Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 46. IKUTI SAYA!


__ADS_3

“Di… gimana ini!”


“Sik tenang No…..”


“Sekarang coba kamu naik ke sana dan tekan yang di atas tangga itu, pasti itu bisa terbuka No….Nggak mungkin tidak bisa terbuka, lha ujung tangga ini kan mengarah ke atas sana…”


Betul  kata Sumadi, mungkin karena rasa takutku hingga akal sehatku tidak bisa bekerja, aku harus tenang, aku harus bisa berpikir jernih agar bisa keluar dari sini.


Dengan bantuan senter aku naiki tangga hingga aku ada di paling ujung atas anak tangga…


Ada yang berbeda ketika aku naiki tangga ini, rasanya anak tangga ini berbeda ketika kami turun kesini sebelumnya.


“Di tangga ini beda dengan ketika kita turun ke sini, sekarang sangat curam Di”


“Ya artinya kamu harus hati-hati waktu naik ke atas sana…. Dah cepat naik dan buka pintu yang diatasnya itu No”


Sekarang anak tangga ini begitu curam, rasanya kayak menaiki tangga darurat yang dibuat untuk shortcut apabila terjadi sesuatu hal yang emergency.


Aku naik sampai paling ujung… dan ternyata jalan keluar atau lubang yang ada di atas itu tidak ada…


Sudah aku raba dan cari bagaimana cara membuka bagian atas yang sekarang kondisinya hanya sebuah plafon kayu saja, tidak ada lubang atau bekas lubang diatas, tidak ada celah seperti sebuah pintu.


Tidak ada jejak yang menyatakan bahwa bagian itu adalah lubang yang menuju ke bagian bawah.


“Di, kita terjebak. Nggak ada pintu atau bekas pintu di atas sini!”


“Coba cari terus No, pasti ada semacam celah atau apalah yang bisa digunakan untuk membuka pintu….”


“Nggak ada Di, sudah aku raba-raba semua di sekitar sini, nggak ada celah atau apapun disini!”


“Cari terus No…. sekarang buat apa ada tangga disni kalau tidak ada pintu atau tingkap yang bisa dibuka disana”


Benar kata Sumadi, buat apa ada tangga disini kalau tidak ada pintu yang bisa dibuka disini.


Seharusnya kalau ada tangga ya ada suatu ruangan, gunanya gunanya tangga kan untuk menghubungkan sebuah ruangan dengan ruangan yang ada dibawahnya atau yang ada di atasnya.


Aku pukul-pukul dengan pergelangan tanganku, tetapi tetap saja tidak ada perubahan, aku tidak melihat adanya celah atau sesuatu yang menunjukan ada pintu atau tingkap disini.


Aneh, tidak ada bekas adanya lubang atau sejenis pintu disini, tidak ada apa-apa disini, yang ada hanya plafon kayu saja.


Bahkan plafon kayu ini sepertinya tidak ada semacam batas atau celah yang biasanya digunakan untuk pintu… hanya rata dan tidak ada celah sama sekali.


“Aku turun Di, tidak ada apa-apa disini, tidak ada celah pintu atau sesuatu yang bisa dibuka di atap ini”

__ADS_1


“Harusnya ada No…. ya sudahlah kamu turun saja dulu, kita lihat apa yang bisa dan harus kita lakukan disini”


Aku turun hingga dasar tangga, tangga ini begitu curam sehingga aku harus sangat berhati-hati, kalau aku bisa boleh bilang kecuraman tangga ini hampir tegak lurus!


“Arahkan handycam ke pintu yang ke ruangan sebelah Di, bagaimana keadaan mahluk halus yang ada di dalam ruangan itu”


Sumadi mengarahkan handycamnya ke pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan ruangan yang ada di sebelahnya..


“Masyaallah No, semakin banyak yang ingin masuk ke sini…dan sekarang bentuk mereka semakin memadat… “


“Bentuk yang menyerupai tubuh manusia sudah sangat jelas, meskipun masih berupa bayangan saja No”


“Di, kalau seumpama pintu itu kita tutup gimana?”


“Aku nggak berani berspekulasi No, takutnya kalau ditutup nanti mereka malah bisa masuk ke sini, atau eh tadi kita kesini kan pintu itu keadaanya tertutup ya No. eh gimana kalau kita tutup saja No”


“Lha makanya… tadi kan usulku gimana pintu itu kalau kita tutup Di. Tapi aku nggak berani mendekati pintu itu, aku takut nanti ada sesuatu ketika kita mendekati semua yang ada disana itu Di”


Kami terjebak!


