Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 52. BU TINA YANG GUGUP LAGI


__ADS_3

Perjalanan pulang….Aku tidak melihat kedua anak itu ketika dalam perjalanan pulang.


Aku nggak yakin kedua anak itu bermaksud baik kepada aku dan Sumadi, aku rasa sakitku dan sakitnya Sumadi itu ada hubunganya dengan kedua anak kembar itu.


Atau gini aja, pagi ini aku akan lihat lapak nasi mereka, apakah mereka berjualan disana atau tidak.


“Pak, nanti bisa minta tolong untuk melewati hotel dulu, karena ada yang mau saya beli pak”


“Cari apa pak, bisa saya bantu mungkin” kata driver taksi itu


“Eh saya mau cari makan pak”


“Bapak orang jawa ya, bagaimana kalau saya antar ke depot makanan halal….. mau pak?” tanya driver taksi


“Tidak usah pak. Nanti  beberapa belas meter dari hotel ada lapak nasi bungkus pak”


“Oh itu…. Yang jual itu bu Tina yang dari jawa itu pak, masakan dia enak. Baiklah akan  saya antar kesana pak” jawab driver taksi


Driver taksi ini baik sekali, dan ternyata dia tau juga nasi bungkus bu Tina… apa dia tau juga tentang anaknya.


Kulihat di name tag yang ada di dashboard mobil.. Nama supir taksi ini pak Putu.


“Eh pak Putu kok tau nasi bungkus bu Tina itu” aku penasaran


“Tau pak, driver taksi banyak yang beli makanan di bu Tina, nasi bungkusnya murah dan enak, dibanding dengan nasi jinggo, ya lebih banyak porsinya buatan bu Tina pak”


“Oh gitu pak Putu… yang jual biasanya anaknya ya pak?”


“Hahaha nggak pernah pak…. Saya tau persis keluarga bu Tina, karena kalau malam dia buka warung nasi di depan rumahnya pak. Kami driver taksi sering istirahat dan makan malam disana”


“Masak sih anaknya tidak pernah jaga lapak makanan ini pak?” aku makin penasaran dengan omongan pak Putu ini


“Tidak pernah pak, bahkan keluar rumah saja tidak pernah”


“Anak bu Tina itu sakit sakitan pak, kasihan keluarganya, suaminya kena gangguan jiwa, sekarang ada di rumah sakit jiwa yang ada di Bangli sana itu pak”


“Oh gitu ya pak Putu, jadi anaknya tidak pernah jualan di lapak yang dekat dengan hotel?”

__ADS_1


“Tidak pernah pak, yang jualan itu ya bu Tina sendiri pak. Tapi kadang dia tidak jualan pagi dan siang, karena dia harus rawat kedua anak kembarnya. Tetapi kalau malam dia pasti jualan di depan rumahnya”


“Kenapa pak, kok penasaran dengan bu Tina heheheh” tanya driver taksi


“Ah tidak apa-apa pak Putu, masakan bu Tina itu enak, jadi saya suka beli nasi bungkusnya”


“Nah itu pak…. Yang jualan bu Tina kan pak” tunjuk driver taksi yang bernama pak Putu ketika sudah dekat dengan lapak makanan bu Tina


“Eh pak Putu, saya turunkan disini saja, nanti saya jalan kaki ke hotel, oh iya saya bisa minta nomor telepon pak Putu?”


Awalnya pak Putu tidak mau kasih nomor teleponnya, kata dia kalau butuh taksi bisa hubungi call center taksi, tapi aku bilang kalau sewaktu-waktu aku butuh guide, jadi aku bisa hubungi pak Putu.


Aku turun di sebelah lapak nasi bungkus bu Tina… saat ini kebetulan belum ada yang beli, jadi aku bisa bicara dengan dia


“Selamat pagi bu Tina….”


“Iya pak selamat pagi, kok sendirian, mana temannya pak?”


“Teman saya sedang opname tuh disana di rumah sakit yang disana itu bu”


“Lho kenapa teman bapak?”


Tiba-tiba bu Tina seperti salah tingkah ketika aku tanya tentang kedua anak kembarnya. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


“Eh anak…. Anak saya sedang ada di rumah pak, eh mereka berdua tidak enak badan”


“Kenapa bapak kok selalu tanya tentang anak saya pak. Apa bapak pernah ketemu dengan kedua anak kembar saya?”


