Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 99. MEREKA MERENCANAKAN SESUATU


__ADS_3

Posisi kami yang ada di hutan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan oleh beberapa orang yang sedang berkumpul di depan warung


Tapi sekilas aku bisa melihat disana ada Gusta dan Gustin, ada juga Komang yang aku anggap orang yang baik.


“Di, kita bisa pindah tempat yang lebih dekat dan bisa lihat siapa saja yang di sana nggak, kalaupun nggak bisa lihat dengan jelas, tapi kita bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan itu tentu saja sudah cukup baik Di”


“Kayaknya sih bisa No, karena posisi kita ini kan gelap, mereka tidak akan bisa melihat kita, tapi kalau mendengarkan apa yang mereka bicarakan kayaknya sulit No, karena kamu harus lebih dekat lagi ke sana”


“Kita pindah ke sebelah kanan kita itu coba No, disana ada semak yang lumayan rimbun, untung-untungan kita bisa dengar apa yang mereka sedang bicarakan No”


Aku setuju dengan Ide Sumadi, perlahan-lahan dengan mata masih tetap melihat ke warung yang rame itu kami  berpindah ke tempat yang lebih rimbun dan gelap.


“Disini kita bisa lihat siapa saja yang ada disana No, itu ada Komang, ada Gusta dan Gustin, sedangkan yang lainnya kita nggak kenal”


“Mereka kayaknya sedang asik ngobrol, aneh ya, padahal baru juga sehari disini, Gusta dan Gustin bisa bersenda-gurau dengan penduduk disini Di”


“Aku curiga mereka berdua sudah beberapa kali pernah kesini No, jangan-jangan yang memprovokasi penduduk disini ya Gusta dan Gustin itu No”


Suara gelak tawa terdengar keras hingga di tempat kami sembunyi, suara tertawa perempuan yang aku terka suara Gustin terdengar jelas sekali.


Kalau begini caranya, keadaan puri pak Wayan cukup bahaya, karena penduduk desa itu pasti dibantu oleh Agus, tapi apakah mereka bisa melawan penjaga ghaib puri itu?


“Kamu diam disini dulu Di, aku mau lebih dekat ke sana, aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, dan kalau terjadi sesuatu dengan aku, kamu segera lari ke puri, jangan tolong aku sendirian, tapi carilah bantuan!”


“Kamu nekat mau datangi mereka No?”


“Nggak lah, aku mau ke arah pohon yang terdekat disana, aku akan curi dengar apa yang mereka bicarakan disana, karena kalau seperti ini keadaan disini makin kacau!”


Kutinggalkan Sumadi yang masih sembunyi di balik semak belukar, malam ini lumayan gelap, apalagi di hutan ini, aku yakin tidak akan terlihat oleh mereka yang ada di warung itu.

__ADS_1


Anehnya salah satu dari sosok mengerikan itu ikut bersamaku, sosok itu yang matanya lubang, kepala depannya botak, yang namanya celuluk. Dia ikut bersama aku.


Perlahan-lahan aku makin dekat dengan pohon yang aku tuju, dari sini pun aku bisa mendengar suara mereka yang sedang bicara, tapi hanya sebagian saja, masih ada suara mereka yang tidak terdengar disini.


Perlahan makin dekat dengan tujuanku, yaitu sebuah pohon di sebelah jalan setapak, pohon yang diameternya lebar sehingga aku bisa sembunyi disana. Ketika kulihat kondisi aman, aku langsung merapat di pohon yang aku maksud.


Sekarang aku bisa mendengar suara mereka….. Hhm itu suara Komang dan Gusta yang sedang bicara.


