Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 50. LUKA DI TUBUH SUMADI


__ADS_3

“Heheheh iya nanti akan saya lihat apa yang terjadi dengan tubuh saya mbak”


“Sebentar, saya ambil kursi lagi, kalian duduk dulu ya, saya mau ceritakan apa saja yang sempat kami alami ketika terakhir kalian pergi dari sini”


“Tapi sebentar, saya akan bangunkan Sumadi dulu, kalian tunggu dulu di teras ya…Oh iya kalian berdua apa tidak kerja?”


“Ini kan juga baru jam tujuh kurang pak,  kami kesini karena kami mengira pasti bapak-bapak ini dalam keadaan luka parah baik luka yang tak kasat mata atau yang kasat mata” jawab Hera


Aku berdiri dari kursi teras, tapi rasanya tubuhku sakit sekali, aku hampir tidak bisa berdiri…. Aku duduk lagi di kursi teras….


“Kenapa pak Paino?” tanya Hera


“Tidak tau mbak, tubuhku rasanya remek, sakit semua dan linu-linu, padahal tadi waktu kami datang kesini nggak ada yang sakit mbak”


“Kan tadi Hera dan gek Ayu udah bilang pak, tubuh bapak kayak habis berperang pak. Makanya tadi Hera dan gek Ayu merasa banyak sekali tanda-tanda bekas adanya mahluk mengerikan di tubuh bapak ini” kata mbak Hera


“Kan biasa pak, linu itu munculnya setelah beberapa jam istirahat pak hehehe” potong gek Ayu


“Bukan hanya tanda-tanda dari serangan wong samar pak, tapi tubuh bapak ini juga pasti sakit sekali” tambah mbak Hera


“Iya mbak, sebentar mbak… saya akan coba untuk berdiri lagi, aduuuh rasanya remuk dan tulang tulangku rasanya kayak linu semua mbak, rematik seluruh tubuh hehehe, atau mungkin saya sedang dilanda asam urat ya heheh”


Aku berusaha mencairkan suasana, aku tau kalau kedua perempuan yang ada di depanku ini sedang tegang entah mereka melihat apa.


Aku juga penasaran dengan keadaan Sumadi yang sampai sekarang belum bangun juga.


Kulihat jam tanganku, ternyata benar sekarang sudah pukul tujuh pagi,.... Jam tanganku ini dari pertama kami ke sini sudah kami rubah dari waktu WIB menjadi waktu WITA, selisih satu jam dari daerah kami.


Pagi ini tidak ada Gusta dan Gustin….  tidak ada juga nasi bungkus yang datang kesini. Tapi nanti saja aku bahas dengan Sumadi.


Perlahan-lahan aku bisa berdiri dan berjalan pelan menuju ke dalam kamar, tapi rasa sakit di sekujur tubuhku apalagi di tiap persendian tulang mengharuskan aku untuk berjalan sangat pelan ke dalam kamar.


Kudekati tempat tidur dimana Sumadi masih tergolek….


Tapi ketika aku menengok ke kaca yang ada di dinding kamar hotel…. Ya Allah, benar kata dua perempuan itu, wajahku… di beberapa bagian nampak lebam,


Lampu kamar kebetulan dari semalam nggak aku matikan sehingga aku bisa lihat keadaan Sumadi yang…


“Astaga….!”


“Di, bangun Di!...........” teriakku membangunkan Sumadi yang masih menutup matanya


Wajah Sumadi di beberapa bagian nampak lebam. Ada darah kering di ujung bibir dan hidungnya, aku nggak tau di bagian lain dari tubuh Sumadi….apakah ada yang luka juga.

__ADS_1


Beberapa kali aku bangunkan Sumadi, kupegang tubuh Sumadi, dia hanya mengaduh kesakitan.


“Bangun Di, ayo bangun!!!!!”


“Keadaan kita tidak baik-baik saja Di”


“Aaaaaggh… aduh..” erang Sumadi yang masih belum membuka matanya


“Bangun Di, ayo bangun dulu…lihat tubuh kita berdua ini Di”


Sumadi membuka matanya perlahan, tapi entah karena sakit atau gimana dia menutup matanya, kemudian dia mengerang lagi ketika berusaha untuk duduk di pinggir tempat tidur.


“Noooo.. Shakiiittt… shesshaak sekali”


“Paksa Di!…. paksa ayo bangun Di!, sekarang juga  kita harus ke rumah sakit Di”


Tidak ada jawaban dari Sumadi, dia hanya mengerang dan dadanya itu lho naik turun seperti sedang kesulitan bernafas.


Sumadi mencoba berguling ke kiri dan ke kanan, ketika dia mencoba untuk berguling kaosnya tersingkap…


Astaga….!


Ada lebam hitam di bagian perut dan bagian tulang rusuk, dan bagian dada tengah Sumadi.. Ada juga di bagian pinggang Sumadi…sepertinya Sumadi habis dijadikan sansak hidup oleh sesuatu.


Tapi tidak hanya Sumadi saja, tubuhku juga luar biasa sakitnya, aku juga pasti habis dihajar juga, tapi entahlah.. Pokoknya kami masih hidup.


