
“Saya juga kurang jelas tadi lihatnya Hera, karena terhalang gorden pembatas warung dengan rumah bu Tina” jawab gek Ayu
“Pokoknya pak Sumadi, lingkungan rumah itu sangat berbahaya, dan sangat mengerikan, banyak wong samar atau juga siluman yang ada disana, sepertinya disana itu kayak tempat penampungan gitu ya gek?”
“Iya Hera, kayak penampungan mahluk halus… “ jawab gek Ayu
“Sekarang apa yang harus saya lakukan dengan Paino mbak?”
“Biarkan saja dulu pak, dia perlu istirahat untuk memulihkan tenaganya” jawab gek Ayu
“Tapi tubuh tak kasat mata Paino tidak apa-apa kan gek?”
“Tidak apa-apa pak Sumadi, tetapi kalau tadi bu Tina tidak muncul, kalian berdua tinggal nama saja…”
“Jadi tadi itu pak, ketika kami sedang ngobrol, baru saja bu Tina akan melepaskan uneg-unegnya, tiba-tiba Hera merasa ada yang tidak beres, karena banyak wong samar yang pergi dari rumah itu dengan tiba-tiba”
“Mereka keluar dari rumah bu Tina pak.. Jumlahnya banyak sekali” tambah gek Ayu
“Tapi kami berdua tidak mau ikut campur, karena kami kira mereka hanya pergi ke suatu tempat saja”
“Tetapi tiba-tiba bu Tina terkejut dan buru-buru keluar dari warungnya, kami ikuti juga bu Tina yang pergi begitu saja, dan ternyata arahnya ke mobil bapak-bapak ini”
“Penyamaran kami terbongkar akhirnya pak.. Padahal tadi bu Tina sudah mula bicara apa yang sedang ada di pikirannya” kata mbak Hera
“Ya sudah tidak apa-apa mbak Hera dan gek Ayu, yang penting kalian juga selamat dan tidak kurang apapun, eh kalau kalian mau balik ke rumah silahkan lho, biar saya yang urus Paino dulu”
Kedua perempuan baik itu sudah pulang ke rumahnya, kini tinggal aku dan Paino yang masih terbujur lemas di tempat tidurnya…
Aku masih tidak paham sebenarnya ada apa dengan aku dan Paino, kenapa kami sampai diburu dan disakiti oleh kedua anak kembar itu.
Bau asap wangi dupa yang tipis masuk ke dalam kamar, ya asap dupa yang berasal dari tempat sembahyang yang ada di sebelah kamar, meskipun mungkin sebagian dupa sudah mati tetap bau tipis wangi dupa masih tercium dari sini.
Saat ini baru pukul 21.00 aku duduk di kursi teras sambil menunggu Paino yang belum sadar juga… di depan kamar sesekali aku melihat wong samar yang melintas.
Aku ternyata hanya bisa melihat saja tanpa bisa melakukan apa-apa, tapi yah nggak papa juga meskipun keadaan ini mengganggu juga.
lama -lama aku ngantuk juga duduk di teras kamar hotel….
__ADS_1
“Kalian nekat…”
Aku terbangun dengan kaget dan kucari asal suara itu.
Ternyata pak Wayan… dia sedang duduk di sebelahku.
“Kalian berdua nekat” sekali lagi pak Wayan bicara kepadaku
“Kalian harus lebih berhati-hati lagi, kalian tidak tau siapa mereka dan apa yang mereka inginkan dari kalian berdua”
Aku hanya diam saja, tidak menjawab apa yang pak Wayan katakan.
