
Kami tidak menggunakan mobilku untuk kembali ke rumah belakang setra, aku dan Sumadi tetap menggunakan taksi, karena aku nggak mau orang SPBU melihat kami datang lagi ke rumah itu.
Aku merasa ada hubungan erat antara rumah, SPBU, lolokcicing, dan dua anak kembar dan pengawal ghaibnya. Sudah pasti ada hubungannya, cuma aku masih perlu bukti lain saja.
Dan sayangnya pertemuan dengan pak Agus tadi tidak menghasilkan sesuatu yang istimewa. Perasaanku mengatakan bahwa ada yang disembunyikan pak Agus, tapi sudahlah nanti akan terbuka dengan sendirinya.
“Pak, berhenti di depan warung lawar kuwir itu saja pak, kami mau makan dulu,”kataku pada driver taksi
Taksi berhenti di warung makan atau depot yang menjual lawar kuwir, masakan bali yang berbahan dasar bebek ini enak juga ternyata, khas rasanya.
Aku nggak bisa menjelaskan gimana enaknya, karena satu porsi itu isinya macam-macam plus ada sate lilit dan satu buah mangkok kecil yang isinya kuah+balungan dan sayur yang kayaknya bahannya batang pohon pisang.
Tapi rasanya enak luar biasa, sudah dua kali aku makan masakan ini, dan kayaknya aku cocok hehehe.
Setelah makan, kami berjalan kaki menuju ke rumah belakang kuburan, sebelum kami masuk ke jalan setapak samping setra aku sempat melirik ke arah SPBU, disana ada tiga empat orang yang sedang bekerja, termasuk yang pernah menyuruh kami untuk tidur di area SPBU saja.
“Kamu tau yang mana orangnya No?”
“Hahaha jelas nggak tau Di, disana ada empat orang, dan semua biasa saja”
“Ya jelas biasa saja No, mereka kan sedang kerja, ayo ke rumah dulu, mumpung sekarang baru pukul 10, aku mau laporkan apa saja yang kita lakukan”
“Di, kamu tau nggak apa yang akan kamu laporkan ke lolokcicing?”
“Itu yang dari tadi sedang aku pikirkan mulai dari hotel sampai ke warung makan tadi, tapi hingga sekarang aku belum dapat ide apa yang akan aku tulis nanti itu No”
“Gimana kalau kita terus terang saja Di, terus terang saja dengan apa yang sedang menimpa kita dan kita sedang menyelidiki sesuatu itu?”
“Boleh seperti itu No, tapi aku rasa jangan sampai cerita dengan detail, seperti pertemuan kita nanti ini dengan yang namanya Wardiono”
“Iya benar Di, eh kunci rumahnya tadi mana ya Di?”
“Halah, kan kamu yang bawa tadi No.. cepat buka pintunya, keburu siang ini”
“Heh coba lihat itu lampu teras nyala No, artinya sekarang ada aliran listrik”
“Iya Di, apa yang jaga rumah ini salah mengatur timer untuk mati nyalakan aliran listrik ya heheheh”
Rumah belakang setra yang awalnya sangat mengerikan bagi aku dan Sumadi, sekarang sudah nampak biasa saja, seolah kami ini adalah pemilik atau penyewa rumah ini.
Tapi tidak mengerikan ini hanya ada di atas sini saja, kami belum berani ke ruang bawah tanah, tapi pasti nanti kami akan ke sana, karena eksplorasi kami harus menyeluruh tentang rumah ini.
Sumadi sedang bikin laporan kepada lolokcicing, sedangkan aku hanya merenung sambil berpikir apa saja kemungkinan yang terjadi apabila kita bertemu dengan yang namanya pak War itu.
__ADS_1
Aku sangat yakin semua ini ada hubungannya.
“Sudah selesai Di?”
“Sudah, dan sudah dijawab juga No”
“Apa kata lolokcicing Di?”
“Dia bilang ‘lakukan apa yang memang perlu dilakukan, saya akan menunggu berita dari kalian’.. Dah cuma itu aja yang dia omongkan No”
“Ya sudah,ini masih jam dua belas kurang tiga puluh menit Di, ada baiknya kita keluar dari rumah ini dan menuju ke warung lawar lagi, nanti kita datang ke SPBU dari arah warung lawar saja, agar seolah kita tidak dari rumah ini”
“Ah mana bisa gitu No, dia pasti lihat siapa yang keluar dari jalan setapak pinggir setra itu, petugas yang ada di SPBU pasti secara tidak sengaja bisa melihat siapa saja yang keluar dari sini”
“Nggak… mereka sangat sibuk, tidak ada kesempatan melihat-lihat sekeliling, ayo sekarang saja kita keluar dari sini Di”
Kami dengan sedikit berlari menuju ke warung makan lawar lagi, terus terang aku sekarang ketagihan makanan bali jenis ini hehehe. Enak, dan sulit untuk menjelaskan apa saja yang ada di piring yang kami makan ini hehehe.
