Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 74. BU TINA DATANG BERSAMA HERA DAN GEK AYU


__ADS_3

Aku terbangun ketika suara Paino yang membangungkan aku untuk minta minum.


“Di… tolong ambilkan air minum, aku haus sekali Di”


“Huuuaahmm bentar No, eh sudah jam berapa ini No?”


“Mungkin jam tujuh Di, di luar sudah terang sekali itu” kata Paino yang ternyata masih lemas dan tergolek di tempat tidur


“Bentar No.. oh iya, kamu mau makan apa, nanti aku pesankan ke mas Nyoman”


“Roti dan telur rebus saja Di, biar aku ada tenaga untuk bangun dari tempat tidur” jawab Paino


Benar sekarang sudah jam Tujuh pagi, sebentar lagi gek Ayu dan mbak Hera akan datang, hari ini mereka libur, jadi aku bisa tukar pendapat dengan apa yang aku alami tadi.


Jugaan aku akan membahas tentang pembicaraan antara mereka berdua dengan bu Tina sebelum aku diserang oleh anak kembar itu.


Paino masih berbaring meskipun sekarang dia sudah bisa aku ajak ngobrol, paling tidak dia tidak separah aku yang sampai bagian dalam tubuhku remuk.


Sarapan untuk Paino sudah datang berupa satu tangkup roti tawar dengan selai dan satu butir telur rebus. Untuk diketahui di hotel ini tidak ada sarapan prasmanan, sarapan selalu diantar ke kamar masing-masing.


“Gimana keadaanmu No?”


“Sudah jauh lebih baik setelah serapan ini Di”


“Eh tadi pagi kamu mau ngomong soal apa Di?” tanya Paino


“Ya soal kamu itu, kenapa sampai jadi gini, dan apa yang terjadi kemudian No”


“Ah sudahlah, kamu diam dulu No, biarkan aku cerita apa yang menimpa kita”


Mulai dari ketika aku dan Paino nunggu mbak Hera dan gek Ayu yang ke warung bu Tina, sampai pada aku bangun dengan keadaan pakaian yang kotor.


Paino seperti murid TK yang sedang mendengarkan gurunya bercerita, dia sama sekali tidak menyela atau membantah, dia pasti sudah tau kalau keadaan kita ini tidak baik mulai dari waktu kita keluar dari rumah sakit.


“Gimana No, apa pendapatmu dengan cerita tadi?”

__ADS_1


“Aku belum punya kesimpulan dari yang kita alami Di, bahkan ketika kita ada di mobil dan tiba-tiba rasanya ada yang mencekik aku itu aku merasa sudah mati Di”


“Yang aku ingat waktu itu aku ada di sebuah ruangan atau apa gitu, dan di kejauhan ada titik putih. Titik putih itu seolah menarik tubuhku untuk mendekat….”


“Tapi ketika aku akan menuju ke titik putih itu, tubuhku yang awalnya sangat ringan itu tiba-tiba terasa sangat berat, koyok ada yang ngganduli aku Di, dan akhirnya aku sadar itu”


“Tapi dari semua yang kita alami… ada yang harus kita lakukan Di….”


“Yang pertama Di, kita harus bertemu dengan ibu dari dua anak kembar itu…tidak bisa ditunda lagi. Yang kedua Di, kita harus siap cari tempat lain yang lebih aman dari pada disini”


“Dan yang terakhir Di, kita harus cari korelasi antara pak Wayan, kita, dua anak kembar, dan lolokcicing”


“Aku yakin Di, dari yang aku sebutkan itu pasti segaris, pasti ada sebab dan akibat, perasaanku berkata seperti itu Di”


“Pikirku juga gitu No, pasti ada hubunganya, dan kita ada disini karena sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh lolok cicing itu”


“Kalau masalah kita ada disini, hingga mungkin lolok cicing yang memerlukan kita karena dia tidak sanggup untuk melakukan sesuatu itu aku kira nggak  gitu deh Di, tapi nanti kita lihat saja perkembangannya lagi”


“Sudah No, kamu istirahat dulu saja, aku mau mandi dulu, pakaian dan badanku kotor kena tanah”


Tidak ada yang aneh di kamar mandi atau ketika aku sedang mandi. Sementara ini keadaan tenang dan tidak terjadi sesuatu yang aneh.


