Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 86. SAYA WARDIONO


__ADS_3

Tidak ada yang aneh di makam ini, hanya sebuah patok kayu saja, sampai disini kami mengalami kebuntuan. Setelah berdoa sekedarnya kami kemudian pergi dari lokasi taman belakang SPBU.


Ketika kami berjalan keluar SPBU untuk menuju ke jalan setapak samping setra, tiba-tiba ponselku berbunyi lagi. Ketika aku lihat ternyata ada SMS masuk


“Di ada SMS masuk lagi, jangan-jangan dari pak War lagi No hehehe, mungkin dia mau terima kasih karena kita kunjungi makamnya dan sempat berdoa ala kadarnya kepada dia No”


“Lho iya e Di, ini nomor pak Wardiono lagi, pasti ada yang pake ponsel milik pak Wardiono ini hahaha’


“Aku tau pasti orang iseng yang menggunakan ponsel dengan nomor milik pak War, eh apa isi SMSnya No?”


“Dia bilang ‘Terima kasih sudah datang ke makam ayah saya, sekarang saya tunggu di warung lawar kuwir yang dekat dengan SPBU’ dia bilang gitu Di hehehe”


“Nah kan banar apa yang aku perkirakan No, yuk kita ke sana aja, penasaran aku dengan orang ini No”


Aku dan Sumadi jalan kaki menuju ke arah Warung makan lawar Kuwir yang sudah menjadi makanan favorit kami disini.


Ketika kami sampai disana, ternyata disana ada sebuah mobil sedan keluaran terbaru yang terparkir di depan warung makan lawar kuwir itu.


Kami masuk ke dalam depot, dan di dalam ada satu orang yang sedang menikmati makanan yang aku gemari saat ini.


Orang yang seumuran dengan aku agak gemuk, tapi rambut dia sudah banyak yang memutih, wajah dia bulat dengan pipi yang agak tembem


“Ah pasti pak Paino ya” kata orang itu kemudian minum seteguk.


“Iya pak, saya Paino, dan ini rekan kerja saya Sumadi” kami bersalaman


“Saya Wardiono, nama saya Sigit Wardiono, kalau ayah saya yang sudah meninggal itu namanya Wardiono Sastro hehehe”


“Eh mari makan pak, mau pesan lawar lengkap ya pak?” tawar pak War


“Maaf pak Tadi saya sudah makan disini, tapi kalau bapak nawari kami makan lawar lagi saya dengan suka rela menerima tawaran bapak hehehe”


“Wah pak Paino ini suka bergurau ya, mari duduk pak” ajak pak Wardiono

__ADS_1


“Logat bapak kok kayak jawa tengahan pak, bapak bukan berasal dari sini?” kucoba memancing pak War


“Ya memang pak, karena asal saya dari Semarang, ortu saya asli dari Semarang, tapi saya tinggal di kota dps, hanya saja tiap bulan saya pulang ke Semarang, karena ibu saya masih ada disana”


“Saya ucapkan terima kasih karena bapak tadi sudah nyekar ke makam ayah saya, kasihan ayah saya, hampir tidak ada yang menengok makamnya selain pegawai disana hehehe”


“Eh gimana–gimana, katanya pak Paino ini sudah bertemu dengan si Agus itu ya?” tanya pak War dengan wajah berubah serius


“Iya pak War, eh kami ini sebenarnya  gimana ya , bingung juga harus jelaskannya pak”


“Ceritakan aja No, bagaimana kita bisa sampai ada hubungan dengan pak Agus” kata Sumadi


“Bentar saya tebaknya pak, pasti ada hubunganya dengan kedua anak kembarnya kan?” kata pak War setelah mengunyah sate lilit


“Ah makanan buat bapak-bapak sudah datang, silahkan makan pak, sekalian kita ngobrol santai” lanjut pak War


“Eh bapak-bapak ini makan lagi, kuat juga ya” kata ibu pemilik depot ini yang tadi juga melayani kami.


“Sire nike pak War? (siapa dia pak War)” tanya ibu penjualnya kepada pak Wardiono


Setelah ibu penjual itu pergi, aku mulai cerita kepada pak War tentang keadaanku dan Sumadi. Pak War menyimak sambil makan, wajah dia tegang ketika aku cerita tentang penjaga Gusta.


Tapi untuk sementara ini aku tidak cerita tentang apapun yang ada di rumah belakang setra, aku hanya cerita tentang apa yang Gusta dan Gustin lakukan kepada kami berdua.


