
“Perhatikan No, tadi aku sudah screenshot bagian yang belum menjadi hitam, dan hasil screenshot itu aku pindah ke aplikasi paint, aplikasi yang paling sederhana yang kita punya…”
“ Ini adalah satu detik sebelum menjadi hitam No, sebelum ada yang menghalangi lensa handycam”
“Tapi nanti kapan-kapan suatu saat aku mau ke tempat temanku, disana dia punya aplikasi yang canggih, bisa memperjelas foto yang kabur dan sama sekali tidak jelas”
“Ok kemudian tadi aku coba-coba edit dengan mencerahkan gambar yang ada di tempat tidur itu, perhatikan sebelum gambarnya menjadi gelap seperti ada yang menutupi”
“Perhatikan No. meskipun tidak jelas dan hanya samar saja, kamu pasti bisa menebak….”
Sumadi mengotak atik gambar yang dia screenshot tadi..perlahan lahan gambar yang sebelumnya hanya ada seperti gundukan itu kemudian nampak jelas meskipun samar dan hanya berupa bayangan saja.
“Astaga Di…. ada orang yang tidur disitu”
“T.. tapi wa..wajah itu Di, wajah itu…”
“Iya No…”
“Itu wajahku…”
“Dan ini yang membuat aku tidak semangat sama sekali…. yang ada di tempat tidur itu adalah tubuhku dan wajahku No"
"Yang ada di tempat tidur itu adalah aku!”
Sumadi kemudian menjauh, dia duduk di pinggir tempat tidurnya, aku bisa merasakan apa yang sekarang dirasakan Sumadi.
Kenapa yang ada di tempat tidur itu adalah Sumadi.
Tapi nggak mungkin, itu kan hanya gambar samar, hanya berupa bayangan saja meskipun bisa dilihat wujudnya, tetapi itu berupa bayangan samar yang belum tentu benar.
“Itu hanya berupa bayangan samar saja Di, dan karena banyaknya distorsi akibat kamu besarkan kontrasnya, maka yang muncul adalah gambar seperti itu, mirip dengan kamu”
“Jadi jangan terus kita beranggapan yang ada di gambar itu adalah kamu…. Coba kamu lihat, di sekitar gambar itu penuh dengan distorsi kan, dan memang sekilas mirip dengan kamu, tapi aku yakin itu bukan kamu”
“Iya, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa itu bukan aku No, tetapi bagaimana dengan pandangan ghaib Gusta dan Gustin, apa yang akan kamu katakan dengan pandangan Gusta dan Gustin No?”
“Sudah sudah Di jangan dipikir dulu… ayo kita jalan-jalan sebentar Di”
“Yuk kita sejenak melepaskan diri dari kerjaan kita yang semakin kesini semakin mengerikan Di”
“Matikan laptopmu Di kita jalan kaki aja kemana kaki kita melangkah, oh iya sebelumnya bikin email kepada lolokcicing dulu, bilang aja untuk malam ini mungkin kita tidak kesana dulu”
__ADS_1
“Bilang saja aku sedang sakit dan butuh istirahat sejenak”
Kami lelah, sudah pasti kami sedang lelah, kami butuh sedikit istirahat. Dan tentang apa yang ada atas tempat tidur itu, aku yakin sekali itu bayangan dari Sumadi.
Tapi aku nggak mau membuat temanku down, aku harus memberi dia semangat meskipun omongan Gusta dan Gustin sedemikian menakutkan tentang aku dan Sumadi.
Aku harus cari cara untuk menguatkan dan mengangkat semangat Sumadi lagi, aku tidak bisa kerja tanpa dia, karena kami ini sudah merupakan satu team yang kompak.
“Sudah No, sudah aku email si lolokcicing, dan dia juga sudah jawab katanya silahkan menikmati keindahan kota ini pada sore dan malam hari”
“Dia menyarankan kita untuk ke pantai K, mumpung nanti sore kan akan kelihatan sunsetnya”
“Ya sudah No, ayo kita pergi, bawa juga kamera foto, siapa tau nanti kita butuh dokumentasi yang asik asik Di”
Sumadi mulai bersemangat lagi, dia mengambil kamera saku yang biasanya kami gunakan untuk mengambil gambar di tempat yang tidak memerlukan tingkat kesulitan pencahayaan.
Yah sore hingga malam hari ini akan kami habiskan di tempat wisata yang ada disini, agar pikiranku dan pikiran Sumadi bisa tenang lagi.