“Aarrgghh….. Aaarrghhh…hhhggg…. huuuff” dada Sumadi naik turun, dia kelihatannya sedang kesulitan bernafas, wajah Sumadi semakin  pucat ketika menarik nafas


“Sudah jangan bicara dulu, lebih baik kita pergi ke rumah sakit dulu saja, nggak cuma kamu, akupun sama dengan kamu, tubuhku rasanya remuk semua Di”


“Diluar ada mbak Hera dan gek Ayu… kita minta tolong mereka untuk antar ke rumah sakit sebelum mereka berdua berangkat kerja Di”


“Kamu bisa berdiri Di?”


Sumdi hanya menggangguk lemah, mulut dia terbuka ketika menarik nafas, dia benar-benar kesulitan bernafas


Aku bantu Sumadi untuk berdiri, kemudian aku papah dia berjalan ke kursi hotel… aku papah dia meskipun keadaanku juga sama dengan Sumadi, tetapi aku alhamdulillah masih bisa jalan.


Setelah Sumadi aman di kursi kamar, aku keluar lagi untuk minta tolong kedua mbak-mbak itu…


“Mbak Hera dan gek Ayu… eh kami bisa minta tolong diantar ke rumah sakit?”


“Keadaan Sumadi lebih parah daripada saya mbak, saya takut ada apa-apa dengan Sumadi”

__ADS_1


“Tubuh  Sumadi penuh lebam hitam mbak…..”


“Waduh, gek… kita antar mereka ke rumah sakit yang dekat dari sini saja, itu di rumah sakit PR saja gek” kata Hera


“Bentar Hera, gek bilang suami dulu, kita datang terlambat ke kantor karena sedang antar orang yang sakit”


Gek Ayu mengambil ponselnya, dan kemudian menelpon suaminya yang merupakan saudara dari mbak Hera. dia bicara dengan menggunakan bahasa daerah sini, sehingga aku nggak paham apa yang mereka bicarakan.


Setelah mematikan sambungan ponselnya gek Ayu kemudian berbicara dengan Hera dengan menggunakan bahasa daerah juga, Hera manggut-manggut yang intinya paham dengan apa yang diomongkan Gek Ayu.


“Ayo pak, kami bisa antar ke rumah sakit, tetapi kami tidak bisa nunggu bapak-bapak ini, karena pekerjaan kami sedang banyak”


“Iya nggak papa gek Ayu… eh tolong panggilkan mas Nyoman yang ada di kantor hotel untuk bantu Sumadi”


“Oh iya pak, Hera dan gek Ayu nggak ada mobil, kami menggunakan motor. Eh kami panggilkan taksi dulu ya pak, nanti kita bersama sama ke rumah sakit”


*****


Satu unit taksi sudah ada di depan hotel, mas Nyoman sudah siap memapah Sumadi, sedangkan aku masih bisa berjalan sendiri meskipun agak sulit untuk melangkah.


Aku hanya membawa tas ransel kecil yang berisi dompet, hp, nggak lupa aku juga bawa alat perekam dan kamera handycam…siapa tau nanti diperlukan.


Gek ayu dan mbak Hera sudah siap di atas motor mereka.


Setelah aku dan Sumadi ada di dalam taksi, gek Ayu bicara dengan driver taksi untuk mengantar kami ke rumah sakit yang tidak jauh dari sini.


Ada sekitar lima belas menit karena keadaan jalan pagi hari yang cukup padat… kami sudah sampai di rumah sakit, di depan ruang UGD mbak Hera dan gek Ayu sudah memanggil beberapa petugas jaga dengan satu buah kursi roda untuk Sumadi.


Sumadi sudah ada di brankar ruang ugd untuk menjalani beberapa pemeriksaan termasuk harus di ronsen karena luka lebam di dada dan yang ada di sekujur tubuhnya.


Dan yang mengerikan itu luka lebam di bagian dada dan rusuknya… itu yang membuat aku khawatir


Sedangkan aku hanya beberapa yang lecet saja, aku tidak separah Sumadi. Tetapi aku tetap sama saja tiduran di brankar rumah sakit.


Hera dan gek Ayu yang sibuk dengan bagian administrasi rumah sakit.


“Pak Paino, sayangnya untuk korban macam perkelahian seperti ini tidak ditanggung BPJS. Eh maaf pak, kami saat ini tidak mempunyai dana untuk membayar segala keperluan bapak disini” kata Hera


“Tidak papa mbak Hera, saya yang akan urus semuanya, sekarang mbak Hera dan gek Ayu kerja saja dulu. Nanti akan saya kabari keadaan kami selanjutnya mbak”


Setelah kedua perempuan itu pulang, aku sempat bicara dengan dokter jaga….


Dokter itu bilang bahwa Sumadi harus dilakukan pemeriksaan lebih mendalam untuk dipastikan apakah ada luka dalam atau apakah ada luka yang berbahaya selain lebam di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


Karena kata dokternya bagian dalam tubuh Sumadi kemungkinan besar lebih parah dari pada permukaan kulit Sumadi.


Tadi aku sempat ditanyai beberapa kali, apakah kami ini korban perkelahian atau korban kekerasan hehehe, dan disarankan kami lapor ke pihak yang berwajib.


__ADS_2