Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 65. MENYUSUN RENCANA


__ADS_3

Dokter yang memeriksa Sumadi barusan datang untuk memeriksa kesehatan Sumadi. Mbak Hera dan gek Ayu lima menit lalu sudah berangkat kerja, sore nanti mereka akan datang ke sini lagi.


Untuk saat ini Sumadi sudah dinyatakan sembuh dengan aneh, ya dengan aneh, itu yang dikatakan dokter barusan,


Tetapi untuk memastikan, nanti siang akan dilakukan foto rontgen untuk melihat bagian tulang rusuk Sumadi yang sempat patah.


Pagi ini tidak ada yang kami lakukan sama sekali selain menunggu siang hari Sumadi akan di rontgen.


“No.. hotel gimana?”


“Nggak tau Di….”


“Oh iya Di, aku ada pertanyaan buat kamu….ketika aku datang malam itu, dan aku lihat kamu sedang duduk di tempat tidur sambil ketawa-ketawa, memangnya saat ini kamu sudah sehat?”


“Hmm iya No, waktu itu aku sama sekali tidak merasakan sakit di perutku No, seperti ada sesutu yang menghilangkan rasa sakitnya”


“Tapi setelah mbak Hera dan gek Ayu pulang, rasanya aku ngantuk sekali, sampai aku tidur kan No”


“Aku tidur itu seperti ada yang menyuruhku untuk tidur dan jangan bangun sebelum, eh sebelum sesuatu yang sedang berjalan… apa ya, pokoknya ada yang sedang melakukan sesuatu itu selesai…. Itu yang ada di pikiranku No”


“Sebentar Di, jadi kamu  selama ini tidur dan tidak bangun sama sekali?”


“Iya No, kenapa, memangnya ada yang aneh sama aku?”


“Gini ketika aku datang setelah dan masuk kamar kamu bicara sama aku, dan kamu seolah tau badanku penuh lendir. Kamu bilang ‘jelas lengket wong banyak lendirnya’”


“Tapi ketika aku lihat kamu dalam keadaan Tidur Di. terus ada lagi yang aneh, Jam berapa gitu aku lihat kamu duduk dan sedang mengetik sesuatu di laptopmu..”


“Waktu itu aku ngantuk luar biasa Di, aku cuma mengintip kamu aja,..posisi kamu duduk di ranjang pasien..kayak orang sehat gitu”


“Tapi ketika suster masuk dan membangungkan aku, kamu sudah dalam keadaan tidur….”


“Sudah-sudah No, apa yang kamu katakan itu mungkin ada benarnya, dan yang tau cuma kamu saja, tetapi yang jelas waktu itu aku tidur nyenyak hingga kemudian kamu membangunkan aku karena ada suster yang masuk”


“Percuma kita bahas itu, sekali lagi otak kita itu nggak akan mampu berpikir apa yang sedang terjadi dengan aku No… yang penting sekarang aku sudah sehat, dan kita merencanakan sesuatu bersama mbak Hera dan gek Ayu”


“Siang nanti semoga hasil rontgen bagus, dan aku bisa pulang lebih cepat No…”


“Sekarang No, apa yang akan kamu rencanakan dengan dua anak perempuan itu?”


“Mbak Hera dan gek Ayu akan aku suruh beli makan ke tempat bu TIna, sementara itu kita berkeliaran di sekitar sana… agar dua anak setan itu memperhatikan kita saja, yah semacam pengalih perhatian gitu Di”

__ADS_1


“Malamnya kita ke rumah belakang setra lagi, tapi aku rasa percuma juga kita ke sana, karena hantu disana sudah pasti baik sama kita Di…”


“Pokoknya aku ingin tau siapa pemilik rumah itu Di, karena aku ingin tanya-tanya ke pemilik rumah itu”


“Nggak bisa No, jelas nggak mungkin kita tanya ke lolokicicing siapa pemilik rumah itu. Eh atau kita tanya ke petugas spbu yang kemarin malam itu aja No”


Siang ini dilakukan foto rontgen lagi, siang ini juga dokter yang menangani Sumadi melakukan analisa dan pemeriksaan lanjutan kepada Sumadi.


Dokter itu sangat penasaran, hingga jadwal prakteknya dia tinggal sebentar untuk memeriksa Sumadi.


Hasil dari pemeriksaan… tulang rusuk Sumadi yang sempat patah itu sudah tersambung dengan sempurna, luka bekas operasi juga sudah kering. Paru-paru Sumadi pun tidak ada keanehan sama sekali.


Pasien seharusnya sudah diperbolehkan pulang, tapi dokter menginginkan Sumadi sehari lagi ada di rumah sakit, yang artinya jumat besok baru bisa keluar.


