Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 98. TENTANG DESA DAN PURI INI


__ADS_3

Pagi hari yang sejuk di bale dauh, kami sedang bicara dengan pak Wayan, aku ceritakan tentang apa yang kami lakukan kemarin malam.


“Menolong orang itu perbuatan yang baik, meskipun itu musuh kita atau pun sahabat kita” kata pak Wayan


“Saya tau dan paham apa yang pak Paino dan pak Sumadi ceritakan, dan saya tidak menyalahkan bapak-bapak ini” kata pak Wayan


“Hanya saja yang saya himbau adalah jangan banyak bicara ketika ada di daerah ini tentang kalian dan puri ini kepada  penduduk desa disana itu”


“Bukan kami warga disini ini sombong, hanya saja ada beberapa orang yang suka memprovokasi penduduk desa untuk berusaha menyerang kami juga”


“Alasannya sama saja, mereka mengira disini ada harta yang kata mereka itu harta dari bumi, penduduk di desa penduduk miskin, laki-lakinya tidak mau berkarya. Mereka hanya minum arak dan diam di sana saja”


“Memangnya mereka sudah pernah datang kesini pak?”


“Sudah beberapa kali, dan itu diprovokasi oleh orang-orang yang mendalami ilmu hitam. Memang mereka bisa lihat kalau disini ada hartanya”


“Apa ada hubunganya sama Agus juga pak?”


“Ini yang sekarang sedang saya pikir pak Paino dan pak Sumadi, saya khawatir kalau Agus menggerakan penduduk desa untuk memaksa kami keluar dari puri ini”


“Hmm berarti ketika kita cari dua anak kembar itu, dia ada disana bersama penduduk desa, apa mereka berdua cerita mengenai kami ya pak?” tanya Sumadi


“Saya tidak tau pak Paino dan pak Sumadi, tapi hal itu pasti bisa saja terjadi. Dan apabila itu memang terjadi, saya dan penduduk puri ini butuh bantuan kalian berdua”


“Kami akan ada disini sampai selesai pak, bapak jangan khawatir” aku berusaha menenangkan suasana

__ADS_1


“Oh iya pak Wayan, kalau kami ingin jalan ke hutan malam-malam gitu apakah aman buat kami pak?”


“Aman, selama kalian tetap memakai cincin itu, tidak ada mahluk hutan yang berani mengganggu kalian, karena apabila ada yang mengganggu kalian  maka dia akan berhadapan dengan sang ratu Rangda”


“Selama ini Rangda yang masih mau kami ajak kerja sama untuk menjaga hutan dan puri ini. Kalian jangan salah sangka tentang Rangda, dia itu bukan sosok baik, dia sangat jahat, dengan siapapun dia akan jahat”


“Hanya saja leluhur kami mempunyai perjanjian khusus dengan dia”


“Oh iya, jangan ke arah hutan bagian dalam, nanti kalian tersesat, bukan tersesat karena makhluk halus disana, tetapi karena pohon disana itu bentuknya sama semua, dan bagi yang tidak biasa pasti akan tersesat disana”


“Dan satu lagi, jaga sopan santun dan jangan bicara yang kurang baik ya”


Dari pagi hingga sore hari tidak ada aktivitas apapun yang kami lakukan disini, hanya tidur dan duduk-duduk saja, tetapi mulai sore hari aku merasa nggak enak hati, seperti ada yang sedang berusaha masuk dan bicara denganku.


“Kamu kenapa No, kok dari tadi gelisah?”


“Eh apa ya Di, seperti ada sesuatu yang membuat aku gelisah”


“Apa karena urusan dengan dua anak itu No?”


“Bisa juga, tapi kayaknya bukan masalah anak kembar itu, nggak tau apa yang sedang aku pikirkan sekarang ini Di”


Malam hari tiba, aku dan Sumadi berniat untuk jalan-jalan di sekitar hutan, aku ingin tau ada apa saja di hutan ini. Tapi pada dasarnya aku kepingin mengintai apa saja yang ada di warung tempat Komang dan kawannya minum arak.


Aku merasa malam ini kami akan mendapat pengalaman baru!

__ADS_1


*****


“Kita sebaiknya jalan di hutan saja Di, jangan di jalan setapak ini, aku kepingin memantau kegiatan di warung itu”


“Maksudmu gimana No?”


“Kita melipir di hutan saja untuk menuju ke desa, aku punya firasat nggak baik hari ini Di”


“Ya udah No, ayo kita jalan sekarang saja, keburu kita ketemu sama orang-orang yang mau ke sini”


Kami berdua masuk ke dalam hutan. Tapi kami tidak masuk terlalu dalam, karena kami ingin melihat jalan setapak, selain itu aku kepingin memantau warung tempat pemuda desa sedang minum arak.


Hahaha baru saja kami masuk ke dalam hutan, sosok yang biasanya bersama kami ini muncul lagi, celuluk dan sang ratu, seperti biasa mereka selalu melihat cincin yang kami pakai.


“Sebelumnya kita takut sama mereka berdua Di, tapi sekarang malah kita takut kalau mereka berdua tidak ada disini hehehe”


“Iya No, ayo tetap pasang mata, kita tidak tau apa yang akan kita hadapi nanti”


Kami berjalan terus menyusuri hutan tetapi tidak terlalu jauh dari jalan setapak, ketika kami hampir masuk kawasan desa, dari tempat kami sembunyi ini kami bisa melihat ada beberapa orang yang sedang berkumpul di warung tempat pemuda disini minum arak.


“Apa mereka itu si kembar dan pemuda desa ini No?”


“Mbuh, aku dewe nggak jelas juga liatnya, tapi coba kamu lihat yang paling dekat dengan obor itu, kayaknya itu kan si Gusta Di”


“Kita tetap disini dulu aja, aku merasa sebentar lagi mereka akan entah melakukan apa Di”

__ADS_1


“Sik bentar No, aku ini heran, Gusta dan Gustin ini kan sebenarnya seperti ini karena diperintah ayahnya kan, mereka ini sebenarnya kan baik, tapi kenapa mereka masih bernafsu untuk mencari harta itu, padahal Hasto sudah mati”


__ADS_2