
“Kalian ini nekat datang ke rumah itu!”
“Sudah banyak orang yang kesana dengan tujuan yang wong samar disana tidak suka. Mereka mencari pesugihan, menantang kami, mencari ilmu hitam, bahkan mengusir wong samar yang ada disana”
“Tetapi tidak ada yang berhasil keluar dengan selamat, sebagian menjadi gila dan sebagian mati setelah dihabisi oleh dua kembar ular dengan mahkota di atasnya”
“Tapi beda dengan kalian, kalian datang ke rumah itu tanpa mempunyai ilmu sama sekali, kalian kosongan. Kalian nekat kesana hanya untuk bisa merasakan adanya wong samar disana”
“Beberapa kali kalian sudah diberi peringatan, bahkan kalian dibuat sakit dan luka-luka, tapi tetap nekat”
“Sebutkan tujuan kalian ini sebenarnya apa?” tanya pak Wayan dengan wajah serius tanpa senyum sama sekali
Benar kata Sumadi, orang ini baik…
Tapi apakah aku harus sebutkan tujuan kami ke rumah itu?
Harus, aku akan sebutkan apa tujuan kami, siapa tau ada kemudahan setelah ini.
“Baiklah pak Wayan, tujuan kami ke rumah itu hanya untuk merasakan…ya hanya untuk merasakan saja”
“Merasakan apa yang ada disana dan menuliskan di buku kami”
“Eh gini pak Wayan, kami ini adalah penulis buku cerita horor, tetapi dalam penulisan itu kami tidak asal mengarang saja, tetapi atas dasar dari pengalaman kami di tempat yang kami datangi”
“Kami ke rumah itu karena kami diundang oleh orang yang misterius, dia memberi sejumlah uang kepada kami selama kami ada pulau ini. Tapi sampai sekarang saya tidak tau siapa orang itu”
“Atas undangan orang itu kami datang kesini, dan seperti yang sudah-sudah kami disini bukan untuk melawan atau untuk mengusir atau test ilmu”
“Kami hanya ingin merasakan dan mengetahui ada apa saja di rumah itu, sudah hanya itu saja pak”
“Jadi kami tidak ingin mengganggu apapun yang ada di rumah itu, kami hanya ingin merasakan yang ada disana dan menulis buku tentang pengalaman kami di rumah itu”
“Dan satu lagi, kami tidak akan mencantumkan alamat tempat dimana kami melakukan pengamatan”
“Hmmm ya ya…….” jawab pak Wayan sambil melihat aku dan Sumadi
“Tidak papa, pokoknya jangan sampai mengusik dan berbuat yang tidak baik di rumah itu….tapi saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian, karena semakin hari wong samar yang ada disana semakin banyak”
“Semakin banyak yang datang dengan tujuan yang berbeda beda” kata pak Wayan dengan wajah serius
“Saya tidak tau apakah mereka itu bisa menerima kedatangan kalian atau tidak”
Sebentar…. Aku nggak sadar, dari tadi pak Wayan ini bicara menggunakan bahasa daerah, dan aku pun menjawab dengan menggunakan bahasa daerah juga!
Bagaimana sampai detik ini tiba-tiba aku bisa mahir berbahasa daerah sini?!....
Ah aku lupa….yah namanya juga ghaib, apapun bisa saja terjadi dengan keanehan dan tanpa bisa dinalar sama sekali.
__ADS_1
“Maaf pak Wayan, kami ini sebenarnya ada dimana?”
“Kalian….kalian ada di rumah saya, tadi bukannya saya sudah katakan bahwa kalian ada di rumah saya”
“Maaf pak, bukannya tadi saya masuk ke dasar sungai, harusnya kami kan ada di dasar sungai dan mencari jalan untuk keluar dari sana”
“Iya tubuh kalian sekarang sedang berjalan dan mencari jalan keluar dari sana, tubuh kalian dibantu oleh teman wong samar penghuni jurang sungai itu”
“Tapi tidak mudah membawa tubuh kalian pergi dari sungai yang berbahaya itu, tapi tenang saja, tubuh kalian sedang bersama wong samar teman saya”
“Kalian disini karena saya undang, saya hanya ingin tau tujuan kalian ada di rumah itu” kata pak Wayan
“Hfffhhh…….begini….”
“Asal kalian tau, rumah itu berdiri persis di kediaman saya, sebagai orang sini harusnya yang membangun rumah itu mencari tau dulu ada apa saja di sekitar sini”
“Awalnya saya anggap tidak masalah… karena selama ini mereka tidak berbuat yang tidak-tidak”
“Tetapi ternyata anggapan saya salah, banyak hal-hal jelek yang mereka bawa di dalam rumah itu, hal negatif yang menyebabkan penghuni ghaib di sekitar setra itu marah!”
“Wong samar sekitar situ banyak yang marah, mereka menakuti tamu-tamu yang menginap disana!”
