
“Kamu tau dari mana hantu orang tua itu baik Di?”
“Ndak tau No, pokoknya aku merasa dia orang baik dan berbeda dengan yang kita temui disini”
“Ah sudahlah….No ayo kita cari makanan, makanan dari hotel ini gak cukup buat isi perutku. Eh aku penasaran dengan Gusta, ayo kita datangi saja lapak jual makanan dia No”
“Ngapain ke sana Di?”
“Iseng aja ke sana No, kepingin tau reaksi mereka ketika kita kesana aja”
“Jangan cari masalah Di”
“Nggaklah, kalau yang jualan ibunya kita beli aja dagangannya”
“Kamu yakin aman makan nasi bungkus itu meskipun yang jualan itu ibunya Di?”
“Hehehee ya nggak sih No, pokoknya aku kepingin keluar dari kamar sejenak saja, sekalian kita lihat kedua anak kembar itu bagaimana reaksinya”
Aku setuju dengan usul Sumadi, kami menuju ke lapak tempat anak kembar itu berjualan.
Jikalau benar apa yang dikatakan mbak Hera dan Gek Ayu, harusnya kedua anak kembar nanti akan terkejut dan semakin tidak bersahabat kepada kami.
Keluar dari Hotel kami belok ke arah kiri hotel. Sekitar beberapa puluh meter adalah lapak jualan nasi bungkus mereka.
Dari kejauhan kami lihat lapak jualan mereka masih ada, tetapi aku nggak melihat dua anak itu ada disana.
“No…. yang jualan koyoknya bukan dua anak itu, apa mungkin itu ibunya ya No?”
“Ayo kita kesana No, aku penasaran dengan ibunya hehehe, anaknya aja ganteng dan cantik, gimana dengan ibunya”
“Iya Di tapi nggak usah aneh-aneh c*k”
“Tenang ae No”
Dasar Sumadi… mulai nggak nggenah…
Kami semakin dekat dengan dagangan dengan payung besar dan meja, pagi ini kebetulan yang beli tidak sebanyak biasanya.
Di lapak hanya ada perempuan yang mungkin umurnya sekitar empat puluh atau lima puluh tahunan, wajah perempuan itu cantik… tapi aku nggak tau apakah memang itu benar ibu dari dua anak kembar itu.
“Selamat pagi bu, saya mau beli nasi untuk makan setengah siang ini, yang ada nasi bungkus apa saja bu?”
“Iya pak.. Sudah agak siang, jadi yang sisa cuma nasi ayam dan nasi telur aja pak”
Ibu yang jaga ini memang cantik, cara bicara dan cara tersenyum kepada pembeli juga cantik, tapi di balik raut wajah cantiknya ini ada sesuatu yang dia simpan.
Seperti ada kepedihan,...
Hahahah aku sok tau, tapi bener…. Wajah ibu penjual nasi ini agak kurang bahagia kalau menurutku.
__ADS_1
“Maaf apakah ibu ini ibu dari si kembar Gusta dan Gustin?” tanya Sumadi tiba-tiba
“Iya pak… eh ada apa dengan anak saya, apakah anak saya bikin masalah?!!!” jawabnya dengan nada tinggi
Tiba-tiba raut wajah ibu ini berubah, dari yang awalnya biasa saja tapi sedikit sendu…..mungkin kurang belaian belalai, sekarang menjadi wajah yang khawatir dan ketakutan.
“Ada apa dengan anak saya pak.. Apakah mereka bikin masalah!” tanya ibu untuk kedua kalinya
“Nggak bu, nggak ada apa-apa. Saya ini cuma tanya saja kan bu, biasanya kan yang jualan disini Gusta dan Gustin”
“Alhamdulillah…..” kata ibu-ibu itu
“Eh bapak ini dari jawa, disini berlibur atau apa?” tanya ibu itu mengalihkan pembicaraan
“Kami bukan berlibur bu, kami sedang ada kegiatan disini, itu di hotel C itu kami menginap sudah tiga hari ini bu”
“Kebetulan kemarin saya minta tolong anak ibu untuk diantarkan makanan untuk sarapan, dan untuk siang hari. Hanya saja saya ini kami sekarang agak lapar, jadi kami ke lapak ini bu hehehe”
“Saya pikir Gusta dan Gustin ada disini bu, apa kedua anak ibu baik-baik saja?. Kok tadi ibu kaya kaget gitu”
“Oh gitu….Kok anak saya nggak pernah bilang ke saya ya kalau bapak-bapak ini mau berlangganan…eh..” jawab ibu si kembar dengan suara pelan
“Eh iya maaf pak, hari ini yang jaga kebetulan saya, karena eh tidak papa pak….Karena memang waktunya saya yang jaga pak”
“Sebentar pak…eh kapan terakhir anak saya antar makanan ke tempat bapak?”
“Tadi pagi…tadi jam enam mereka datang ke kamar saya”
“tapi…tapi.. atau mungkin saya lupa pak.. Tapi.. eh tapi entah, mungkin saya yang lupa…atau anak saya yang lupa sehingga bapak ke sini?!!!”