Pakaian kotor yang belepotan tanah aku taruh di tas kresek terpisah, nanti kalau senggang akan aku cuci di kamar mandi dulu sebelum aku laundrykan.


Pagi setelah mandi dan setelah sarapan nasi goreng, karena aku memang memilih nasi daripada roti, aku duduk di teras kamar.


Aku memperhatikan seorang pegawai perempuan hotel yang mungkin sedang menaruh banten dan dupa di tempat sembahyang yang persis ada di sebelah kamar.


Anehnya aku sekarang sudah mulai terbiasa dengan bau wangi dupa, menghirup aroma wangi dupa rasanya gimana gitu… bikin tenang rasanya.


Kunikmati aroma wangi dupa yang asapnya sampai ke teras kamar, kupejamkan mata agar aku bisa menikmati wangi asap dupa arahnya ke teras kamarku.


“Selamat  pagi pa Sumadiiii”


“Eh ada mbak Hera, gek Ayu, dan…..dan  bu Tina.. selamat pagi” aku terhenyak kaget

__ADS_1


Jelas aku kaget, sebelumnya aku sedang menikmati harumnya aroma dupa, dan pikiranku sempat tenang seakan akan aku sedang berlibur tanpa ada masalah sama sekali.


Lha ndilalah ada tamu yang datang tepat di depanku kayak gini.


“Wah pak Sumadi sedang tidur ya, sampai kami datang bapak tidak tau” kata mbak Hera


“Nggak mbak Hera, saya tadi sedang menikmati bau wangi dupa mbak”


“Eh maaf bu Tina, apa ibu tidak salah datang ke sini?”


Aku heran, kenapa dua perempuan itu datang bersama bu Tina ke sini, apa ada sesuatu yang penting hingga menyebabkan mereka bertiga ada disini.


“Kenapa pak Sumadi, saya tidak boleh datang ke sini?” tanya bu Tina


“Eh bukan begitu maksud saya bu Tina, saya heran saja tiba-tiba ibu datang bersama mbak Hera dan gek  Ayu”


“Iya pak Sumadi, memang saya sengaja datang kesini. Bagaimana keadaan pak Paino?”


“Keadaan Paino sudah sadar, dan tadi sudah sarapan roti dan telur rebus, tapi dia belum bisa turun dari tempat tidur. Apa ada yang mau dibicarkan bu Tina?”


“Ya ada pak, bisa kita bicara bersama pak Paino juga, eh saya rasa lebih baik bicara di dalam saja. Eh selama asap dupa itu masuk ke kamar ini, saya kira semua akan aman-aman saja” kata Bu Tina yang makin membuat aku curiga.


“Kalau begitu mari masuk bu, tapi keadaan kamar masih berantakan bu”


“Ndak papa pak Sumadi, saya tidak butuh kamarnya, saya hanya butuh bicara dengan kalian berdua dan juga mbak-mbak ini juga” kata bu Tina


“Baiklah, eh saya bangungkan Paino dulu bu”


“Aku sudah bangun kok Di, suruh masuk saja Di, kita ngobrol di dalam” kata Paino tiba-tiba dari dalam kamar


Semua masuk ke dalam kamar, mbak Hera dan Gek Ayu duduk di pinggir tempat tidur yang biasa aku tiduri,  bu TIna aku suruh duduk di kursi, aku duduk di pinggir tempat tidur Paino.


Kuperhatikan bu Tina, untuk pagi ini dia nampak tenang, atau mungkin belum ada sesuatu yang membuat dirinya takut atau khawatir.


“Bagaimana bu Tina, apa yang mau ibu katakan kepada kami bu?”

__ADS_1


“Saya akan menjelaskan siapa itu yang mengganggu kalian berdua, hingga pak Sumadi serta pak Paino mengalami kejadian yang tidak seharusnya terjadi pada kalian berdua” kata bu Tina dengan santai


__ADS_2