Ya sudah, aku turuti saja apa yang dikatakan dokter untuk tinggal sehari untuk memastikan bahwa semuanya baik baik saja.


“Ya sudah Di, semoga besok pagi kamu bisa keluar dari sini”


“Sore nanti Hera dan gek Ayu kesini. Kita bagi tugas kepada mereka dulu untuk mencari informasi tentang bu Tina yang jualan makanan tidak jauh dari hotel itu”


Sore hari jam lima lebih… aku dan Sumadi sedang duduk di kursi depan kamar, ketika kedua perempuan itu datang.


“Nah besok pagi, mungkin sekitar jam 08.00, saya ingin mbak Hera dan gek Ayu datang penjual nasi bungkus yang dekat dengan hotel”


“Seharusnya yang jual adalah seorang ibu-ibu  yang namanya bu TIna”


“Kalian belilah dan bilang saja kalau kalian dapat info bahwa makanan yang dijual ini enak, dan kalau untuk malam hari jualan atau tidak, kalau jualan ada di mana, dan buka jam berapa”


“Syukur-syukur kalau kalian bisa dapat info lebih”


“Ok pak Paino, saya akan kesana besok pagi, untuk malam ini gimana pak?” tanya Hera


“Kalian pulang saja mbak,  malam ini saya juga tidak bisa melakukan apa-apa karena Sumadi belum bisa keluar dari rumah sakit kan”


Hera dan Gek Ayu sudah pulang, sekarang tinggal aku dan Sumadi saja. Kami sedang duduk di depan kamar, hari semakin malam, aku baru ingat hari ini malam jumat.


Saat ini baru pukul 21.00 tapi entah kenapa aku belum ngantuk sama sekali, begitu juga Sumadi.


Keadaan di depan sini juga entah kenapa rasanya berbeda dari pada malam sebelumnya, aroma wangi dupa masih tercium di sekitar depan kamar.


“Di, kamu lebih baik masuk ke dalam kamar saja, nggak enak sama suster yang lewat sini, dipikir kamu nggak matuhi aturan disini”

__ADS_1


“Ssttt diam No… duduk dan jangan berisik” kata Sumadi dengan suara berbisik


Kulihat wajah Sumadi tegang, dia hanya melihat ke arah depan saja….


“No… kedua anak itu ada di sini, mereka tidak sendirian…,” bisik Sumadi


“Apa yang harus kita lakukan Di, aku kok nggak liat ada mereka disini Di?”


“Diam, saja No mereka berdua sedang  menuju ke arah kita, mereka ada di dari arah kiri, kita pura-pura tidak tau saja” bisik Sumadi lagi


“Kamu bisa lihat mereka Di?”


“Iya No… semenjak aku sembuh, aku sekarang bisa lihat sesuatu yang tidak kasat mata..”


“Diam dan jangan menoleh ke kiri, tetap melihat ke arah taman yang ada di depan kita saja, meskipun di taman itu juga ada beberapa makhluk mengerikan yang sedang melakukan hal yang tidak senonoh!”


“Nanti kalau aku berdiri kamu ikuti aku, kita masuk ke dalam kamar saja,”bisik Sumadi dengan wajah tegang


“Sekarang kita masuk ke dalam kamar No.. cepat” bisik Sumadi


Sumadi berdiri tanpa menoleh ke arah kiri, aku mengikuti dari belakang masuk ke dalam kamar… aku tidak tau dimana posisi Gusta dan Gustin…pokoknya aku masuk ke dalam rumah secepat Sumadi masuk juga.


Kenapa mereka datang ke sini lagi, sebenarnya apa mau mereka terhadap kami berdua, apakah mereka tidak puas dengan apa yang mereka lakukan kepada kami.


Atau apakah ada sesuatu yang ada di dalam tubuh kami yang sangat menarik perhatian mereka?


“Di. apa mereka tidak bisa mengikuti kita?”


“Tidak bisa No, pintu kamar ini ada semacam dinding tembus pandang yang tidak bisa ditembus oleh mahluk ghaib”


“Siapa yang bikin dinding di pintu kamar ini Di?”


“Aku ndak tau No, tapi mungkin pak Wayan yang bikin, aku baru ini bisa lihat sesuatu yang tidak kasat mata”


“Sekarang gimana dua anak mengerikan itu Di. apa mereka berusaha masuk ke dalam sini?”


“Dua anak itu hanya diam dan melihat dengan marah ke arah kita, sedangkan yang satunya, tinggi besar tetapi tidak mengerikan itu sedang berusaha merusak dinding tembus pandang itu”


“Sebenarnya apa yang mereka maui Di, kenapa mereka selalu mengejar kita terus”


“Aku juga belum tau No, tapi ada sesuatu yang mereka cari dari kita”

__ADS_1


__ADS_2