Kami tidak tau bagaimana cara keluar dari sini. Sementara itu yang ada di ruangan sebelah berusaha terus agar bisa masuk ke sini.


Dengan menggunakan senter, aku mencari pintu rahasia atau sejenisnya yang ada di ruangan ini, semua dinding aku raba dan aku cari mungkin ada celah atau apalah yang menunjukan itu adalah celah sebuah pintu.


“Kita tidak tau sampai kapan dinding ghaib yang memisahkan ruangan ini dengan yang ada disana itu kuat menahan semua yang mengerikan itu”


“Ini aku juga lagi cari Di!”


Untuk saat ini entah bagaimana, aku rasanya santai sekali, aku bahkan tidak merasa ketakutan seperti sebelumnya, padahal keadaan kami berdua berbahaya.


Apakah aku sudah pasrah dengan keadaan seperti ini, atau apakah aku sudah mulai menyerah…? Entahlah.


Pada intinya kami terjebak dalam ruangan yang tidak ada jalan keluarnya.


Tapi aku tetap terus mencari, aku nggak tau apa yang akan terjadi apabila yang ada di ruang sebelah itu bisa masuk ke sini.


Ketika aku sedang meraba dinding disini untuk mencari jalan keluar….


Aku merasa ada yang ingin berbicara dengan diriku…. Entah pokoknya seperti ada yang ingin bicara dengan aku, tapi aku nggak tau… karena itu hanya perasaanku saja.


“No…. ada suara suara di dalam dirikku No!” bisik Sumadi agak keras ketika aku juga sedang merasakan ada yang ingin bicara dengan aku


“Apa Di… suara apa?”

__ADS_1


“Tadi…. Tadi ada yang sepertinya ingin bicara dengan aku, di dalam diriku ini seolah ada yang berkata permisi, kulonuwun, spada…”


“Terus aku reflek bicara dalam hati…’iya ada apa ya’”


“Nah kemudian ada suara-suara aneh… eh bukan suara aneh, tetapi ada orang yang berusaha berbicara dengan aku No”


“Nggak cuma kamu aja Di, aku juga merasakan hal yang sama, seperti ada yang ingin masuk dan ingin bicara dengan aku”


“Ssssst diam dulu No!”


“Suara yang aku dengar ini menyuruh agar aku mengikutinya No”


“Dia bilang apa?”


“Aku nggak tau yang ada di benakku itu siapa, jadi aku nggak tau yang kamu katakan sebagai dia itu siapa”


“Tapi suara yang ada di dalam tubuhku ini meyakinkan aku bahwa kita tidak akan selamat apabila masih ada disini”


“Tapi Di….”


“Ssstt diam dulu No…..”


“IKUTI AKU…..ya suara itu bilang supaya ikuti aku” kata Sumadi dalam terangnya cahaya senter


“Ikuti kemana, dan siapa yang nyuruh ikuti itu, disini tidak ada siapa-siapa selain dua orang tolol yang terjebak di ruangan bawah tanah”


“No,.... tadi kamu bilang ada yang berusaha bicara kepada kamu, gimana… apa ada ngomong sama kamu juga?”


“Nggak ada… tadi memang ada semacam suara di dalam tubuhku, dan kepalaku, tapi sekarang sudah hilang Di”


“Mungkin yang sedang berbicara dengan kamu ini sama dengan yang tadi ada di dalam tubuhku Di….”


 “Sekarang dia bilang apa, aku takut kita tidak punya banyak waktu untuk bisa keluar dari sini”


“Diam dulu No… ini ada suara lagi dari dalam tubuhku, dia bilang ikuti saja kata-katanya kalau mau selamat”


“Ikuti kemana Di, kita sedang terjebak di ruang bawah tanah yang ngeri!”


“Sssttt diam No, jangan berisik, aku berusaha memahami apa yang sedang dikatakan!”


“Eh buka… buka karpet itu.. Singkapkan karpet itu No cepat…!”


“Kamu lakukan apa yang aku suruh, aku akan memvideo kamu ketika kamu membuka karpet di ruangan ini”

__ADS_1


__ADS_2