Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 68. PINDAH KAMAR


__ADS_3

Siang ini setelah kami rasa aman, kami pulang ke hotel..


Di pintu masuk hotel, mas Nyoman yang biasanya selalu keliling sekitar hotel kalau malam hari menyambut kami berdua.


“Selamat pagi pak Paino dan pak Sumadi… bagaimana kabar pak Sumadi, sudah sehat bapak?”


“Sudah mas Nyoman heheh, saya sudah sehat kok.. Bagaimana kamar kami pak, masih atas nama kami berdua kan hehehe”


“Oh tentu saja masih pak, selama belum ada instruksi dari atasan ya tetap saja bisa bapak pakai kamar itu”


“Mas Nyoman, saya mau tanya. Sebenarnya yang membayar biaya hotel kami ini siapa?”


“Waduh, saya tidak tau pak, saya hanya kerja atas suruhan bos saja, jadi untuk masalah urusan tingkat atas saya tidak tau… memangnya apa pak Paino?”


“Nggak papa mas, yah saya hanya penasaran saja, milyuner siapa yang mau menanggung biaya hotel dan biaya rumah sakit Sumadi”


“Iya maaf pak Paino, saya tidak tau siapa yang melakukan pembayaran atas kamar yang bapak gunakan itu”


“Ya sudah mas Nyoman, eh bisa minta kunci kamar mas…?”


“Oh iya pak… sebentar saya ambilkan, bapak-bapak tunggu di teras kamar saja, nanti saya bawa kesana”


Untuk sementara ini Sumadi tidak terlihat bingung, dia nampak tenang, yang artinya Sumadi tidak melihat kehadiran dua orang anak kembar yang tadi sempat mengejar kami di rumah sakit.


Kami menuju ke teras kamar kami yang sudah tiga hari ini kosong karena aku harus tinggal di rumah sakit.


“No…stop!”


“Ada apa Di?”


“Jangan naik ke teras itu dulu…. Duh gimana caranya ya… “ gumam Sumadi


“Memangnya ada apa Di, apa yang kamu bilang bagaimana caranya itu?”


“Di lantai teras itu ada cairan kental yang baunya busuk sekali… seperti cairan yang berasal dari mayat yang sudah mulai hancur dagingnya”


“Kalau dipel gimana Di?”


“Coba aja No, pinjam pel dari hotel saja, eh itu ada mas Nyoman,  coba pinjam pel sama dia aja”


Mas Nyoman datang dengan anak kunci kamar yang berupa sebuah kartu…


“Mas Nyoman, saya bisa pinjam pel dan air pelnya, ini buat ngepel teras mas”


“Maaf pak, terasnya kotor berdebu ya, sebentar saya panggilkan roomboy dulu pak, eh bapak masuk saja dulu”

__ADS_1


“Nggak usah mas. Nggak usah ngerepotin roomboy, biar saya ambil saja pelnya”


“Baik pak Paino, mari ikut saya pak” ajak Mas Nyoman


Ternyata ruang Janitor tidak jauh dari kamar kami.. Ada di dekat pintu masuk mobil yang akan parkir di halaman dalam. Dan kebetulan di dalam ruang janitor itu ada alat pel yang masih ada airnya.


“Eh saya ganti dulu air pel ini pak Paino” kata mas Nyoman


“Tidak usah mas, pakai ini saja cukup kok, nanti akan saya kembalikan ke ruang Janitor ini kalau sudah selesai”


“Baiklah pak Paino, terima kasih dan maaf kalau roomboy kurang bersih waktu mengepel teras kamar”


Aku kembali ke depan kamar hotel, Sumadi masih melihat lantai teras kamar..


“Yang mana yang harus dipel Di?”


“Semua No, yang paling tebal itu area dari sini menuju ke pintu masuk kamar, itu yang paling tebal”


“Tapi apa bisa dipel begini saja Di?”


“Coba aja No, kan aku gak tau juga No”


“Lha kalau seumpama nggak bisa gimana Di?”


“Di, ini cara ngepelnya gimana, aku injak lantai teras atau gimana?”