*****


“Kita tidak bisa melawan mereka Gusta, orang kamu sudah mati!” kata suara Komang


“Jangan khawatir, bapaku akan bawa pasukan ke sini, apapun yang terjadi bapakku akan kesini dengan pasukan dia, nanti tinggal kita saja yang mengambil hak kami dan hak kalian” kata suara yang mirip dengan suara Gusta”


“Pokoknya kalian siap-siap saja ketika pasukan bapak ku datang, aku, adikku dan kalian semua harus masuk ke sana dan mencari dimana disembunyikan benda-benda berharga yang kata kalian itu peninggalan dari leluhur kalian” kata Gusta lagi


“Lalu kapan kira-kira bapak kamu akan datang ke sini, nanti saya akan bicara dengan perangkat desa untuk ikut mencari benda berharga milik keluarga kami”


*****


Itu salah  satu pembicaraan yang paling penting yang aku dengar tentang rencana dari Agus dan anak anaknya. Aku harus beritahu pak Wayan tentang hal ini secepatnya.


Tapi kenapa Komang bilang itu harta milik keluarga dia, apa nggak salah dengar aku, ini sangat aneh dan bikin bingung. Pak Wayan bilang harta yang ada disana adalah dari leluhurnya.


Sedangkan barusan aku dengar dari Komang kalau harta itu milik keluarganya. Ada yang nggak beres disini!


Aku kira cukup lah mendengar mereka bicara, aku harus segera kembali ke tempat Sumadi!


Setelah aku rasa aman aku mundur beberapa langkah, untuk mencapai pohon yang sebelumnya,

__ADS_1


KREK….. Jancuuk kakiku menginjak ranting!


Aku langsung tiarap… mereka pasti dengar suara yang tadi aku timbulkan itu. Dan ternyata benar, aku mendengar beberapa langkah kaki yang berjalan tergesa gesa ke arah hutan ini.


Aku tidak berani menengadahkan kepalaku, aku sangat takut sekali kalau tiba-tiba mereka menemukan aku…aku tetap tengkurap dan berharap semua baik baik saja.


Tapi mendadak suara langkah kaki itu berhenti, tidak ada lagi suara langkah kaki di depanku..


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH  CELULUK!” teriak salah satu dari orang yang mungkin mengejar aku tadi


Aku diam beberapa saat, aku masih tiarap hingga suasana menjadi tenang dulu.


Setelah kira-kira dua tiga menit tidak ada suara sama sekali, aku mulai melihat ke sekitar tempatku  tengkurap.


“Kayaknya sudah aman, aku bisa ke Sumadi lagi” gumamku


*****


“Waduh yang bener ini yang mana No, kenapa Komang bilang seperti itu?”


“Jadi kesimpulan adalah, Komang dan mungkin warga desa itu merasa harta yang ada di puri pak Wayan itu milik dan hak mereka, sehingga mereka akan merebutnya”


“Kemudian selanjutnya si Agus atau Gusta atau Gustin tau kalau sedang ada perebutan harta disini, dan mereka akhirnya menunggangi mereka. Bahkan membantu mereka merebut harta mereka dan tentu saja mencari tujuan mereka juga Di”


“No, aku kok curiga ya, yang mereka cari itu bukan lagi tentang harta yang ada disana, tetapi mereka mencari sesuatu yang lebih berharga dari pada harta yang ada disana”


“Apa yang kamu pikirkan itu sama dengan apa yang aku pikirkan Di, tapi sampai detik ini aku belum tau apa yang menjadi daya tarik dari Gusta, Gustin, dan bisa jadi si Agus”


“Ada yang aneh juga disini Di, waktu Rangda membunuh Hasto… Gustin sempat merengek bahwa mereka dipaksa Agus untuk melakukan ini karena ada ancaman terhadap ibu mereka kan?”

__ADS_1


“Tapi tadi waktu aku dengar mereka bicara, Gustin nampak lepas seolah tidak ada beban sama sekali, kesimpulannya, dia hanya cerita bohong tentang dipaksa Agus itu”


“Belum tentu No, bisa saja waktu tadi dia tertawa itu sandiwara saja. Tapi kejadian yang sebenarnya adalah dia sedang dalam ancaman si Agus”


__ADS_2