
Aku terdiam di depan pintu kamar mandi yang sudah aku buka.
Aku masih berusaha menguasai ketakutanku dulu…
Tetapi hingga beberapa detik aku masih belum bisa menguasai rasa takut yang luar biasa, nggak tau lagi dengan Sumadi, apakah dia juga ketakutan seperti yang aku alami atau tidak.
Setelah beberapa belas detik kemudian, aku pelan-pelan bisa menguasai diri.
Aku menatap ke arah depanku, aku harus berani menatap sesuatu yang ada di depanku….
Bayangan yang bercahaya redup, sangat redup. Namun sangat jelas bayangan yang bercahaya itu membentuk tubuh manusia… laki-lak tua dengan udeng di kepala
Aku sudah bisa menguasai diri, sekarang aku harus mulai bicara dengan alat perekam, aku harus bisa menggambarkan apa yang ada di depanku ini
“Selamat malam… tepat di depan saya, di dalam kamar mandi yang sangat gelap, saya melihat dengan jelas laki-laki tua dengan memakai udeng, wajah dia sangat pucat” aku berbicara dengan suara pelan nyaris berbisik
“Laki-laki tua yang secara visual sangat jelas bentuk tubuhnya, mulai dari kaki, tubuh, kepala, hingga bagaimana dia berdiri mematung di depan saya. Saya tidak tau apa yang sedang saya lihat itu”
“Tubuh laki-laki tua yang ada di depanku ini perkiraan saya sedikit beberapa belas centimeter melayang di atas lantai kamar mandi”
“Tubuh yang berupa bayangan yang agak bersinar itu ada di depan shower yang menempel di dinding kamar mandi”
“Saya bisa melihat dengan jelas karena tubuh di depan saya itu seperti bercahaya, namun bukan cahaya yang terang seperti kita lihat layar tv atau cahaya lampu”
“Tetapi cahaya berpendar yang mungkin lebih mirip dengan lampu led buatan china harga sepuluh ribuan yang sudah rusak, lampu led rusak yang hanya memunculkan cahaya yang sangat-sangat lemah”
Aku masih bicara dengan berbisik ke alat perekam yang tergantung di leherku, namun aku berbicara sangat pelan dan berbisik, aku nggak mau merusak suasana yang sudah terbangun dengan susah payah dan penuh dengan pengorbanan.
“Wajah tua dan sangat pucat ini terus menerus menatap saya dan Sumadi”
“Tetapi kini saya sudah bisa menguasai rasa takut saya, saya harus bisa menganggap bahwa ada dunia lain selain yang dunia tempat tinggal kami”
__ADS_1
“Selamat malam bapak, nama saya Paino, dan yang di belakang saya adalah Sumadi…..”
“Kami kesini hanya untuk ingin merasakan kehadiran dari penghuni di rumah ini saja, kami bukan mau menantang, atau uji nyali, atau mengusir penghuni rumah ini”
“Kami hanya penulis novel saja pak, kami tidak mempunyai tujuan jelek kepada penghuni rumah ini”
Tidak ada reaksi dari orang tua berwajah pucat yang berupa cahaya yang sangat lemah. Dia hanya diam mematung dan melihat aku dan Sumadi saja.
“Apabila bapak tidak senang saya ada disini, maka saya akan keluar dari kamar mandi ini. Saya akan keluar tapi tolong saya agar saya bisa mengerti kalau memang bapak menginginkan saya keluar dari sini”
Tapi yang terjadi bukanya orang tua itu memberikan tanda atau apalah kepada aku, kini dia malah menghilang dari hadapan aku dan Sumadi.
“Hanya bertahan sekitar tiga menit saja, dan kemudian cahaya orang tua berudeng itu hilang di depan saya
“No, sepertinya bapak-bapak itu tidak ingin bicara dengan kita, sekarang dia sudah tidak ada di depan kita No”
“Iya Di, gimana menurutmu, kita keluar dari kamar ini atau gimana, dan apakah untuk kamar ini kita sudah cukup?”
