Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 72. DI TEMPAT KELAHIRAN DUA ANAK KEMBAR


__ADS_3

Pintu kamar kututup, aku sendirian bersama Paino yang belum juga sadar. Kini aku harus hadapi apa yang akan datang sebentar lagi.


Sempat terbesit juga rasa penyesalan kenapa tadi aku nggak nurutin omongan pak Wayan.


Paino masih di tempat tidur, barusan aku sempat cek nafasnya ternyata dia masih bernafas dengan teratur.


Aneh kenapa udara kamar makin pengab.


kuperhatikan Ac indoor yang ada di atas dinding tempat tidur, ternyata AC dalam keadaan mati…


Aku kembali duduk di kursi dengan pikiran kosong…


“Apa yang harus kulakukan kalau aku jadi Paino, apakah aku harus pergi dari sini dan mencari pertolongan”


Kudekati jendela untuk mengintip apa yang ada di luar sana. Kusibakkan sedikit gorden tebal yang menutup jendela.


Astaga, di luar sudah bukan suasana hotel seperti biasanya, di luar gelap gulita dengan bayangan pohon-pohon besar  yang ada di sekeliling kamar.


Sebenarnya aku ada dimana ini?


Keringat dingin mulai muncul di tubuhku, perasaan ketakutan dan putus asa mulai meracuni otakku…aku mundur dua langkah dari depan jendela kamar.


“Di… kamu ngapain kok ngintip ke jendela gitu?”


“Eh No!… kaget aku No, kamu sudah sadar?”


“Ya sudah lah Di, aku kan cuma tidur saja. Memangnya ada apa diluar sana?”


Aneh, kenapa Paino sadar begitu saja ketika keadaan disini sudah berubah semua, tapi kalau memang dia sudah sadar aku lebih baik tidak buruk sangka.


“Eh lebih baik kamu lihat sendiri saja No…”


Paino dengan tenang turun dari tempat tidur, dia sempat menguap sebentar, kemudian berjalan menuju ke jendela dengan langkah malas.


“Hahaha kita kan ada di rumah Di, kamu ini ada-ada saja..”


“Ayo keluar dan lanjutkan pekerjaan kita Di”


“Ha…Pekerjaan kita?”


“Pekerjaan apa No… kamu ini sedang mimpi ya!”

__ADS_1


Ada yang aneh dengan Paino, dia begitu tenang dan tidak ada rasa takut dan bingung sama sekali, dan dia juga bilang kalau kita sedang ada di rumah.


Sekilas aku lihat lagi apa yang ada di luar jendela….sekarang yang aku lihat adalah kayak di tengah hutan!


Paino sangat tenang dan sangat mencurigakan.


“Ayo kita keluar Di, lanjutkan kerjaan kita yang belum selesai”


Paino berjalan santai menuju ke pojokan kamar, dan ternyata disana sudah ada dua buah cangkul yang kondisinya sudah kotor dengan tanah.


“Ayo Di, kita lanjutkan lagi…. Jangan sampai terlambat Di” kata Paino mengambil satu buah cangkul dengan wajah berseri seri


“Apa yang kamu lakukan No…kita ada dimana!”


“Sudahlah Di, jangan seperti anak kecil gitu ah, ayo cepat ambil cangkul dan kerja lagi”


Tidak.. Aku tidak akan menuruti apa yang dilakukan Paino…


Ini pasti kerjaan dua anak kembar itu, ntah aku sekarang ada dimana…..tapi kalau aku tetap ada di kamar, aku tidak akan tau bagaimana cara keluar dari sini.


Dengan tenang Paino mengambil satu buah cangkul kemudian dia berjalan sangat tenang menuju pintu kamar.


“Ayo kemana No.. kamu ini sebenarnya kenapa!”


“Sudahlah, aku keluar dulu, kulanjutkan kerjaan dulu, kalau kamu nggak mau ikut ya sudah Di”


Paino keluar dari kamar begitu saja, dia berjalan ke arah depan yang sangat gelap..


Aneh, ketika dia membuka pintu kamar, aku mencium bau hutan dan bau daun yang basah karena lembab. Artinya aku dan Paino sekarang ada di sebuah hutan.


