumadi ini selalu kelaparan”


“Kami ada di kamar nomor 10, nanti kalau petugas tanya , bilang aja mau kirim makanan ke pak Paino dan pak Sumadi”

__ADS_1


__ADS_2