Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 27. AKHIRNYA ADA YANG MENOLONG


__ADS_3

Aku nggak tau bagaimana Sumadi begitu kuat memapahku sampai di dalam mobil. Dan bagaimana dia mendudukan aku di  jok mobil.


Yang aku tau sekarang mobil mulai bergerak jalan.


Bagaimana keadaanku…?


Keadaanku masih seperti sebelumnya, hanya saja aku sekarang sudah bisa mulai bernafas, bau busuk yang aneh tadi sudah tidak tercium lagi di dalam hidung dan masuk ke paru-paruku.


Hanya saja mataku… tiap aku membuka mata, bayangan putih seperti asap dan kabut masih ada di dalam mataku, sehingga aku  belum bisa melihat apa yang ada di sekelilingku  sama sekali.


“Di, sekarang jam berapa?”


“Sudah hampir jam tiga pagi, kita sudah hampir sampai hotel kok, nanti aku papah kamu No”


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, mataku buta, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, sementara itu Sumadi yang sehat berusaha menyelamatkan aku.


Aku bisa merasakan mobil diparkir, dan kemudian pintu mobil sebelahku dibuka…


“Ayo aku papah turun dari mobil No. semoga keadaanmu akan semakin membaik setelah ini”


Aku berjalan dengan dipapah Sumadi, terus terang sampai detik ini aku masih belum bisa melihat apa-apa, yang bisa aku lihat hanya kabut putih saja.


Aku pikir setelah pergi dari rumah itu mataku akan pulih, ternyata tidak!


Benar-benar mengerikan dan bisa saja merenggut nyawa kami atas apa yang terjadi di rumah itu tadi, tapi anehnya  Sumadi bisa tiba-tiba sehat dan membantuku hingga sampai di hotel.


Apa yang terjadi dengan Sumadi, apakah dia mendapat kekuatan atau bagaimana?


“Sekarang kamu tidur dan istirahat dulu No, nanti sekitar jam tujuh aku mau hubungi si lolokcicing, aku akan minta saran mereka tentang keadaan kamu yang sekarang agak parah ini”


“Iya Di, tapi yang pasti aku sekarang sudah bisa bernafas agak lega, meskipun masih agak sulit untuk bernafas, tetapi yang parah ini mataku Di”


“Sudah kau istirahat dulu saja, aku juga mau istirahat dulu No”


“Sekarang jam berapa Di”


“Setengah empat No…. sudah diam saja, jangan banyak bicara No, aku juga mau istirahat dulu”


Kupejamkan mataku, aku berusaha agar bisa istirahat barang beberapa jam, dan semoga ketika aku bangun, mataku sudah pulih kembali……


*****

__ADS_1


Tok…tok…tok..tok…


Beberapa kali aku mendengar suara ketukan di pintu kamar, tetapi Sumadi tidak bangun juga, aku ingin membuka pintu kamar, tetapi sayangnya ketika aku buka mataku, yang terlihat masih putih saja.


“Di… bangun, ada orang yang mengetuk pintu kamar”


“Hmmm iya No, sebentar…. Rasanya ngantuk sekali”


“SIAPA DILUAR?” tanya sumadi dengan suara keras


“Saya roomboy pak, ini saya mengantar anak yang katanya mau kirim makanan ke kamar bapak” kata suara laki-laki dewasa di luar kamar


“OH IYA… SEBENTAR” jawab Sumadi


“Di, itu mungkin si Gusta dan Gustin, kemarin kan kita minta dikirim sarapan jam enam pagi, eh sekarang jam berapa sih, mataku masih belum bisa melihat apa-apa Di”


“Sudah jam enam pagi No, sebentar aku ambil sarapannya yang dikirim dua anak kembar itu”


Aku nggak bisa apa-apa, aku hanya bisa tergolek lemas di tempat tidur dengan keadaan buta, sebenarnya bukan buta, mungkin ada sesuatu yang menghalangi penglihatanku.


Aku dengar suara pintu kamar dibuka oleh Sumadi


“Selamat pagi pak, ini saya bawakan sarapan sesuai dengan pesanan kemarin” kata suara anak laki-laki yang bernama Gusta itu”


Entah kenapa, sekarang pendengaranku semakin tajam, suara bisik bisik pun aku bisa mendengar. Mungkin orang-orang yang menderita tuna netra mempunyai kelebihan lebih tajam pendengarannya?