Aneh, kemarin kan aku sudah jelaskan bahwa aku ketemu dengan anaknya, bahkan aku beli makan dan anaknya juga aku antar ke rumahnya, tapi memang kemarin kan bu Tina juga sempat bilang anaknya ada di rumah.


Setelah tadi aku tanya tentang anaknya, sekarang perempuan itu makin salah tingkah, dan tidak berani melihat aku lagi, aku sebenarnya kasihan, tetapi aku harus tau siapa kedua anak dia itu.


“Nggak papa bu, tadi pak Putu supir taksi yang mengantar saya katanya sering makan di warung ibu kalau malam ya?” aku alihkan pembicaraan agar perempuan ini tenang dulu.


“Oh Putu, dia dan teman-temannya memang sering makan malam di warung saya kalau malam pak”


“Kata pak Putu anak ibu sedang sakit ya?” aku mulai mengetes perubahan yang ada pada ibu Tina lagi

__ADS_1


Dan ternyata benar, dia mulai keliatan gugup dan bingung lagi, dia tidak fokus dengan apa yang tadi aku tanyakan…dia melihat ke arah nasi bungkus barang dagangannya.


“Eh iya anak saya sedang sakit pak… eh kenapa kok bapak tanya itu?” jawabnya setelah ada setengah menit dia diam dan kebingungan


“Kan kemarin ibu bilang kalau anak ibu sedang sakit… dan tidak bisa berjualan… tapi kalau sakit kan seharusnya di rumah saja bu, jangan disuruh berjualan disini heheheh”


“Oh iya… eh iya saya lupa pak.. Eh iya anak saya sedang sakit. Keduanya sedang sakit pak” jawabnya tanpa melihat ke arahku


“Eh suami ibu di rumah?” aku mulai menjurus ke suaminya yang kata supir taksi itu suaminya kena penyakit gangguan jiwa”


“Ada… ada di rumah, eh kenapa bapak kok tanya tentang suami saya, eh bapak kan tidak kenal” jawabnya makin gelisah


“Eh bapak eh itu dua nasi bungkus eh dua puluh ribu saja pak”


Dia mulai mengusir aku, dan aku tau ini saatnya aku berhenti bertanya tanya…


Bu TIna semakin gelisah dan  grogi ketika aku mulai mengerucut tentang suami dan kedua anaknya yang katanya sedang sakit, tapi dengan keanehan tingkahnya aku bisa tau bahwa ada apa-apa dengan kedua anaknya itu.


Dan aku nggak heran apabila saat ini bisa jadi kedua anaknya tidak ada di rumahnya, kedua anaknya bisa jadi sedang memperhatikan aku sedang bicara dengan bu Tina


“Ya sudah bu, saya pamit dulu, saya masih ada kerjaan di hotel… permisi bu”


Lebih baik aku sudahi saja pembicaraan ini, aku nggak mau ada apa-apa dengan ibu ini, karena dia kelihatan makin gelisah dan ketakutan… ada sesuatu yang dia sembunyikan. Sesuatu yang membuatnya ketakutan.


Sesuatu yang kemungkinan mengancam atau sesuatu yang bisa jadi bersifat jahat.


Aku berjalan menuju ke arah hotel, dan dari sudut mataku aku melihat sekelebat dua anak bu Tina yang dari kejauhan sedang memperhatikan aku…


Hanya saja aku anggap aku tidak tau kehadiran mereka di sekitar sini….


*****


Di kamar hotel…. Sementara handycam aku charges, aku membuat laporan seadanya untuk lolokcicing, info mengenai Sumadi yang sekarang sedang opname dan sekilas kejadian yang aku alami di rumah itu juga aku laporkan.


Hanya email saja tanpa ada video atau rekaman suara seperti yang biasanya SUmadi lakukan…


Jawaban dari emalku hanya IYA saja, tidak ada saran atau apapun atau tidak ada rasa ikut merasakan dengan bencana yang kami alami.

__ADS_1


Tapi aku anggap ini sebagai pekerjaan, dimana bos tidak mau tau apa yang terjadi dengan anak buahnya….


Bos hanya mau tau laporan dan pekerjaan yang selalu beres.


__ADS_2