
“Sekarang kita ke desa itu, saya ingin bertemu dengan salah satu dari mereka yang merasa saya rugikan”
“Selama ini memang kadang ada serangan dari penduduk desa yang diprovokasi oleh seseorang, tapi saya anggap mereka hanya pencuri biasa, saya tidak tau kalau ada harta milik mereka yang ada di puri saya” ujar pak Wayan
Perjalanan menuju desa harus memutar lagi ke puri, setelah itu kami milipir lewat pinggir hutan seperti kemarin malam aku dan Sumadi lakukan.
Perjalanan kami menuju ke desa tentu saja tidak lepas dari dua sosok yang selalu mengikuti kami, tapi karena sekarang ada pak Wayan, sosok mengerikan itu ada di samping kiri dan kanan pak Wayan.
“Warung itu… disana itu pak, ada beberapa orang yang sedang duduk, tapi sepertinya tidak ada Agus disana. Gimana apa yang harus kita lakukan pak?”
“Kalian tunggu disini, saya akan ajak mereka bicara dulu. Saya tidak mau urusan harta yang bukan hak puri itu yang mengakibatkan adanya serangan ke puri selama ini” jawab pak Wayan
“Jangan pak, bapak jangan ke sana, biar saya saja, bapak tunggu disini saja dulu”
Aku merasa kalau pak Wayan ke sana akan terjadi hal yang tidak diinginkan, jadi lebih baik aku saja yang ke sana.
“Begini saja pak Paino, kalau pak Paino bisa mengajak mereka ke puri, itu lebih baik lagi, agar mereka tidak merasa disisihkan di daerah ini. Kita bisa ngobrol disana dengan santai”
“Dan kalau juga si Gusta dan Gustin mau ikut juga saya persilahkan”
“Pak, apa tidak bahaya dan tidak melanggar adat?” tanya Sumadi agak bingung
“Tidak pak Sumadi, mana ada adat yang melarang orang masuk ke puri kami hehehe”
“Di, kamu sama pak Wayan disini dulu, aku mau temui mereka, kalau misal ada apa-apa segera bawa pergi pak Wayan dari sini”
“Ya sudah, saya dan pak Sumadi disini, pak Paino jangan memandang mata Agus, ingat dia bukan manusia lagi. Nanti kami akan balik ke puri begitu lihat pak Paino sudah mengajak mereka ke puri kami”
Perlahan - lahan aku menuju ke warung yang masih agak jauh dari posisi kami bertiga, aku belum tau siapa yang ada di warung itu.
Disana memang ada beberapa orang, tapi aku nggak yakin itu adalah Agus, karena Agus tidak akan mau kumpul dengan orang disini sepertinya
Ternyata benar, yang ada disana bukan Agus, tapi hanya Gusta, Gustin adik perempuan Gusta yang hingga larut gini masih ada di warung, dan dua orang yang aku nggak tau siapa itu.
__ADS_1
Mereka disana pasti sedang menjaga Agus yang mungkin sedang semedi di dalam kamar belakang warung.
Sekarang aku keluar dari hutan dan berjalan mendekati mereka. Mereka yang tadinya duduk sekarang berdiri dan melihat ke arahku dengan tatapan curiga. Tapi mereka tidak beranjak dari sana, mereka hanya berdiri sambil melihat aku saja.
“Selamat malam Gusta, Gustin dan yang lainnya” sapaku setelah dekat dengan mereka
“Apa yang bapak lakukan disini, bapak bisa mati, lebih baik segera pergi dari sini saja pak” bisik Gustin yang ternyata masih perhatian dengan ku
“Saya hanya ingin menolong kalian dan ingin bicara dengan Komang, komangnya ada dimana dik Gustin?”
“Diam kamu Gustin, biar mas yang bicara sama bapak ini…!” bentak sang kakak
“Sudahlah Gusta, saya tau kalian berdua ini tidak salah sama sekali, kalian berdua ditekan oleh orang yang ngakunya sebagai ayah kalian. Kemarin saya lihat kamu ditempiling Agus kan Gusta…”
“Saya juga tau kalau Agus menginginkan kalian berdua berbuat sesuatu, yang sangat tidak mungkin kalian lakukan… saya tau apa yang dicari Agus disini, dan untuk apa dia mencari itu. Yang jelas bukan untuk keluarga kalian, tapi untuk dirinya sendiri!”