Tadi aku sempat dengar suara adik dari Gusta yang berkata kepada kakak kembarnya, yang aku dengar adalah…. Mas, di kamar ini kok ada iblis bau busuk….


Kemudian kakaknya berkata sambil berbisik… iya dek, mas lihat ada setan di mata bapak yang sedang tidur itu.


Tapi setelah itu Sumadi berkata dengan pelan kepada kedua anak itu…. Kalian berdua bicara apa nak, kok bisa kalian bilang ada setan di mata teman saya yang sedang tidur itu.


Mereka bertiga bicara dengan berbisik, mungkin anggapan mereka agar aku tidak mendengar apa yang sedang mereka biarakan


Tapi salah, aku mendengar semua pembicaraan mereka bertiga!


“Apa yang kalian lihat di mata teman saya nak” kata Sumadi masih dengan berbisik


“Ada setan yang sedang menjilati bola mata bapak itu pak” jawab suara perempuan


“Lalu apa yang harus saya lakukan agar setan yang ada di mata teman saya itu pergi dan tidak menjilati bola mata teman saya?”

__ADS_1


“Eh pak, mungkin kakak saya Gusta bisa membantu” kata suara anak perempuan lima belas tahun itu lagi


“Benar kakak kamu Gusta bisa membantu teman saya ini?” tanya Sumadi lagi


“Bisa pak, kakak saya sangat bisa bantu kalau hanya setan seperti itu”


“Hush dek, jangan gitu ah. Mas kan belum tau setan itu kekuatanya seperti apa” jawab yang laki-laki


“Baik, kalau begitu coba mas Gusta tolong teman saya dulu, semoga teman saya bisa sembuh” kata Sumadi


“Ayo silahkan masuk mas Gusta dan mbak Gustin” kata suara Sumadi


Aku hanya diam saja, seolah aku tidak tau apa yang mereka sedang bicarakan. Tapi kalau memang anak kembar itu bisa  membantu aku, siapa tau dia bisa menolong kami dalam misi kami.


“No. anak kembar ini mau membantu kamu, kamu diam dulu No, karena kata mas Gusta di matamu itu ada iblis yang sedang duduk dan menjilati bola matamu”


“Iya Di…..”


“Maaf pak. saya mau pegang kelopak mata bapak, bapak tolong pejamkan mata dulu saja pak”


“Iya mas Gusta”


“Eh tahan ya pak, mungkin ini agak sedikit sakit, hanya kayak digigit semut kok pak” kata suara anak perempuan yang bernama Gustin


“Iya mbak Gustin, hanya seperti digigit semut kan mbak Gustin”


Tangan remaja itu menyentuh kelopak mataku, ketika aku sedang memejamkan mataku.


Satu kali, dua kali dia mengelus kelopak mataku, dan pada elusan ketiga, rasanya perih dan sakit sekali. Mataku seperti sedang dicubit dan rasanya kayak ada yang menarik bola mataku…..


Beberapa kali aku mengaduh, namun selalu suara Gustin menenangkan aku dengan berkata tenang saja pak, masih lebih sakit kalau digigit anjing pak..


Aku hanya tersenyum apabila adik Gusta ini menenangkan aku.


Tapi swear, yang ini sakit luar biasa, mataku seperti tertarik keluar, dan seperti dicubit dengan keras.


“Nah sebentar lagi pak, bapak jangan buka mata dulu pak…sedang saya suruh pulang anak setan ini ke asalnya pak” kata Gusta


“Eh anak setan, jadi yang sedang ada di mata teman saya ini masih kecil begitu mas Gusta?”


“Iya pak, dia masih mungkin berumur enam puluh tahunan, dia tadi gak mau saya suruh pulang, karena dia suka tinggal di mata bapak ini, kata  mahluk tak kasat mata itu mata bapak ini gurih hehehe”

__ADS_1


“Nah sekarang bapak bisa membuka mata, pelan-pelan pak” kata Gusta


__ADS_2