Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 58. OMONGAN PAK WAYAN


__ADS_3

Aku yang tadinya takut dan heran, sekarang malah bosan, karena yang terlihat hanya aku yang jalannya sempoyongan dengan mata tertutup dan bayangan putih yang melayang-layang di sekitar kami saja.


Aku percepat video ini hingga setengah menit….


Sekarang yang terlihat adalah aku sedang berjalan miring menaiki tebing jurang sungai yang curam.


Gila….!


Aku tidak merangkak atau berpegangan pada sesuatu…. Tubuhku dan kakiku seperti lengket dengan tanah, aku berjalan dengan tubuh miring ke depan dan naik ke atas!


“Saya percepat ya mbak Hera”


“SIlakan pak Paino”


Hingga video ini selesai aku tidak melihat ada bayangan putih yang masuk ke tubuhku, hingga aku dan Sumadi berjalan sempoyongan sampai di pinggir jalan pun tidak ada yang mengikuti kami.


“Tebakan Hera salah… ternyata tidak ada satupun yang masuk ke dalam tubuh pak Paino, dan pasti nya juga dengan pak Sumadi, dan seharusnya luka yang diderita pak Sumadi sama dengan pak Paino,” gumam Hera


“Gek Ayu… aneh ya Gek… tidak ada yang menyakiti mereka ketika mereka jalan menuju ke pom bensin” kata Hera


“Eh gek Ayu dan mbak Hera… saya mau cerita kejadian setelah kami pulang dan sebelum kalian tiba di hotel. Saya rasa ketika itu ada sesuatu yang miss yang saya belum bisa memahaminya”


“Jadi intinya ketika saya dan Sumadi datang ke hotel keadaan kami baik-baik saja, dan tidak kurang satu apapun, tapi setelah itu ada beberapa kejadian yang janggal dan saya bingung harus cerita kepada siapa”


Aku ceritakan ketika aku tidur di ruang tamu dan kedatangan pak Wayan, kemudian siang hari ketika untuk kedua kali pak Wayan datang, dan dia memperlihatkan kepadaku tentang Sumadi yang sedang entah diapakan oleh Gusta, Gustin dan satu sosok asing lagi.


Kemudian pak Wayan datang lagi untuk ketiga kalinya di dalam kamar ini, untuk memberitahu dan membujuk Sumadi agar masuk ke dalam tubuh kasarnya..


Aku ceritakan juga tentang ibu dari dua Gusta dan Gusti yang terlihat aneh ketika aku tanyai masalah kedua anaknya itu.


Kedua perempuan itu cuma diam dan menyimak ceritaku hingga selesai, aku tau apa yang aku ceritakan ini tidak masuk akal, hanya saja memang terjadi padaku.


“Hera percaya apa yang pak Paino barusan ceritakan… yang paling utama dan yang harus diselesaikan adalah dua anak itu dulu pak…. “


“Bapak harus datangi ibu dari dua anak itu dulu. Dan kalau boleh tau kasih kami alamat rumah yang pak Paino sedang lakukan observasi itu”


“Kami tidak akan ke sana pak, tetapi kami akan tanya ke orang sekitar yang tau sejarah dari rumah itu, dan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah itu pak”


“Jangan mbak, untuk rumah itu biarkan hanya saya dan Sumadi saja yang tau di mana letaknya”


“Tapi untuk saat ini saya kan tidak mungkin meninggalkan Sumadi mbak,  saya harus tetap ada di kamar ini hingga Sumadi Sembuh mbak”


“Begini saja pak, Hera dan gek Ayu ini sebenarnya orang luar, kami tidak seharusnya ikut campur urusan pak Paino dan pak Sumadi….Hanya saja Hera merasa kasihan kepada bapak-bapak ini”


“Kalau seumpama bapak-bapak ini mempunya keahlian atau punya pegangan ilmu, Hera gak akan bantu. Tetapi karena bapak ini tidak punya niat buruk disini Hera mau kok ikut campur urusan pak Paino”


“Hera rasa gek Ayu juga gak keberatan kok kalau jaga pak Sumadi disini sementara pak Paino pergi menemui ibu dari dua anak kembar itu, tetapi kami bisanya hanya setelah pulang kerja saja pak”

__ADS_1


“Kalau memang tidak keberatan besok kita lanjut bicara mbak.. Eh sekarang lebih baik kalian pulang saja mbak, sudah malam ini, lagian bisa jadi operasinya Sumadi memakan waktu berjam jam”


“Iya pak.. Ini sudah jam 22.30 hehehe, kami pamit dulu pak, besok pagi kami kesini sebelum kerja pak”


“Eh apa aman kalian berdua pulang larut seperti ini?”


“Tenang saja pak Hera dan gek Ayu udah biasa kok pergi cari makan jam segini, di kota ini jam berapapun tetap rame kok pak hehehe” jawab Hera


Dua perempuan pemberani itu sudah pulang..