“Gendeng Di, tadi kita udah kesini makan. Sekarang makan lagi hehehe”
“Tapi memang enak No, dahlah siapa tau nanti kita nggak sempat makan siang lagi”
Jam dua belas siang kurang sepuluh menit kami jalan menuju ke SPBU yang sekarang keadaanya sedang ramai, banyak kendaraan roda dua dan empat yang sedang antri untuk pengisian bahan bakar.
Aku dan sumadi duduk di pinggir jalan area SPBU, di bawah sebuah pohon sukun yang besar dan sudah berbuah di sana sininya.
“Lho bapak-bapak sudah lama ada disini?” tanya pegawai SPBU yang aku tau bernama pak Ngurah
“Iya pak. Kami sedang menunggu orang pak”
“Memangnya bapak sedang menunggu siapa, apakah pegawai SPBU atau janjian dengan orang dari luar sana?” tanya pak ngurah lagi
“Kami sedang menunggu pegawai sini yang bernama pak Wardiono”
Orang yang ada di depan kami kaget, dia diam hingga beberapa detik sebelum kembali bicara… tapi dia tidak bicara, melainkan duduk di sebelahku…
“Pak Wardiono memang orang sini tapi sekarang sudah tidak disini lagi, dan beliau itu bukan pegawai, melainkan pemilik pertama SPBU ini pak”
“Eh dimana tinggalnya pak, karena saya janjian disini, sebentar…. akan saya kasih lihat Wa beliau pak”
Kukeluarkan ponsel ku, aku cari wa masuk dari orang yang bernama Wardino.. Tapi nggak ada… tidak ada Wa dari yang namanya Wardiono sama sekali.
“Di, kok nggak ada wanya, tadi kan ada Di?” aku tunjukan ponselku kepada Sumadi
__ADS_1
“Lho iya No, kamu hapus ya Wa dia?”
“Nggak Di, coba kamu cari lagi Di”
Sumadi mencari Wa yang tadi sempat kami baca.. Tapi tidak ketemu, hingga dia masuk ke inbox SMS karena ada tanda masuk SMS di ponselku. Sumadi kaget setelah melihat SMS yang masuk di ponsel.
“No…. ini SMS dari pak Wardiono, bukan masuk ke Wa, tetapi masuk ke SMS No!”
“Sini.. coba aku lihat Di, perasaan tadi kan dia balas Wa ku, kok sekarang jadi SMS gini!”
Ternyata benar juga.. Yang tadi aku baca ketika di hotel sama persis dengan SMS ini.. Aneh, apa yang terjadi sebenarnya.
“Eh ini pak Ngurah, ada SMS dari pak Wardiono, dan kami janjian disini jam dua belas siang”
“Iya ini benar nomor pak Wardiono pendiri SPBU ini, tapi bagaimana bisa beliau menghubungi kalian ya pak?” gumam pak Ngurah karyawan SPBU ini
“Pak Wardiono sudah meninggal pak” katanya lagi
“Apa… pak Wardiono sudah meninggal!”
“Betul pak, sudah lama…mungkin sekitar sepuluh tahun lalu, dan wasiat beliau minta dimakamkan di situ pak” tunjuk pak Ngurah ke belakang kami
Di belakang kami duduk ada sebuah taman yang agak menjorok ke belakang, tepatnya di belakang pohon pohon sukun yang besar ini.
Tapi tidak ada tanda bahwa disana ada makam, hanya sebuah taman penghijauan biasa saja.
“Kok tidak ada tanda disana ada makam pak Ngurah?”
“Eh sengaja tidak ada tandanya pak, agar eh customer disini tidak bertanya-tanya makam siapa itu
“Pak Wardiono pendiri SPBU ini meninggal karena sakit, tapi sakitnya apa kami tidak pernah diberitahu oleh keluarganya, intinya dia minta dimakamkan di situ pak”
“Dan sekarang SPBU ini dibeli keluarga besar dari Anak Agung Gede Surya Pertama pak”
“Ya sudah pak Ngurah, eh boleh kami ke sana untuk berdoa, oh maaf pak Wardiono ini muslim atau apa?” tanya Sumadi
“Beliau keturunan tionghoa, tapi saya pernah lihat dia sembahyang secara islam di dalam kantor SPBU”
Kami berjalan ke belakang, ke taman yang ada di belakang SPBU, dan di bawah pohon sukun ini hanya ada sebuah patok kotak dari kayu yang sama sekali tidak tinggi, mungkin ukuran patok itu hanya 10 cm dari permukaan tanah.
Di belakang ini ada dua buah pohon kamboja bali yang berukuran besar, bunga dari pohon itu berjatuhan di tanah dimana patok penanda makam ini berada.
“Itu patok penanda makam pak Wardiono pendiri SPBU ini” kata pak Ngurah
__ADS_1
“Ya sudah pak Ngurah, saya akan disini sebentar, nanti setelah ini kami akan pergi dari sini pak”
“Kalau begitu saya tinggal dulu pak” kata pak Ngurah yang kemudian pergi dari hadapan kami.