Kami berangkat menuju ke pantai K atau mungkin kalau kejauhan dan macet, kami bisa ke pantai S atau ke pantai matahari terbit.
Perjalanan lancar saja, tidak ada hambatan sama sekali.
“Kalau trafiknya kaya gini, kita langsung ke K aja No, sekalian jalan-jalan”
Suasana di jalan IB cukup ramai, beberapa motor banyak yang menyalip dari arah kiri… sebenarnya cukup bahaya, dan bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas.
Kebetulan beberapa belas meter di depanku ada sebuah motor matic yang roda belakangnya oleng. Ketika aku lihat ternyata rodanya agak kempes.
“Hati-hati No, di depan kita ada pemotor perempuan yang rodanya goyang-goyang. Tapi anehnya kok yang mengendarai nggak terasa sama sekali ya hehehe”
“Iya Di, kita ada di belakangnya saja, aku nggak berani mendahului, kalau tiba-tiba dia oleng dan menabrak kita, wah bisa jadi masalah heheh”
“Rodanya itu kempes No, tapi yah namanya juga perempuan, dia kayaknya gak mau berhenti”
“Iya Di, tapi untungnya dia jalan di pinggir, nggak jalan di tengah jalan”
Kondisi jalanan juga agak macet, sehingga aku juga nggak bisa mempercepat laju mobil, mataku terus melihat pemotor yang rodanya makin goyang, tapi ya tetap saja pengendara perempuan itu seolah tidak merasakanya.
Mobilku ada tepat di belakangnya, hanya saja aku sengaja menjaga jarak dengan pengendara yang ada di depan kami.
Dan apa yang aku takutkan terjadi…..
__ADS_1
Perempuan itu tiba-tiba menabrak trotoar kiri, setelah roda belakangnya makin parah.
“STOP… STOP… dia jatuh No!”
Aku hentikan mobil di pinggir jalan, kupasang lampu hazard…
Sumadi langsung turun dan membantu pengendara yang jatuh itu. Aku turun dan mengatur lalu lintas agar tidak macet di sebelah mobilku.
“Gimana keadaaanya Di?”
“Waduh, gawat No, dia pingsan…. Gimana No?”
“Ada darah keluar dari pelipisnya Di, kayaknya dia tadi nabrak trotoar”
“Kita bawa ke rumah sakit aja No”
Sementara itu lalu lintas mulai menjadi macet, karena banyak pengendara yang ingin tau apa yang terjadi.
Kebetulan di sebelah perempuan itu jatuh adalah sebuah kantor ekspedisi yang kayaknya masih ada kegiatan… jadi mungkin aku bisa titipkan motor milik dia di sana.
Dan kebetulan juga ada beberapa karyawan kantor itu yang keluar.
“Pak, bisa titip motor korban disini? Kami mau bawa mbak ini ke rumah sakit” kata Sumadi sambil berusaha berdirikan motor korban dibantu oleh karyawan dari kantor itu
“Bisa pak…. Saya bantu pak” kata salah satu pegawai kantor itu
Setelah selesai dengan urusan motor yang dibantu oleh pegawai kantor, dan Sumadi meminta nomor telepon yang bisa dihubungi di kantor ini, kemudian dengan menggunakan google map, kami mencari rumah sakit terdekat di daerah ini.
“No yang terdekat adalah Rs PR yang satu jalur ke hotel kita. Eh ini letaknya ada di sebelum hotel yang kita tempati, kita ke sana saja, aku ikuti google map”
“Gimana kondisi mbaknya Di?”
“Dia masih pingsan No…cepat No kita harus sampai UGD secepatnya”
Intinya kami batal untuk bersenang-senang sejenak, dan akhirnya kami harus membawa korban ke rumah sakit hingga nanti kami bisa menghubungi keluarga korban.
Jarak rumah sakit ini tidak begitu jauh, hanya saja jalan disini yang satu arah mengakibatkan harus memutar agak jauh. Tapi akhirnya kami sampai juga di rumah sakit langsung perempuan yang masih pingsan itu kami masukan ke UGD.
Sumadi mencari ponsel perempuan yang ada di tas punggungnya, tetapi sayangnya kami tidak menemukan ponselnya sama sekali.
Hanya ada dompet dengan nama Herawati dengan alamat di kota Medan. Dari tanggal kelahirannya, kemungkinan besar perempuan ini adalah mahasiswa
__ADS_1
“Waduh Di, kita harus nunggu perempuan ini sampai siuman jeh hahahah, batal liburan kita Di”
“Gak papa No, sekali kali berbuat baik untuk orang disini hehehe”