Aku tau orang ini kan bukan orang biasa, dia pasti akan bisa menebak apa yang aku dan Sumadi lakukan hingga aku menjadi kejaran si Gusta dan Gustin.


“Yah, sebenarnya saya tidak mau berurusan dengan mereka ini  pak Paino, ujung masalah sebenarnya ada di Agus, dan yang Agus ceritakan kepada bapak-bapak itu bohong!”


“Memang dia selalu cerita sesuatu yang pak Paino sudah dengar itu, tetapi saya bukan orang sembarangan yang bisa mempercayai cerita Agus, saya cari tau dengan… yah pokoknya saya cari tau melalui beberapa utusan dan pembisik saya”


“Dan yang terjadi tidak seperti itu, makanya saya malas sebenarnya membantu Agus, saya hanya sekedarnya saja ketika dia minta bantuan ke saya”


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka itu pak?” tanya Sumadi

__ADS_1


“Semua ada hubunganya dengan rumah yang ada disana itu, yang ada di belakang setra itu pak”jawab pak Wardiono


Aku diam begitu juga Sumadi, aku berusaha tidak memikirkan keadaan rumah itu dan bagaimana bagian dalam rumah itu, aku takut kalau pak War ini bisa membaca pikiranku.


Dan aku rasa Sumadipun juga paham dengan situasi ini, dia diam dan tidak berkomentar apa-apa tentang rumah itu.


Aku biarkan saja alur disini makin mengerucut dan hingga bisa menjadi sebuah analisa pak War untuk menebak apa yang kami lakukan disini.


“Memangnya ada apa di rumah itu pak War?” aku berusaha untuk memancing lebih lanjut


“Wah kalau menurut info dari pembisik saya, di rumah itu ada harta yang luar biasa, tapi dijaga oleh eh istilahnya mahluk ghaib yang luar biasa kuat, disana ada dua ular yang tidak bisa terkalahkan”


“Nah saya rasa… ini menurut pembisik saya dan menurut analisa saya ya pak Paino. Jadi si Agus itu berusaha mendapatkan harta yang ada disana dengan menggunakan kekuatan anaknya”


“Sulit untuk menjelaskannya pak Paino…”


“Tapi terus terang kata pembisik saya, penjaga disana itu luar biasa kuat. Dan saya tidak ada minat untuk melakukan pencarian disana juga, karena apa yang menjadi milik alam biarlah dimiliki oleh alam”


“Begini saja pak War, tolong jelaskan saja yang dilakukan pak Agus kepada pak War pada awalnya aja pak”


“Hmm ok pak Paino, jadi dia datang kepada saya atas saran dari paranormal yang sebelumnya, yang si Agus anggap gagal. Dia datang kepada saya dalam keadaan kacau, tubuh tak kasat matanya sudah busuk penuh dengan belatung”


“Ehm dia datang kemudian minta tolong, dia minta tolong kepada saya karena ada yang mengguna-gunai dia. Dia cuma bilang gitu saja, saya tanya dia punya musuh siapa saja, tapi dia bilang tidak ada musuh sama sekali”


“Maaf nih pak Paino dan pak Sumadi, saya bukannya sombong, tapi saya memang diturunkan ilmu pengobatan dari leluhur saya yang berasal dari negeri china sana”


“Saya sembuhkan seadanya saja, yang penting dia merasa nyaman dulu, karena saya harus cari tau dulu sejarah sebenarnya yang diderita si Agus itu”


“Saya tidak mau asal sembuhkan orang sebelum tau sejarah kenapa dia sakit seperti itu pak Paino, jadi selama saya cari tau sajarah kenapa si Agus seperti itu, ya saya sembuhkan seadanya saja dulu”


“Saya minta waktu untuk mencari obatnya, tapi dia mendesak untuk minta disembuhkan.. Ya saya hanya bisa asal kasih dia nyaman saja…”


“Jadi setelah saya tanya ke pembisik dan utusan saya, ternyata semua ini berhubungan dengan si Agus yang berusaha mencari harta yang ada di rumah itu”

__ADS_1


“Menurut pembisik saya, sebelumnya si Agus sudah mendatangi beberapa dukun hitam yang ada di sekitar sini, dia bilang kalau kedua anak dia itu mempunyai kekuatan ghaib, dan dia minta agar kekuatan ghaib itu bisa diperintah, istilahnya si Agus ini menjadi tuan dari pada kekuatan anaknya”


“Tujuannya  itu tentu saja masuk ke rumah itu untuk mencari sesuatu yang sangat berharga tentunya”


__ADS_2