
“Wayan, jangan pelit sama saya, kamu kasih tau saya dimana letak sumur itu atau tiap hari satu persatu anak buah saya akan berbuat kebajikan disini”
“Saya tidak ada urusan dengan kamu Agus, saya ulangi lagi, saya tidak pernah tau sumur seperti itu, dan kamu coba cari sendiri saja kalau kamu tau posisi sumur itu”
“Ayo kita pulang saja pak Paino dan pak Sumadi” ajak pak Wayan
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Agus, dia hanya bergumam nggak jelas saja, pasti dia sedang marah besar karena pak Wayan menolak memberi tahu apa yang dia cari.
Baru saja kami melangkah beberapa belas meter ke arah hutan, tiba-tiba dari salah satu rumah penduduk desa terdengar suara teriakan minta tolong dari seorang perempuan.
“Pak Wayan!”
“Biarkan saja, saya tau si Agus sedang berusaha mengancam saya dengan menyakiti penduduk disini, tetapi yang harus kalian ingat, dia akan menyakiti seluruh pulau ini apabila sudah berhasil menemukan yang dia cari!”
“Tapi apa kita biarkan saja dia menyakiti penduduk desa ini pak, apa pak Wayan tidak mau melawan mereka?”
“Tidak pak Paino, saya tidak akan melawan, saya akan biarkan dia melakukan sesuka hatinya, saya tidak mau eh… saya tidak mau melanggar sumpah saya!”
Pak Wayan mempercepat langkah kakinya, kami menuju ke arah puri, aku tidak tau apa yang dia bilang sebagai melanggar sumpahnya.
Sementara itu suara minta tolong itu semakin tidak terdengar, karena kami semakin jauh dari desa. Dua mahluk rangda dan celuluk masih ada di sebelah kami, mereka sepertinya sekarang sedang melindungi pak Wayan.
Sebenarnya kalau dilihat dari segi kekuatan, jelas pak Wayan ini diatas si Agus, hanya saja Agus saat ini membawa ratusan bahkan bisa jadi ribuan mahluk ghaib dari masa depan. Yah namanya juga tawuran, meskipun satu orang jago beladiri apabila ditawur ratusan orang akan keok juga kan.
Kami sudah sampai di puri, tidak ada anak buah Agus disini seperti yang tadi. Tapi untuk kali ini Randa dan celuluk ikut masuk ke dalam puri pak Wayan, setelah itu mereka hanya duduk di tengah halaman rumah pak Wayan.
__ADS_1
“Pembisik saya berkata sebentar lagi Agus dan anak buahnya akan menyerang rumah ini, kalian lebih baik masuk ke dalam bunker seperti yang lainnya, saya akan pertahankan tempat ini bersama ular saya dan dibantu oleh celuluk dan Rangda”
“Kami akan bantu disini pak, mungkin pak Wayan bisa beri kami sesuatu agar kami bisa bantu pak Wayan mempertahankan tempat ini”
Ketika aku sedang bicara dengan pak Wayan, tiba-tiba dari satu rumah yang ada di puri ini muncul bu Tina, dan Gustin.
“Saya dan anak saya akan bantu juga pak Wayan!” kata Bu Tina
“Tadi waktu kami ada di dalam bunker, ternyata bungker ini penuh dengan arwah perantauan dari tanah jawa, dan beberapa dari mereka mengenal saya, karena mereka ternyata juga mengenal mbah buyut saya”
“Mereka tidak rela kalau puri ini dihancurkan oleh orang-orang seperti Agus, mereka anggap Agus adalah penjajah juga, jadi sebagaian besar mereka akan membantu kita” jelas bu Tina
“Tidak usah membantu disini bu Tina, puri ini tanggung jawab saya” kata pak Wayan dengan nada tinggi.
“Pak Wayan dan penjaga disini silahkan mempertahankan puri ini, tetapi bantuan dari bu Tina dan saya akan membantu penduduk desa yang diserang oleh setan bawaan Agus. jadi disini pak Wayan murni mempertahankan Puri ini dari Agus, sedangkan saya dan yang lainnya ke desa untuk membantu penduduk desa” kata Sumadi
Pak Wayan hanya diam, tetapi tidak lama kemudian dia setuju dengan usulan Sumadi.
“Di kamar kalian…di lemari itu ada sepasang keris suami istri, bawa kedua keris itu, tetapi kalian harus tetap berdekatan!”
“Bu Tina dan Gustin lebih baik tidak ikut ke sana, kalian sedang dicari Agus dan berbahaya bagi kalian apabila menampakan diri di sana”
“Tidak bisa pak Wayan, saya ini istilahnya sebagai yang menggerakan makhluk tak kasat mata yang ada di bunker, dan saya juga yang akan memerintahkan apa yang harus mereka lakukan disana” jawab bu Tina
“Lalu bagaimana dengan Gustin bu, apakah juga harus ikut ibu juga?” tanya pak Wayan
__ADS_1
“Iya, kekuatan yang dipercaya oleh mereka adalah kekuatan yang terpendam di dalam diri Gustin, sebenarnya kekuatan itu akan muncul ketika dia berusia 17 tahun, tapi entah kenapa sekarang kekuatan itu sudah muncul dan dikenali oleh arwah perantauan yang ada di dalam bunker”
“Ya sudah, saya tidak bisa melarang kalian, dan apabila ada sesuatu yang terjadi maka itu sudah merupakan resiko yang kalian tanggung sendiri”
Aku, Sumadi, bu Tina dan Gustin keluar dari puri, aku dan Sumadi sudah membawa keris suami istri, keris ini baunya wangi, bau bunga yang aku belum tau bau bunga apa.
Tapi ketika aku pegang, rasanya ada getaran energi yang mulai memasuki tubuhku. Keris kuselipkan di antara selendang dan saput.
“Kita lewat tengah hutan saja ya bu Tina, karena kita fokusnya di desa, nanti setelah keadaan desa aman, baru kita maju ke arah puri”
“Eh maaf bu Tina, katanya ada arwah yang akan membantu kita, mereka dimana bu?”
“Mereka tidak muncul di permukaan pak Paino, bunker bawah tanah itu panjang dan bisa tembus ke desa, mereka lewat jalan bunker katanya”
“Lalu penduduk puri ada dimana bu?”
“Penduduk puri bersama pak Ketut sekarang ada di desa yang agak jauh dari sini hingga keadaan disini aman, jadi bunker itu tembusnya kemana mana, bisa saja tembus ke pantai juga”
Kami akhirnya sampai juga ke desa, keadaan desa ini sepi, tetapi di tiap rumah ada beberapa makhluk ghaib suruhan AGus yang entah bertugas sebagai apa, tapi kayaknya tugasnya adalah menghabisi satu persatu penduduk desa ini.
“Kita mulai dari rumah yang paling ujung dulu saja bu Tina, kita susuri satu persatu rumah yang ada disini hingga semua mahluk ghaib yang ada disini hilang”
Kami berempat jalan di tengah jalan setapak desa, suruhan Agus melihat kami dengan mata melotot, tapi mereka hanya diam, sepertinya mereka sedang menunggu instruksi dari seseorang atau sesuatu yang merupakan komandan mereka.
Anehnya kering yang ada di pinggangku bergetar apabila aku melewati rumah dengan sosok penunggu yang siap menyerang kami.
__ADS_1