“Sekarang kalian sudah membuka permusuhan dengan mereka dengan datang ke rumah mereka. Hidup kalian akan beresiko”
“Maaf pak Wayan, sebelumnya saya berterima kasih karena pak Wayan sudah menyembuhkan saya dengan cepat, dan membuka mata batin saya sehingga saya bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata”
“Tapi sebenarnya salah kami ini apa pak, kenapa mereka sedemikian rupa berusaha membinasakan kami”
“Kamu dan temanmu tidak ada salah apa-apa, hanya saja kalian berdua ini ada di tempat yang salah dan dalam waktu yang salah juga”
“Sumadi dan Paino… masalah ini rumit sekali, dan meliputi saya, pemilik rumah, dan dukun yang pernah ke sana, eh dukun yang berasal dari jawa itu…”
“Maksudnya bagaimana pak, kami kan tinggal di hotel ini?”
“Hotel ini sudah tidak aman, mulai malam ini kamu harus siaga, tempat ini akan sangat berbahaya”
“Lalu apa yang menyebabkan kami diburu oleh mereka pak Wayan?”
“Kamu datang kesini.. Kamu masuk ke rumah itu, kamu dihajar oleh penunggu rumah hingga tubuh tak kasat matamu mati, kemudian datang anak kembar itu dan berkata kamu dan temanmu luka parah… masih ingat kan kejadian itu?”
“Saya masih ingat pak Wayan…”
“Lalu apa yang kalian lakukan setelah itu..coba kalian ingat-ingat”
“Malam-malam itu kami ke pantai pak Wayan, dan disana kami mendapat energi dari laut selatan yang ternyata mengakibatkan kami bisa sembuh”
“Setelah itu paginya apa yang terjadi?”
__ADS_1
“Eh dua anak itu datang dengan wajah yang berbeda… mereka marah dan mulai saat itu mereka menjauh”
“Ingat tidak kalian berdua diberi nasi oleh mereka, dan apa isi nasi itu?”
“Ingat pak Wayan, nasi yang bisa menyebabkan tubuh tak kasat mata kami mati dan akhirnya kami pun akan mati”
“Sekarang pak Sumadi, dari situ apa yang bisa bapak simpulkan?”
“Eh apa ya pak Wayan, eh mungkin karena kami berhasil masuk ke rumah belakang setra, dan keadaan kami luka parah.. Eh mereka ingin memakan kami pak…?”
“Salah… bukan itu maksud mereka…pikirkan lagi saja apa yang terjadi dengan kalian…”
“Malam ini saya akan suruh anak buah saya untuk menjaga kalian berdua sampai matahari terbit”
“Atau kalau kalian mau selamat sebelum tengah malam ini pergi dari sini dan bawa temanmu untuk sementara waktu hingga keadaan disini sudah mulai aman”
“Saya akan tetap disini saja pak Wayan, dan terima kasih atas bantuannya”
Pak Wayan sudah hilang, dia kembali ke tempat asalnya…
Aku hanya sendirian duduk di teras hotel…, tapi ada yang berbeda dengan keadaan hotel saat ini… lebih sepi dari biasanya.
Mobil yang diparkir juga tidak sebanyak malam sebelumnya, padahal ini kan jumat malam, harusnya ramai disini.
Kondisi Paino pun masih entah tidur atau pingsan, pokoknya barusan aku lihat dia masih memejamkan mata.
Sekarang sudah pukul 22.30, yang aku rasakan sekarang adalah aku tidak melihat wong samar sama sekali, suhu udara disini pun menjadi naik semakin hangat.
Kututup pintu kamar hotel, dan kemudian aku berjalan menuju ke arah kantor hotel…
Tidak ada orang sama sekali. Kulihat jalan raya depan hotel juga sepi…
“Waduh, ada yang tidak beres disini, apa yang harus aku lakukan…”
Setengah berlari aku balik ke kamar hotel..
Ada yang tidak beres disini, tempat sembahyang yang ada di sebelah kamarku sekarang sudah tidak ada, berganti menjadi sebuah taman dengan pohon beringin kecil.
__ADS_1
Tadi masih ada beberapa mobil yang terparkir termasuk mobil Paino, tapi sekarang tempat ini sudah kosong sama sekali tidak ada mobil yang terparkir.
Segera aku masuk ke dalam kamar, sebelum kamar berubah menjadi sesuatu yang mengerikan…