Tidak lama kemudian aku mendengar suara cangkul yang mengenai tanah. Pasti ini kerjaan yang dikatakan Paino, kerjaan yang harus menggunakan cangkul untuk menyelesaikannya.


Aku lihat dari balik jendela, ternyata apa yang dikerjakan Paino tidak jauh dari sini.. Mungkin sekitar sepuluh meter dari pintu kamar.


Dalam keadaan gelap gulita, hanya ada Paino yang sedang mencangkul permukaan tanah yang terlihat samar sudah menjadi sebuah lubang.


“DI…. AYO KERJAKAN, SEBELUM SUBUH HARUS SUDAH SELESAI!” teriak Paino dari luar


Tidak akan aku jawab teriakan Paino yang sedang mengerjakan sesuatu di luar, jelas sudah yang ada di luar itu bukan Paino, dan aku dalam permainan si kembar itu.


Aku masih melihat apa yang sedang dikerjakan Paino di luar sana,  dan aku tidak akan keluar dari kamar ini untuk mengetahui apa yang ada disana.

__ADS_1


“Pak Sumadi…  bagaimana kabarnya pak?” tanya suara yang ada di belakangku


Kutoleh ke belakang.. Ternyata di sebelah tempat tidurku ada Gusta dan Gustin. Mereka berdiri sambil tersenyum kepadaku.


“Kalian berdua, sebenarnya apa yang kalian inginkan dari aku dan temanku Paino, apakan saya dan Paino ada salah kepada kalian berdua?”


“Hahahaha salah atau tidak, yang penting nikmati dulu saja apa yang sudah ada didepan mata pak Sumadi. Ini adalah karena kalian lancang dan kalian sudah mengambil yang bukan hak kalian..” kata Gusta


“Apa yang sudah saya ambil dari kalian berdua Gusta. Saya tidak merasa mengambil apa-apa”


“Hahahah sudahlah, nasi sudah jadi bubur pak Sumadi, sekarang kalian nikmati saja apa yang ada disini”


“Temani itu pak Paino atau dia akan mati sia-sia di luar sana”


Mereka berdua kemudian berjalan ke pintu kamar, kayaknya mereka keluar kamar dan menuju ke Paino yang sedang sibuk menggali sesuatu.


Apakah aku harus keluar dan menyelamatkan Paino, atau aku ikuti saja dua anak kembar itu dan bicara kepada mereka apa yang harus aku lakukan agar aku bisa kembali ke tempat asalku.


Dalam keadaan seperti ini lebih baik aku bicara dan bernegosiasi dengan mereka berdua.


“Eh Gusta, Gustin… saya mau bicara dengan kalian”


“Ada apa lagi pak Sumadi” jawab Gusta yang ada di ambang pintu


“Gusta kami ini sedang ada di mana?”


“Pak Sumadi ada di rumah saya… kalian berdua ada di tanah kelahiran saya!” jawab Gusta


“Kalian berdua akan mati disini malam ini juga, itu pak Paino sedang menggali kuburan untuk dirinya, pak Sumadi harusnya juga ikuti pak Paino dong”


“Gali lubang untuk pak Sumadi juga dong pak, masak bapak kalah dengan pak Paino yang sudah menggali hampir satu meter pak” kata Gusta dengan santai


“Sebelum subuh pak Paino dan Pak Sumadi sudah harus selesai menggali, karena setelah adzan subuh kalian berdua akan kami bunuh tanpa rasa sakit sama sekali” jawabnya lagi


Waduh, kenapa aku ada disini, eh kalau tidak salah mereka pernah bilang kalau mereka berdua lahir di jawa, tetapi besar di sini. Berarti aku dan Paino yang entah sedang kerasukan itu ada di Jawa sekarang ini.


Apa aku ini sedang mimpi, ini jelas tidak mungkin kenyataan. Bagaimana mereka bisa memindah kamar hotel hingga ke tempat mereka tinggal.


“Hahahah tenang saja pak Sumadi.. Saya tau apa yang sedang pak Sumadi pikirkan. Apa yang ada di pikiran pak Sumadi tidak akan pernah pak Sumadi pahami!”


“Sekarang lebih baik bapak keluar dan galilah liang kubur untuk bapak sendiri!”

__ADS_1


__ADS_2