“Kayaknya sudah cukup No, kita beranjak ke ruang tengah saja No”
Aku nyalakan lagi senter yang tadi sempat aku matikan, hal ini aku lakukan hanya agar kami bisa jalan dengan mudah keluar dari kamar utama menuju ke ruang tengah.
Ruang tengah ini nyambung dengan dapur dan ruang makan. Dimana waktu kemarin foto dan video daput dan ruang makan ini terlihat ada semacam asap atau kabut.
Aku sorotkan cahaya senter yang terang, cahaya ini mengenai dinding kaca yang berkelambu tipis, kemudian kursi sofa, meja makan dan daerah dapur.
“Kami sudah ada di ruang keluarga yang merangkap sebagai ruang makan dan dapur, di ruang keluarga ini ada satu set sofa berbentuk L berwarna krem”
“Sofa berbentuk L ini menghadap ke dinding kaca. Sedangkan untuk bagian L yang kecil menghadap ke arah dinding pemisah antara ruang utama dengan ruang keluarga ini.
“Disini juga ada meja untuk menaruh televisi, namun saat ini tidak ada televisinya, Di kita ke meja makan dan dapur yuk”
__ADS_1
“Eh jangan dulu No, eh coba kamu duduk di sofa ini dulu, coba dulu bagaimana keadaan sofanya, baru setelah itu kita ke arah belakangnya”
“Kenapa memangnya Di, kenapa kamu suruh aku duduk di sofa itu?”
“Nanti di hotel akan aku beritahu No, sekarang minta ijin untuk duduk di sofa dan matikan dulu sentermu”ucap Sumadi lagi
“Ok baiklah.. Akan saya matikan cahaya senter ini… akan kita lihat apa yang terjadi ketika saya matikan cahaya senter ini”
Senter sudah padam. Keadaan gelap gulita, aku sengaja diam karena aku berusaha mendengarkan apa saja yang akan terjadi disini.
“Keadaan gelap gulita kerana senter sudah saya matikan, saya dan Sumadi masih berdiri di depan sofa, tetapi tadi Sumadi menyuruh saya untuk duduk di sofa, tetapi baiklah akan saya turuti apa yang Sumadi suruh”
“Untuk para penghuni ruang keluarga, khususnya yang mungkin sedang duduk-duduk di sofa, saya minta ijin agar bisa duduk di sofa itu”
“Saya akan tunggu hingga beberapa detik, apakah ada tanda-tanda ketukan di meja atau di dinding atau dimanapun yang menandakan bahwa ada yang tak kasat mata sedang diantara kami”
Aku tunggu hingga beberapa saat, hal ini agar aku tidak salah bertindak di rumah mengerikan ini, di setiap ruangan aku harus selalu meminta izin apabila aku akan melakukan sesuatu.
Aku lihat jam tangan digitalku yang ada lampu penerangannya….
“Sudah satu menit berlalu, tidak ada suara apapun yang menandakan bahwa adanya penolakan saya dan teman saya ada disini”
“Baiklah permisi, saya akan duduk di sofa ini”
Perlahan lahan aku duduk di sofa yang tadi ketika aku sinari pake senter, sofa ini masih terlihat baru…
Empuk dan nyeessss. Memang beda antara sofa murah dengan sofa mahal….
“Saya sudah duduk di sofa…eh….”
Eh, seperti nya ada yang berubah ketika aku sudah menaruh pantatku di sofa ini
__ADS_1
Perlahan aku bisa merasakan sesuatu…. Aku merasa ada sesuatu yang sedang ada di belakangku, aku merasa sedang ada diantara sesuatu yang banyak…
“Eh maaf, saya kira sekarang saya tidak sendirian sedang duduk di sofa ini, saya merasa ada juga selain saya yang sedang duduk di sofa empuk ini”