
Apa yang terjadi dengan diriku, kenapa aku bisa terluka paran seperti ini… Iya. kerongkonganku rasanya ada yang menyumbat dan rasanya sangat kering. Aku butuh air minum, tenggorokanku rasanya sangat kering!
Aku tidak bisa menggerakan kedua tanganku, dan dari tadi aku dengar suara mbak Hera yang sedang melantunkan ayat suci Al Quran.
Tadi sebelum aku bisa mendengar suara orang yang ada di sekelilingku, tadi aku sempat ada di sebuah ruangan yang gelap, disana ada Sumadi.
Tadi… sebelum tadi, aku ada di puri pak Darma dan sedang memecah batu atas suruhan Sumadi, tadi sebelum tadi tadi dan tadi, aaarrgh kepalaku sakit sekali.
“Dok. Itu, teman saya menggerakan jarinya” pekik suara Sumadi agak keras
“Ya betul pak Sumadi, dia sudah merespon, sudah ada perkembangan baik, kita pantau terus saja keadaan dia pak Sumadi”
SUMADI POV
Ya Tuhan, setelah tiga hari koma akibat tabrak lari, akhirnya Paino sekarang mulai bisa menggerakan jarinya, aku tidak menyangka dia bisa terpengaruh dengan sesuatu, hingga keadaanya seperti ini.
Jari Paino dengan cincin merah delima itu mulai bergerak meskipun sangat lemah.
“Lebih baik bapak dan ibu tidak berada di ruangan ini, sebenarnya ruangan ini harus steril, hanya karena kebijakan dari pemilik rumah sakit sehingga kalian diperbolehkan untuk masuk ke sini” kata salah satu petugas rumah sakit
“Baik lah pak, kami akan tunggu di luar saja, terima kasih atas kelonggarannya pak”
“Ayo mbak Hera, Gek Ayu, kita tunggu di depan saja, kita memang seharusnya tidak ada disini”
“Iya pak Sumadi, eh kemarin waktu bapak cari arwah pak Paino gimana pak?”
“Yah… saya nggak tau mbak Hera, saya kan cuma dibantu pak Wayan untuk masuk ke alam Paino, beberapa kali tidak berhasil. Tapi yang ketika kali ketiga pak Wayan memasukan saya ke alam Paino akhirnya berhasil juga”
__ADS_1
“Kejadiannya bagaimana sih pak, kok Hera bingung?”
“Waktu itu kami mau ke rumah bu Tina, kami naik taksi mbak. Entah gimana tiba-tiba Paino bilang kalau kita ada di djalan yang salah, kemudian dia suruh taksi itu untuk kembali ke rumah belakang setra.
“Terus waktu sudah kembali, tiba-tiba Paino bilang kita ada di tengah hutan, kemudian dia turun dengan tiba-tiba. Padahal waktu itu kami ada di pinggir jalan yang ramai”
“Saya nggak habis pikir, kenapa waktu itu Paino turun dari taksi, dan tiba-tiba Paino berjalan ke tengah jalan, dan akhirnya dari arah berlawanan ada truk muat pasir berjalan kencang yang langsung menghantam Paino”
“Waktu sebelumnya itu kan memang kami mendapat info dari pak War kalau kita dalam bahaya mbak, pak War suruh kita agar tetap ada di rumah belakang setra saja. Tapi terlambat, Paino sudah jadi korban mbak”
“Kerongkongan dia hancur, sebagian wajahnya rusak karena waktu itu dia terseret roda truk dalam posisi telungkup”
“Malam kejadian itu saya langsung email ke lolokcicing, dia suruh secepatnya bawa ke sini. Akhirnya kembali lagi ke rumah sakit ini mbak.
“Tapi saya tidak tau bagaimana dengan kesembuhan Paino nantinya, karena tadi mbak Hera dan Gek Ayu lihat kan, wajah dia penuh dengan perban, dan tenggorokan berlubang dan ada selangnya juga”
“Tapi anehnya dalam keadaan begitu dia masih hidup mbak, dokter sampai heran, bagaimana bisa orang dengan keadaan hancur seperti itu masih bisa hidup”
“Saya belum tau gek Ayu, karena keadaan Paino seperti ini pasti perlu waktu lama untuk proses penyembuhannya”
“Apa pak Wayan pernah datang ke sini pak?”
“Mulai dari hari pertama hingga tadi dia ada di sini untuk memantau pergerakan arwah Paino yang sempat saya cari itu”
“Apa pak Wayan tidak bisa bantu Pak Paino pak?” tanya Hera
“Saya tidak tau mbak Hera, karena luka yang ada di tubuh Paino ini kan luka fisik. Saya bingung kami sudah ada di separuh jalan kasus yang ada ancamannya juga, dan sekarang keadaan Paino seperti ini”
__ADS_1
“Sabar dulu pak Sumadi, pasti ada jalan pak, pak Paino seperti ini sudah merupakan takdirnya, dan Pak Sumadi harus selesaikan kasus ini juga sudah jalan dari hidup pak Sumadi. Hera dan Gek Ayu akan bantu semampu kami pak”
“Coba bapak tanya ke pak Wayan, apa yang harus dilakukan setelah ini”
“Nanti akan saya tanyakan ketika pak Wayan datang ke sini mbak, untuk saat ini saya masih trauma melihat Paino waktu dihantam truk pasir dengan kecepatan tinggi itu”
Aku masih ada di kursi panjang depan kamar ICU, mbak Hera dan gek Ayu sudah pulang. Disini aku tidak sendirian, ada beberapa keluarga juga yang masih menunggu sanak saudara mereka yang juga sedang dirawat di ruangan ini.
Lolokcicing, siapa dia, bagaimana dia bisa membuat pemilik rumah sakit agar membolehkan aku masuk ke bagian ICU yang seharusnya sangat steril.
Sebenarnya kami ini sebagai apa, apakah hanya umpan bagi mereka yang menguasai alam nyata dan alam tidak nyata?
“Pak Sumadi, lebih baik sekarang kembali ke hotel atau ke rumah saya saja, bapak perlu istirahat” kata pak Wayan yang tiba-tiba ada di sebelahku”
“Besok ada sesuatu yang harus pak Sumadi lakukan, dan setelah itu lebih baik pak Sumadi selesai sudah mengurusi semua hal ini, belum waktunya untuk bapak Sumadi dan pak Paino memenangkan urusan disini”
“Bagaimana dengan Paino pak Wayan?”
“Dia akan sembuh, dia akan hidup, tapi semua itu perlu waktu, tidak bisa semata-mata dia begitu saja sembuhnya”
“Lalu bagaimana dengan saya dulu pak, dulu saya bisa sembuh dengan cepat?”
“Beda, pak Paino luka fisiknya sangat parah, masih beruntung arwah dia belum naik, masih ada di sekitar sini sehingga bisa pak Sumadi temui waktu itu”
“Saya bingung dengan biaya pengobatan dan pemulihan teman saya ini pak”
“Hehehe tenang saja, kamu tidak usah khawatir, sudah ada yang menanggung biaya itu hingga pak Paino benar-benar sembuh total”
__ADS_1
Apakah ini tanda bahwa aku dan Paino harus mengakhiri semua ini dan pulang sebelum ada lagi yang terjadi dengan aku dan Paino?
Tapi apakah lolokcicing tidak keberatan, nanti malam aku akan coba untuk diskusi dengan dia, bagaimana dan apa yang sebaiknya yang harus kami lakukan.