Aku yakin Gusta sedang malu dan marah ketika aku katakan bahwa dia kemarin ditempeleng ayahnya, tapi karena keadaan disini tidak terang, aku tidak bisa melihat wajahnya.
“Saya kesini hanya ingin menyampaikan pesan dari pak Wayan orang puri sana itu kepada Komang”
“Apa Ajik Darma bilang begitu pak?” tanya pemuda yang tadinya duduk kemudian berdiri
“Iya, dia bilang gitu, selama ini pak Wayan tidak tau kalau ada hak dari penduduk desa ini ada di puri dia, kalau memang itu adalah harta dari penduduk desa, pak Wayan akan berikan kepada kalian”
“Kapan ajik Darma mau bicara dengan kami pak?”
“Untuk silaturahmi dan saling kenal sekarang juga nggak papa, nggak usah ajak tetua desa , cukup mewakili yang paham saja, Komang ajak juga”
“Eh sebentar pak, saya akan cari Komang dulu. Dia tadi pulang mau ambil kopi katanya” kata pemuda itu kemudian pergi meninggalkan kami”
“Sekarang kalian berdua Gusta dan Gustin, saya tidak ada masalah dengan kalian sebelumnya, dan saya yakin kalian juga tidak ada masalah dengan saya. Hanya saja kalian diperbudak oleh entah siapa itu”
“Kasian ibumu yang harus menderita karena ulah ayahmu. Sekarang saya ingin bicara dengan Gusta dan dik Gustin secara baik-baik, tanpa ada permusuhan sama sekali. Mau tidak kalian?”
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari dua anak kembar kakak beradik itu. Tapi aku tau mereka pasti akan mau kalau aku ajak bicara baik baik.
“Sekarang saya akan ke puri bersama dengan Komang dan kawannya, kalau dik Gustin dan Gusta mau ikut dan bicara dengan kami monggo silahkan ikut saja”
Tidak lama kemudian Pemuda desa dan Komang datang dengan tergopoh-gopoh, mereka mungkin senang atau kaget ketika akan diajak bicara dengan pak Wayan.
“Benar Ajik Darma mau bicara dengan kami?” tanya Komang
“Iya bli Komang, ayo kita ke puri sana”
Aku, Komang dan satu lagi pemuda yang tadi mencari dia menuju ke puri dimana pak Wayan tinggal. Sedangkan satu pemuda lagi yang tadinya mau ikut sempat dilarang oleh Gusta.
Ketika kami berjalan sekitar beberapa meter, tiba-tiba ada langkah kecil berjalan cepat menghampiri kami.
“Pak Paino, tunggu”
“Dik Gustin mau ikut saya ke puri?” Gustin sudah ada disebelahku, tetapi tidak dengan Gusta, dia hanya diam di warung saja “ Apa dik Gustin tau resikonya ikut dengan saya?”
“Gustin tau pak, dan Gustin harap nanti pak Paino melindungi ibu Gustin dari amukan ayah”
*****
Kami ada di bale dauh, bersama pak Wayan, Sumadi, Gustin, Komang, dan Kadek pemuda yang tadi mencari komang. Pembicaraan awal antara pak Wayan dengan penduduk desa yang diwakili oleh Komang dan Kadek ini menuju ke arah kebaikan bagi penduduk desa.
Tetapi tidak bagi Gustin, dia merasa ketakutan..
“Gustin, kenapa kamu malah ketakutan, kamu tenang saja disini, kamu akan saya lindungi, begitu juga ibumu akan saya bawa ke tempat yang aman” kata pak Wayan
“Gustin, kamu jangan takut kalau saya mengembalikan harta yang seharusnya menjadi hak penduduk desa, kamu jangan takut kalau mereka tidak akan setia dengan ayahmu lagi” kata pak Wayan lagi
“Gustin bukan takut masalah itu pak Wayan, tapi Gustin takut kalau ada apa-apa dengan Gusta, karena rencana ayah, penduduk desa akan dikerahkan untuk menyerang puri ini” kata Gusti sambil menunduk
“Gusta akan dihabisi ayah, kalau ternyata penduduk desa tidak mau mengikuti perintahnya pak. Bisa juga ayah saya akan memaksa dengan melakukan kekerasan bagi mereka”
__ADS_1
“Kapan kira-kira ayahmu akan menyerang kami Gustin?” tanya pak Wayan
“Besok malam bersamaan dengan Hasto yang kata ayah saya sudah pulih lagi”