Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 37. HASIL VIDEO KEMARIN MALAM


__ADS_3

“Lalu bagaimana ini mbak Hera, apa yang harus kami lakukan?”


“Yah jangan dimakan pak, eh Hera lihat bapak-bapak ini sama sekali tidak punya pegangan apapun ya?”


“Eh maksud saya bapak-bapak ini tidak punya sesuatu yang gunanya untuk melawan wong samar?”


“Iya mbak Hera, kami memang sengaja tidak menggunakan apapun, selain pertolongan Tuhan saja”


“Karena kami tidak ingin seolah ingin menantang atau berbuat sesuatu terhadap ghaib yang ada di manapun mbak”


“Agar mereka itu merasa kami hanya orang biasa yang tidak ingin mengusik kehidupan mereka”


“Iya sih pak, apa yang bapak Paino katakan memang benar, tapi bapak harus punya sesuatu yang digunakan pada waktu keadaan emergency pak, jadi ketika kepepet bapak bisa gunakan”


“Nggak mbak… jangan, kalau memang kami masih selamat ya kami akan aman, tetapi kalau memang takdir kami sebaliknya ya mau gimana lagi mbak”


“Contohnya saja, dengan nasi bungkus itu, kalau mbak Hera dan gek Ayu tidak kesini, mungkin kami sudah mati….tetapi Tuhan berkehendak sebaliknya, kami diselamatkan oleh mbak-mbak ini”


“Atau gini aja pak, Hera dan gek Ayu akan ke sini apabila setelah pak Paino dan pak Sumadi melakukan penyelidikan, kami berdua akan membersihkan bapak dari sisa-sisa yang ada disana pak”


“Memangnya mbak Hera bisa?” tanya Sumadi


“Tentu saja bisa pak…Hera dan Gek Ayu kan sudah biasa menghadapi hal seperti itu pak hehehe” kata Hera sambil tertawa lepas dan renyah.


“Eh nanti malam apa pak Paino dan pak Sumadi akan ke tempat itu lagi?” tanya gek AYu


“Iya gek Ayu, nanti malam mungkin pukul sepuluh kami akan ke sana… memangnya ada apa gek?” kata Sumadi


“Nggak papa pak…eh saya buka peramal, saya juga bukan orang yang sok tau pak, tapi kenapa saya merasa akan terjadi sesuatu dengan bapak-bapak ini” kata Gek Ayu


“Hehehe pasti akan terjadi sesuatu dengan kami gek, eh gini saja gek Ayu dan mbak Hera….”


“Besok pagi kemungkinan dua anak kembar itu akan kesini untuk mengirim kami sarapan. Kalau keadaan kami sehat, nanti kami akan ke kantor mbak Hera dan gek Ayu. Saya akan bawa nasi itu ke kalian, untuk kalian nilai ada apa di dalam nasi itu” kata Sumadi


“Jangan pak, kami berdua saja yang kesini lagi seperti sekarang ini pak, sekalian kami akan coba bersihkan apabila ada yang ikut bersama kalian” jawab Hera


“Eh Di, kamu ada nomor HPnya mbak Hera kan?”


“Ada No, kenapa memangnya?”


“Siapa tau keadaan kita parah, kita nanti mungkin butuh bantuannya”


“Hehehe, kami akan siap membantu pak, secara Hera kan penggemar berat novel dari pak Paino dan pak Sumadi”

__ADS_1


Dua perempuan yang bernama Hera dan gek Ayu sudah pulang, sekarang aku harus berpikir tentang apa saja yang baru saja terjadi dengan kami.


Tentang apa yang dikatakan dua perempuan itu, belum lagi tentang dua anak kembar yang barusan memberikan nasi yang katanya ada isinya itu…


Aku semakin khawatir dengan siapa saja yang ada di sekeliling kami.


“No, ayo lihat apa yang kita dapat di handycam kita No. katanya kamu kepingin tau apa yang terjadi dengan dirimu dan apa yang membuat aku khawatir”


Sumadi yang tadi sudah duduk di kursi depan meja kerjanya sudah membuka laptop kuno kesayangannya. Dia sudah menyalakan file yang berisi ketika kami ada di kamar mandi kamar utama.


“Itu kakek tua yang memakai udeng itu No, dia juga yang aku temui  ketika aku dalam keadaan tidak sadar” kata Sumadi


“Sebenarnya dia itu siapa ya Di, dan kenapa selalu ada di sekitar kita”


Yang sekarang diputar oleh Sumadi ketika aku bicara dengan bayangan kekek yang memakai udeng, kakek yang hanya diam saja dan kemudian hilang dari pandangan kami.


Tetapi anehnya yang tertangkap handycam ini tidak sejelas ketika aku dan Sumadi bertemu di kamar mandi, yang tertangkap handycam hanya berupa bayangan mirip asap yang menyerupai tubuh manusia saja.


Kemudian kami beralih ke ruang tengah, ketika aku akan duduk di atas sofa..


“Lihat sebentar lagi yang ada di sofa itu No….”


Kuperhatikan terus apa yang terekam di handycam yang dibawa Sumadi.