“Lho kan tadi saya sudah bilang, anak ibu sudah antar sarapan untuk kami bu, sedangkan sekarang kami agak lapar, sehingga kami kesini lagi” jawab Sumadi
Ibu ini mendadak menjadi aneh… seperti kebingungan sendiri, dia seperti sedang berusaha menenangkan dirinya yang sedang kebingungan dengan kedatangan kami.
Omongan dia nggak fokus sama sekali, tadi dia bilang memang waktunya dia yang jaga, tetapi nggak lama kemudian dia bilang kalau anaknya sedang sakit.
Kalau tadi dia bilang Gusta dan Gustin sedang sakit, dan sekarang ada di rumah, lalu siapa yang tadi pagi antar makanan di kamar.
“Bu, kalau boleh tau, lapak ibu buka jam berapa?” aku mulai agak curiga dengan ibu ini atau dengan kedua anak itu
“Eh jam tujuh lebih saya sudah ada disini pak, dan mungkin jualan jam tujuh tiga puluh…”
“Oh gitu bu, jadi kalau jam enam pagi berarti semuanya sudah siap dong bu?”
“Kalau jam enam pagi masih bungkusin makanan pak… eh maaf ada pembeli pak. Saya layani pembeli dulu pak”
“Nggak papa bu, tenang aja”
Lumayan laris juga, ada beberapa pembeli yang datang ke lapak nasi bungkus ini, setelah melayani beberapa pembeli kami lanjutkan ngobrol lagi.
__ADS_1
Tapi terus terang perempuan ini agak aneh, nggak tau yang aneh itu dia atau anak dia….
“Oh iya….kemarin malam kami juga antar anak ibu pulang lho bu, setelah anak ibu Gusta dan Gustin lewat depan hotel setelah katanya antar makanan di toko sebelah hotel”
“Antar makan malam ke toko sebelah hotel….?” tanya ibu itu dengan wajah melongo
“Saya kok nggak pernah tau anak saya mengantar makanan ke toko sebelah pak”
“Kemarin malam mereka berdua ada di rumah kok pak, mereka sore sudah ada di rumah dan tidak pergi ke mana-mana”
“Kok mereka berdua ada di rumah bu, padahal kan mereka berdua kami antar pulang bu?”
“Eh iya….. Eh saya juga lupa apakah mereka ada di rumah atau tidak pak, eh karena eh… iya sepertinya mereka berdua tidak ada di rumah kok pak”
Ibu penjual ini semakin gugup, dia semakin tidak bisa mengontrol ketenangan dirinya, dia semakin menunjukan kebohongannya.
Semakin aneh, dan ada yang nggak beres dengan dua anak kembar itu, atau yang nggak beres bisa saja ibu ini.
Sumadi memberi tanda stop pembicaraan dengan mencolek lenganku, dan berkata kalau kita ada kerjaan dan harus segera balik ke kamar hotel.
“Oh maaf bu, eh kami sedang ada pekerjaan yang kami tinggal di kamar, kebetulan teman saya barusan mengingatkan saya”
“Bu, kalau boleh tau nama ibu ini siapa?”
“Saya Agustina pak, panggil saja saya bu Tina” jawabnya dengan wajah yang masih bingung campur takut
“Maaf bu Tina, bukan maksud saya mengganggu bu Tina, tapi bolehkan saya minta nomor telepon ibu atau suami ibu, saya mungkin butuh sesuatu jadi bisa hubungi ibu Tina?”
“Buat apa pak…buat apa tanya nomor telepon saya pak” tanya bu Tina curiga
“Yah buat pesan makanan saja bu, saya kesulitan mencari makanan dekat hotel itu bu” tambah Sumadi
Setelah mendapat nomor telepon ibu Tina, kami kembali ke kamar hotel. Aku terus memikirkan siapa anak yang datang dan mengantar makanan ke kamar kami.
Perempuan itu …ibu dari dua anak kembar itu seperti sedang tertekan dan keliatanya dalam keadaan yang tidak baik.
“Bu Tina itu tadi ketakutan No, jangan kamu teruskan tanya-tanya ke dia”
“Habisnya aku penasaran Di”
“Iya No, aku juga penasaran. Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk tanya-tanya, nanti saja kalau kita bertemu dengan dia lagi"
“Gini lho Di, kalau kedua anak itu memang sedang sakit dan ada di rumah, lalu yang kita temui dan mengantar makanan di hotel itu siapa?”
“Sudah…. Sudah No, urusan kerjaan kita masih rumit, jangan ditambah dengan urusan aneh tentang kedua anak kembar itu lagi. Lebih baik kita fokus ke kerjaan kita aja No”
Benar kata Sumadi, lebih baik aku nggak urus kedua anak kembar itu, tapi aku merasa ada yang tidak beres dengan ibu Tina tadi, dari matanya seolah dia berkata minta tolong.
Dia itu aneh, dari lima menit obrolan tadi, wajahnya terlihat ketakutan, sepertinya ada sesuatu yang sangat ditakuti dan tidak ada jalan keluarnya.
__ADS_1
Tapi benar kata Sumadi, itu bukan urusan kami. Dan kami tidak berhak ikut campur di dalamnya, kecuali kami terpaksa ikut campur karena kami terlibat heheheheh.