“Dan akhirnya rumah ini tidak ditempati lagi….”
“Tapi tidak lama kemudian, pemilik rumah itu membangun ruang bawah tanah, ruang bawah tanah itu sangat mengganggu penghuni sungai”
“Penghuni rumah itu melakukan kegiatan yang tidak pantas di dasar sungai, mereka orang asing yang tidak tau adat istiadat daerah ini”
“Penghuni sungai sangat marah, pemilik rumah itu mendatangkan dukun untuk mengusir wong samar yang ada disitu, tetapi tidak ada yang berhasil”
“Hingga kemudian entah bagaimana, pemilik rumah itu membangun ruangan dengan perabot yang sama, ternyata itu untuk menjebak wong samar, banyak wong samar yang terjebak kemudian dimusnahkan”
“Tapi itu tidak berlangsung lama, wong samar di sungai ini lebih kuat, dan mereka berhasil menguasai rumah itu lagi”
“Setelah itu rumah itu kosong, tetapi banyak juga orang yang datang ke sana untuk mengukur dan mengadu ilmu mereka, selain itu banyak juga yang mencari pesugihan disana”
“Mereka tidak ada yang kuat, mereka gila dan mati”
“Hingga kemudian kalian datang ke sana itu”
“Tentu saja selama kalian ada disana, kalian akan diusir, dilukai, diganggu, oleh penduduk yang ada disana, tetapi selama kalian tidak melawan atau memamerkan ilmu , mereka tidak akan membunuh kalian”
“Lama-lama setelah tau kalian tidak akan melawan, mereka tidak akan mengganggu kalian lagi”
Pak Wayan kemudian diam, kemudian dia pergi ke bangunan yang ada di sebelah kanan kami, bangunan yang kata Sumadi merupakan bangunan utama.
Tapi hanya sebentar, dia keluar lagi dan duduk di sebelahku lagi.
__ADS_1
“Kalian berdua hati-hatilah, kalian dalam bahaya”
“Bahaya itu bukan dari penghuni rumah itu, tetapi dari beberapa orang yang berusaha melukai dan membunuh kalian”
“Orang-orang dengan tujuan tertentu dan berusaha mendompleng kalian yang sudah berhasil masuk ke sana dengan selamat”
“Apa yang ada rumah itu, kalian akan tau dengan sendirinya nanti…. dan nanti sewaktu waktu saya akan temui kalian berdua, ada yang mau saya bicarakan dengan kalian, tapi tidak disini”
“Sekarang kalian kembali ke hotel dan berhati-hatilah”
Kemudian orang yang minta dipanggil dengan nama pak Wayan itu pergi menuju ke arah kiri, sepertinya dia ke tempat persembahyangan.
Aku dan Sumadi hanya diam dan bingung dengan kejadian barusan, nggak tau apa yang harus kami lakukan, pokoknya aku hanya bisa diam tanpa menganalisa apa yang terjadi dengan kami.
Bau dupa kembali menyengat dan sangat wangi, terus terang saat ini aku sangat menikmati bau wangi dari dupa yang mungkin sedang dibakar oleh pak Wayan.
Kulihat Sumadi yang nampaknya sedang bingung juga…
“Di, gimana caranya agar kita bisa kembali ke tempat kita yang sebenarnya?” aku berbisik kepada Sumadi
“Aku nggak tau No….”
“Eh coba berkedip beberapa kali No, barusan ada yang menjawab atas pertanyaanmu itu melalui batinku”
Aku berkedip beberapa kali, aku coba apa yang dikatakan Sumadi tadi…
Tidak ada yang terjadi… aku coba berkedip lagi. Dan… dan mataku tertutup, tidak bisa aku buka lagi.
*****
“Bangun pak, jangan tidur di sini pak…. Ayo bangun pak”
Aku buka mataku, ternyata aku tertidur di pinggir jalan sebelah pom bensin…di sebelahku Sumadi juga baru membuka matanya.
“Bapak, kalau ngantuk bisa tidur di area spbu ini saja, lebih aman pak. Jangan di luar spbu, kalau ada orang jahat bagaimana pak?”
Di sebelahku ada petugas dari pom bensin yang sedang jongkok dan berusaha membangunkan aku.
“Kalau masih ngantuk tidur di area spbu saja pak, jangan disini… bahaya pak” kata orang itu kemudian pergi meninggalkan kami berdua
“Di, kok bisa kita ada disini?”
“Mbuh No, kita tanya saja sama orang yang tadi itu”
“Di peralatanmu masih lengkap kan?
“Masih No, nggak ada yang hilang sama sekali”
__ADS_1
“Eh No handycam ini masih dalam posisi merekam, kok aneh ya. Atau aku lupa mematikan ya No?”
“Nggak Di, waktu kita mau masuk ke bawah sungai, kamu sempat merekam kok, tapi nggak tau lagi apa kemudian kamu matikan atau tidak”