“Yang sini dulu kamu pel sampai bersih, nanti kalau ternyata bisa bersih baru lanjut ke bagian yang lainnya”


Bagian terluar yang dekat dengan lahan depan kamar aku pel dulu, hanya area kecil saja, pokoknya keliatan apa bagian yang aku pel…


“Coba gosok dengan kain pel itu No, siapa tau bisa bersih”


“Ok Di” kugosok dengan keras area yang ditunjuk Sumadi…


“No, gak bisa. Kayaknya kita harus pindah kamar ini”


“Coba kamu bicara dengan kantor hotel, siapa tau ada kamar kosong. Kalau bisa kamar yang ujung itu aja No, yang dekat dengan padmasana”


“Disana kayaknya auranya bagus dari pada kamar yang ini, apalagi sekarang lantainya banyak lendir yang menjijikan”


“Tak coba ya Di, siapa tau bisa dapat kamar yang dekat dengan tempat sembahyang yang di ujung itu”


Sumadi tetap ada di depan kamar, aku menuju ke kantor hotel..


Untung yang jaga di meja resepsion adalah mas Nyoman, orang paling ramah di hotel ini..

__ADS_1


“Mas Nyoman, saya bisa minta tolong?”


“Bagaimana pak Paino, ada yang bisa saya bantu?”


“Gini mas Nyoman, kami bisa tidak pindah kamar, eh ke kamar yang dekat dengan tempat sembahyang itu”


“Memangnya kamar yang sekarang kenapa pak Paino?”


“Sumadi trauma ada di kamar itu, setelah dia masuk rumah sakit, dia minta pindah ke kamar lain, dan kalau bisa yang dekat dengan tempat sembahyang itu mas”


“Sebentar ya pak Paino, untuk saat ini kamar itu dalam keadaan kosong, tapi sebentar saya cek dulu apakah sudah ada yang booking untuk kamar itu”


Lima menit mas Nyoman mengecek ketersediaan kamar yang diinginkan Sumadi…


“Hmmm bisa pak. Kosong, belum ada yang booking, adapun nanti bisa saya arahkan ke kamar yang sekarang ditempati pak Sumadi dan pak Paino saja”


“Eh kalau bisa sekarang saja kami ke sana mas, eh sama minta tolong roomboy untuk memindahkan barang kami ke sana, bisa kan mas Nyoman”


“Maaf mas Nyoman, saya minta roomboy memindahkan barang karena Sumadi ternyata nggak mau masuk ke dalam kamar yang lama itu”


“Bisa pak Paino, nanti saya suru roomboy untuk memindahkan barang-barang bapak. Maaf yang ada di kamar itu tinggal apa saja pak Paino?”


“Tinggal pakaian dan perlengkapan untuk di kamar mandi macam sabun, sikat gigi san semacamnya saja kok mas, laptop dan yang lainya sudah saya bawa di dalam mobil”


“Baiklah pak Paino, ini kunci kamarnya, bapak bisa langsung ke sana, nanti saya suruh roomboy untuk memindah barang yang ada di kamar sebelumnya


Untung ketika aku merasa nggak aman di kamar itu, ketika aku pulang ke hotel aku bawa semua alat-alat perang kami, yang ada disana hanya tinggal pakaian dan tas yang ada dalam lemari kamar saja.


“Di, siang ini kita jumatan di sana yuk, dekat sini kan ada masjid yang di polda itu”


“Iya No.. setelah semua barang yang yang dari sini kita pindah ke sana ya No”


Aku dan Sumadi menuju ke kamar yang tidak jauh dari kamar kami, hanya selisih dua kamar saja, dan kamar ini bersebelahan dengan tempat untuk sembahyang dan memberikan haturan sesajian atau banten.


Ketika aku buka pintu kamar, suasana berbeda langsung menyambut aku.


“Kamar ini rasanya lebih terang ya Di?”


“Iya No, beda dengan kamar yang sebelumnya…”


“Di tapi apa kamu sekarang benar-benar bisa lihat sesuatu yang ghaib?”


“Iya No, sayangnya sekarang aku sudah bisa lihat makhluk halus…. Tadi yang ada di kamar sebelumnya itu ada beberapa makhluk yang aneh bentuknya, sedang menjilati cairan mayat yang ada lantai  kamar itu”


“Aku heran No, siapa sih yang begitu dendam dengan kita hingga kita dijebak dengan lendir mayat…”

__ADS_1


__ADS_2