Sekarang tinggal aku yang sedang menunggu kedatangan Sumadi yang sedang dalam proses operasi, tapi nggak tau juga, apakah nanti dia masuk ke ruang khusus atau tidak, karena dia operasi berat


Eh tapi entahlah.. Mungkin juga bisa hanya bedah ringan saja… nggak tau juga aku …


Aku duduk di depan kamar di kursi yang memang disediakan untuk penunggu pasien.. Di depan kamar ini adalah sebuah taman sederhana…


Keadaan disini sepi, hanya ruang jaga suster yang agak rame, karena ada tiga suster yang sedang ngobrol.


Aku memandang ke tanaman hijau yang terkena sinar lampu taman… begitu tenang, seakan akan aku sedang menikmati kesendirianku.


Kalok gini rasanya aku kayak sendirian di tanah orang… Sumadi satu-satunya sahabatku.. Semoga dia bisa lekas pulih dari lukanya


“Tenang aja, besok dia pasti sembuh”


Aku menoleh ke kanan, tidak ada siapapun.


Kulirik sekali lagi… ah ternyata ada pak Wayan…


Sudah…  aku tidak berani menoleh, aku hanya terus memandang ke tanaman hijau yang ada di depanku.


“Temanmu akan sembuh, jangan khawatir….besok sakit itu sudah tidak nampak,” kata pak Wayan


Pak Wayan bukan bicara dengan ku, aku bahkan tidak bisa mendengar suara dia, tapi aku bisa merasakan suara pak Wayan  melalui batinku.


Dalam hati aku hanya bisa ucapkan terimakasih pak Wayan… hanya itu yang bisa aku katakan dalam hati


“Datanglah ke rumah saya setelah temanmu benar-benar sehat”


“Saya tidak tau dimana rumah pak Wayan” jawabku dalam hati


“Ikuti kata hatimu,  mulailah memahami apa yang dikatakan tubuhmu” kata pak Wayan


Sudah hanya itu saja, kemudian pak Wayan hilang dari sebelahku.


Sekarang aku sendirian lagi, tetapi aku merasa memiliki sebuah harapan tentang Sumadi dan apapun yang akan aku  hadapi.


Kulihat jam tanganku, ternyata sudah pukul 24.05. Sumadi belum juga selesai menjalani operasi.

__ADS_1


Satu suster kemudian pergi dari ruang suster yang tidak jauh dari tempatku duduk…. Tidak lama kemudian dua suster juga pergi.. Mereka menuju ke arah pintu yang ada di sampingnya.


Otomatis ruangan suster sekarang kosong


Ruangan suster kosong, sehingga di sini tidak ada orang lagi selain aku yang sedang duduk di depan ruang rawat inap Sumadi.


“Ah tinggal aku sendirian, gawat ini. Tapi gak mungkin suster-suster itu akan lama perginya”


Benar dugaanku tidak lama kemudian suster yang tadi ada di ruang suster itu datang lagi, dia melewati tempat aku duduk dan menyapa aku.


Pukul 24.30 dari kejauhan aku mendengar suara roda ranjang pasien yang bergesek dengan lantai rumah sakit… itu pasti Sumadi


Aku berdiri untuk mencari sumber suara dari roda ranjang pasien, ternyata bukan halusinasiku, dari kejauhan aku ranjang pasien yang diantar beberapa suster menuju ke arahku.


Benar itu Sumadi…


Setelah sampai di dalam kamar, ternyata aneh, Sumadi tidak dipasang alat bantu pernafasan sama sekali.


“Kok nggak dipasang lagi alat bantu pernafasannya sus?”


“Saya tidak tau pak, ini perintah dari dokter pak, besok pagi waktu dokter visite akan dijelaskan,” jawab salah satu suster itu


Sumadi dalam keadaan tidak sadar, iseng aku lihat di bagian dada tidak ada bekas pembedahan, hanya di sekitar rusuk saja ada bekas pembedahan yang masih tertutup perban yang berwarna merah muda.


Apa ini tadi yang dikatakan pak Wayan… apakah Sumadi dibantu pak Wayan untuk proses kesembuhannya?


*****


Pagi hari sekitar jam tujuh pagi, Hera dan gek Ayu datang..


Aku ceritakan apa yang terjadi tadi malam setelah mereka berdua pergi dari sini.


Aku juga cerita apa kata dokter tentang keadaan Sumadi ketika Sumadi ada di ruangan operasi.


“Kok bisa ya pak Paino, masak sih dokter yang menangani pak Sumadi bilang gitu tadi” tanya Hera


“Saya juga heran mbak”


“Jadi tadi pagi sekali sekitar jam lima pagi setelah saya sholat subuh, dokter yang menangani pembedahan Sumadi datang untuk visite”


“Setahu saya dokter menjenguk pasien itu kan setelah dia selesai praktek, tapi khusus Sumadi, dokter itu datang tadi jam lima subuh”


“Dia ketemu saya mbak, awalnya dia tanya sebelum operasi apa yang dilakukan pasien”


“Saya jawab saja pasien tetep tidur di ranjangnya, tidak kemana mana dan tetap ada saya disini”


“Dokter itu hanya bilang… kok aneh ya pak”

__ADS_1


“Saya tanya, anehnya kenapa dok, apakah ada penyakit lain yang diderita teman saya?”


__ADS_2