Ketika Sumadi menyuruh aku duduk di atas sofa dan menyapa apa saja yang ada disana, ternyata yang tertangkap di handycam Sumadi adalah beberapa cahaya putih yang sedang ada di sofa itu


Ketika aku menaruh panthatku di permukaan sofa yang mahal, bayangan putih itu bergerak…. Bergerak melata sangat besar dan panjang..


“Itu ular ya Di,  sebangsa siluman ular gitu?”


“Yah menurutku memang itu ular, perhatikan bagaimana mereka mulai menyerang kamu No”


Ular itu mulai bergerak tak beraturan, ternyata di atas sofa itu ada dua penampakan putih-putih yang panjang, salah satunya bergerak ke arah belakang sofa dan kemudian diam di belakang telingaku.


Pada saat itu aku berkata bahwa aku sedang merasakan hawa dingin di belakang telinga.


Aku bergidik ketika fokus kamera yang dipegang Sumadi bekerja dengan baik, kepala ular itu nampak agak jelas, di atas kepalanya ada semacam bagian yang mirip dengan mahkota, mulut ular itu menyerupai mulut buaya, panjang dan keliatan giginya.


“Perhatikan mulai bagian yang Ini No… aku nggak paham juga apa yang dilakukan oleh siluman itu”


Video yang diputar Sumadi sekarang sedang memperlihatkan kepala benda putih yang mirip ular itu seperti sedang merusak bagian belakang kepalaku..


Aku nggak begitu jelas yang diperlihatkan, tetapi sepertinya dia membuka dan menutup mulutnya berulang kali, seperti sedang makan.

__ADS_1


“Itu sedang makan No, dia kayaknya sedang mengunyah sesuatu, mulut dia bergerak berulang kali, seperti kalau manusia sedang makan dan mengunyah”


“Iya Di, hmm dia makan tubuhku kah?”


“Perhatikan saja video ini No, benda putih itu akan turun dan melilit kakimu”


Kemudian setelah beberapa menit ada di belakang kepalaku dan seperti sedang mengunyah, benda putih itu kemudian pindah dan berjalan di kakiku, disana selain melilit dia juga seperti sedang mengunyah.. Sama seperti yang dilakukan di bagian belakang kepala.


“Setelah ini No, yang itu akan bergerak ke arahmu juga”


Di sofa itu ada dua sosok putih yang mirip ular, tadi ketika yang satu sedang sibuk dengan bagian belakang kepalaku, yang satunya masih diam di sebelahku, duduk manis di sofa yang empuk.


Nah ketika yang satu sedang melilit kakiku dan seperti sedang mengunyah sesuatu, yang satunya..yang tadi sedang duduk manis itu bergerak ke arah tubuhku.


Dia berjalan di tubuhku dan beberapa kali menyundul  kepalanya yang bentuknya sama dengan yang pertama itu kearah badanku.


Hingga kemudian di bagian dadaku dia berhasil memasukan tubuhnya,.... Seluruh tubuh panjangnya masuk ke dalam tubuhku.


“Lihatlah No, meskipun dia itu besar dan panjang, tetapi dia bisa memasukan seluruh tubuhnya ke tubuhmu, eh tubuh tak kasat matamu No”


“Dan semua itu terlihat oleh kita No, handycam ini bisa merekam semua yang dia lakukan di dalam tubuh tak kasat mata”


“Iya Di, aku merinding melihat apa yang sedang terjadi dengan diriku”


Sosok mirip siluman ular itu tidak tinggal diam, dia seperti sedang mengunyah sesuatu dia berputar di dalam tubuhku dan sekali lagi seperti sedang memakan dan mengunyah sesuatu..


Disini aku mulai sesak nafas dan merasa kesakitan….


Aku teriak kepada Sumadi bahwa rasanya dingin sakit dan ngilu, suara Sumadi hanya menenangkan aku saja. Dan berkata tenang sebentar lagi akan terbebas dari sesak nafas.


Ternyata yang dikatakan Sumadi terbebas dari sesak nafas itu adalah sosok ular itu keluar dari punggungku, dia keluar begitu saja dari punggungku.


Dan kemudian ular itu mendekati kamera yang dibawa Sumadi, setelah itu Sumadi mengeluh kaku dan tidak bisa bernafas.


Yang terjadi berikutnya Handycam itu seperti jatuh dan hanya merekam gambar lantai ruang tengah saja…


“Ini kayaknya ketika aku sudah merasa pingsan No, aku nggak tau apa yang terjadi dengan diriku, rasanya aku ringan dan melayang, tapi aku hanya bisa merasakan ringan dan melayang saja”


“Tidak ada visual yang bisa aku lihat, aku seperti sedang memejamkan mata No”


“Aku nggak merasakan beban sama sekali, aku nggak merasakan tubuhku, kemudian aku ada di sebuah rumah seperti yang aku ceritakan ke kamu sebelumnya itu”


“Kamu mati Di?”

__ADS_1


“Yah nggak tau juga No. tapi kata anak kembar itu aku mati,  tubuh tak kasat mataku mati, dan aku ada di rumah bapak tua dengan udeng itu”


“Dia orang baik No”


__ADS_2