
Lampu jauh mobil sudah menyala terang, tapi dari dalam mobil aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di kejauhan itu.
“Kayaknya itu jalan besar deh No, banyak orang yang menggunakan sepeda, tapi dengan nyala lampu yang nggak begitu terang ada disana. Lebih baik kita turun dari mobil saja agar bisa lihat apa yang ada disana itu No”
“Pak Putu tetap di dalam mobil dengan mesin yang nyala ya pak, saya kira kita sekarang sedang dalam keadaan yang aneh pak”
“Baik pak Paino, saya jaga di mobil saja” pak Putu tetap diam di dalam mobil
Aku dan Sumadi turun dari Mobil , sementara pak Putu tetap menjaga di dalam mobil. untungnya Sumadi tadi waktu berangkat tidak lupa membawa handycam, sehingga kami akan tetap menggunakannya untuk mengambil gambar.
“Handycam nyala Di?”
“Nyala No, kita akan jalan ke sana atau gimana No?”
“Kita ke sana Di, tapi jangan jauh-jauh dari taksi, aku rasa kita sedang terlempar ke entah mana dan ke masa apa ini Di, dan entah siapa yang membawa kita ke sini!”
Aku iseng menoleh ke belakang…
“Di, taksinya gak ada, disana di belakang kita cuma hutan dan semak belukar aja!”
Aku menjadi lemas ketika tau pak Putu dan taksinya sudah tidak ada disana. Di belakang kami tidak ada siapa-siapa, tidak ada taksi tidak ada pak Putu, hanya hutan gelap saja.
“Gimana ini No, apa yang harus kita lakukan?”
“Terpaksa Di, kita harus ikuti permainan ini, kita harus selesaikan semua ini sampai tuntas dan baru setelah itu kita bisa pergi dari sini, itu yang sekarang ada di pikiranku Di”
“Aneh No, cincin kita sudah tidak bersinar dan tidak hangat lagi, apakah ini artinya disini sudah aman dari incaran Agus?”
“Iya Di, aneh cincin kita sudah normal lagi, kalau begitu ayo kita ke sana, aku kok merasa yakin kalau kita akan ketemu dengan orang yang kita kenal disini”
Kami berjalan menuju ke arah jalan yang di depan kami, jarak antara jalan itu dan tempat kami sedang berdiri kemungkinan sekitar tiga puluh meteran, tapi dari sini aku biasa lihat ada beberapa orang dan sepeda yang jalan disana.
Mereka menggunakan penerangan obor…
__ADS_1
Aku yakin dan sangat yakin kami dikirim ke sebuah waktu oleh entah siapa dan kami akan bertemu dengan salah satu dari orang-orang yang sudah berinteraksi dengan kami.
Semakin dekat kami dengan jalan yang bukan merupakan aspal, karena hanya berupa tanah yang dipadatkan saja, semakin dekat, semakin aku bisa tau bahwa kami tidak di pulau jawa, melainkan kami ada di masa lalu di pulau ini.
Orang yang kami temui disini memakai pakaian adat yang berbeda dengan pakaian adat di jawa… ya aku yakin kalau kami sedang akan menuju ke rumah pak Wayan.
Aku yakin ini bukan ulah Agus atau dua akan kembar itu.
“No, kita sampai detik ini masih ada disini, berarti memang ada orang yang menginginkan kita ada disini, cuma ini mungkin kita terlempar beberapa puluh tahun ke belakang ya. Apa yang kita lakukan sekarang No?”
“Ikuti saja kata batin kita Di, aku merasa kita kayaknya dituntun untuk menuju ke sebuah tempat, aku yakin ini semua ulah dari pak Wayan, mungkin ada misi untuk kita dari pak Wayan”
“Kamu jangan lupa tetap nyalakan Handycam, tapi jangan shoot terus menerus, bikin baterai habis nanti Di”
“Di, sekarang aku mau tanya, menurut perasaanmu kita harus ke kiri atau ke kanan?”
“Lebih condong ke kiri No”
“Ya sama DI, aku juga seperti itu, ada yang seolah menyuruhku untuk ke kiri… jadi kita satu pendapat ke arah kiri ya Di?”
“Disini nama Wayan itu banyak Di, kita aja nggak tau siapa nama panjang pak Wayan kan, sudahlah kita ikuti saja mata batin kita”
Kami terus jalan ke arah kiri, entah kenapa batinku merasa bahwa jalan yang kami lalui ini benar jalan yang menuju ke tempat tinggal pak Wayan.
Aku nggak tau saat ini tahun berapa, tapi yang jelas rumah-rumah disini masih berupa campuran semen dan kayu, ada juga yang dari gedek atau sesek.
Sepanjang jalan kadang kami bertemu dengan penduduk yang membawa obor. Dan beberapa anak kecil yang ada di luar bersama orang tuanya.
Mereka jelas melihat aku dan Sumadi dengan tatapan heran, ya jelas karena pakaian kami yang berbeda dengan pakaian yang mereka kenakan.
Apalagi Sumadi yang kadang merekam kegiatan mereka dengan menggunakan handycam yang dia pegang..
Setelah sekian lama kami jalan, rumah penduduk disini juga semakin jarang, dan jalan semakin menuju ke arah hutan. Di depan kami sudah masuk hutan yang lebat, meskipun jalan tanah ini juga menuju ke arah sana.
__ADS_1
“Kita jalan ke sana juga No?” tunjuk Sumadi ke arah masuk hutan yang cukup lebat
“Ini yang aku bingung Di, dari tadi juga aku perhatikan tidak ada rumah yang mirip dengan rumahnya pak Wayan, apakah harus melewati hutan itu dulu atau mungkin rumahnya ada di tengah hutan itu Di?”
“Hehehe nggak No, kayaknya nggak ke hutan itu, kamu bisa lihat nggak banyak sesuatu yang matanya merah di antara pohon-pohon hutan?”
“Iya dari tadi aku liat juga, tapi aku nggak anggap, karena niat kita kan tidak menghadapi mereka itu, sekarang gimana Di, kita masuk ke hutan atau balik ke sana dan tanya ke rumah penduduk?”
“Nama pak Wayan aja kita nggak tau No hahaha, sudahlah sesuai dengan apa yang akan dan sedang kita lakukan, kita tetap jalan dan masuk ke sana saja”
“Ok kita nekat ke sana ya Di, pokoknya sampai ketemu dengan pak Wayan ya hehehe”
Kami lanjutkan jalan menuju ke arah jalan tengah hutan, tetapi tiba-tiba ada yang memanggil kami dari arah belakang..
“STOOP kalian mau kemana orang asing” aku terdiam, karena aku bisa mengerti apa yang orang itu katakan
Yang memanggil kami menggunakan bahasa daerah, dan anehnya aku paham dengan yang orang itu teriakan. Aku menoleh ke belakang, mencari orang yang tadi memanggil dan memperingatkan kami.
Ternyata ada anak muda mungkin seumuran dengan gek Ayu dan mbak Hera, dia bertelanjang dada dan hanya menggunakan sarung dengan ikatan khas daerah sini.
“Kalian siapa dan mau kemana? Hutan itu angker banyak wong samar disana” kata pemuda itu dengan bahasa sini
“Nama Saya Paino, dan ini Sumadi, kami mencari rumah teman kami yang bernama pak Wayan. Oh ya kami dari Jawa, tapi sulit jelaskannya, karena saya eh bukan dari masa ini.. Ah sudahlah saya juga bingung”
“Sudahlah pak, saya juga tidak mau tau bapak dari mana, Panggil saya Komang pak. Bapak ini cari siapa ya disini?” tanya pemuda itu lagi
“Eh saya cari pak Wayan”
“Nama Wayan disini banyak pak, nama lengkapnya siapa ya pak, saya bisa antar bapak ke rumahnya nanti” kata si Komang
“Maaf Komang, kami cuma tau nama pak Wayan saja, kami tidak tau siapa nama lengkapnya” kata Sumadi
“Eh gini aja Komang, cincin ini pemberian dari pak Wayan, mungkin Komang tau dimana tempat tinggal pak Wayan?”
__ADS_1
“Mih Dewa Ratu, yang punya cincin seperti ini cuma orang Puri sebelah sana pak, melewati hutan ini nanti sebelah kiri ada bangunan besar dengan pohon besar di tengahnya, itu dah tempatnya pak”