
“Luka teman bapak ini cukup mengkhawatirkan pak, bagian dada dan tulang rusuk menghitam, ada kemungkinan di bagian dalam teman bapak ini ada luka yang cukup serius” kata dokter jaga IGD
“Bapak-bapak ini baru mengalami kejadian pemukulan atau pembegalan?” tanya dokter itu lagi
“Eh tidak pak, saya hanya jatuh waktu naik sepeda motor”
“Hehehe saya bukan anak kecil yang mudah ditipu pak, luka seperti ini adalah luka yang berasal dari pemukulan lebih dari tiga orang dengan menggunakan senjata tumpul pak”
“Ya sudah tidak apa-apa pak, tapi teman bapak ini tetap harus rawat inap dan observasi disini untuk mengetahui luka bagian dalamnya pak”
Terpaksa….ya memang terpaksa eksplorasi ini aku hentikan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan hingga Sumadi benar-benar sembuh.
Aku nggak paham apa yang sedang terjadi dengan kami, ketika aku dan Sumadi baru sadar setelah tubuh tak kasat mata kami ada di rumah pak Wayan, ketika kami ternyata tidur di luar area SPBU…
Waktu itu aku dan Sumadi masih sehat, bahkan aku masih bisa bawa mobil, Sumadi pun bisa jalan dan sehat sehat saja. Tapi waktu aku dibangunkan mbak Hera dan Gek Ayu, keadaan kami berubah memburuk.
Apalagi Sumadi, keadaan dia kritis karena waktu aku bangunkan, dia kesulitan bernafas, dan ada lebam hitam di dada dan rusuknya.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan kami, dan apa yang terjadi dengan Sumadi ketika dia sedang tidur di kamar hotel?
Aku nggak habis pikir, apakah ada yang menyerang kami ketika kami sedang tidur. Tapi waktu aku duduk di teras hotel. Pak Wayan sempat datang sebentar….
Aku nggak tau sebenarnya kami ini terlibat dalam masalah apa!
Sudahlah…aku akan hubungi lolokcicing, aku akan kabarkan keadaan Sumadi.
Kulihat keadaan Sumadi yang tergolek di ranjang pasien, dia masih tergolek diam dan tidak bergerak sama sekali. Perawat sedang sibuk melakukan uji test pada Sumadi, termasuk memasang mesin EKG untuk melihat aktifitas jantung Sumadi.
Dada Sumadi masih naik turun, dia masih kesulitan bernafas…
Segera seorang perawat membawa masker dan alat bantu pernafasan, kemudian dia pasang ke wajah Sumadi. Sampai disini dokter belum tau apakah paru-paru atau jantung Sumadi yang bermasalah.
Pihak UGD memasang beberapa peralatan test yang aku nggak paham apa fungsinya.
Aku hanya duduk di ruang tunggu UGD sambil menunggu kabar tentang Sumadi dari dokter UDG.
Tas ransel ada di sebelahku, tas ransel yang isinya adalah perlengkapan kami untuk eksplorasi tempat mengerikan.
“Eh handycam…coba aku lihat apa isi handycam”
Semalam waktu aku dan Sumadi ada di rumah pak Wayan, waktu itu yang ada di rumah pak Wayan kan tubuh tak kasat mata kami, sedangkan tubuh kasat mata kami kan seharusnya masih ada di dasar sungai.
__ADS_1
Atau bukan di dasar sungai, mungkin sedang dalam perjalanan menuju ke pom bensin..
Aku penasaran dengan apa yang terjadi dengan tubuh tak kasat mata kami.. Siapa tau handycam yang ini kondisinya masih nyala ketika kami ada di rumah pak Wayan.
Aku ambil handycam yang merupakan senjata Sumadi untuk merekam berbagai kegiatan kami disini….
Rasa penasaran dengan apa yang terekam di dalam handycam itu membuat aku menyalakan handycam.
“Wah sialan baterai lemah…”
“Berarti beberapa jam handycam ini dalam keadaan nyala sebelum dimatikan oleh Sumadi ketika di SPBU itu”
Meskipun sudah lowbatt, tapi handycam ini masih bisa dinyalakan…
Kuputar ulang apa yang terekam…
“Nah ini, ketika Sumadi dan aku ada di ruangan kembar… ruangan yang ternyata banyak terdapat setan yang mungkin saja terbelenggu disana…”
“Sebentar, coba aku majukan saja sampai eehmmmm….”
“Nah ini ketika aku buka karpet yang dibawahnya ada tingkap yang akan aku buka
Handycam ini masih nyala, dan sedang mengetengahkan pengambilan video ketika aku sedang membuka karpet setelah kugeser sofa mewah yang ada di kamar ketika aku dan Sumadi tertidur.
Bisa saja apa yang ada di bawah pintu atau tingkap itu berbahaya dan merupakan jebakan, jadi aku ragu juga dengan suruhan Sumadi.
Ketika aku akan turun, Sumadi mengarahkan handycam ini ke arah pintu…….
Astaga, di pintu yang membatasi ruangan sebelah….ada beberapa objek yang berusaha masuk dan menembus ruangan ini, tapi objek itu tidak bisa masuk ke sini, karena ada semacam apa ya…..eh ada kayak pembatas, eh apa ya….
Pembatas itu seperti eh…. Sebentar aku akan cari persamaan logikanya, sulit juga menggambarkan apa yang sedang aku lihat ini.
Ah…. kalau kita meniup balon.. Setelah balon itu penuh udara, kemudian aku tusukan jariku berusaha menembus balon yang sudah berisi udara itu…. Yah seperti itu yang sedang direkam handycam Sumadi ini.
Jadi objek yang sekarang ada di ruangan sebelah itu berusaha masuk melalui pintu yang membatasi ruangan, tetapi di pintu itu ada barikade ghaibnya, dan barikade itu seperti perumpamaan balon itu.
Sekarang moncong handycam mengarah ke arah ketika aku lompat ke dalam lubang setelah aku bicara bahwa lubang itu adalah dasar sungai…
Setelah aku lompat, kemudian Sumadi juga ikut lompat ke dasar sungai…. Nah disinilah scene yang aku butuhkan, karena waktu itu aku dan Sumadi tiba-tiba berpindah ke rumah pak Wayan.
Hmm handycam itu menyorot ke dasar sungai, dan bergerak gerak tak beraturan…
__ADS_1
….beeb…!
Ah sialan baterai habis…!
Sial mana aku nggak bawa charger handycam ini….
Aku harus pulang, aku harus mengambil charger, mobil dan pakaian Sumadi, karena kemungkinan besar dia akan opname disini.
Kuhampiri dokter yang sedang menangani Sumadi yang sedang tergolek di atas ranjang pasien…
“Eh dok bagaimana keadaan teman saya?”
“Tetap harus opname pak, ini sedang kami usahakan menormalkan pernafasannya dulu, nanti baru kita carikan ruangan rawat inap yang ada” jawab dokter muda yang menangani Sumadi
“Kalau begitu saya tinggal pulang untuk mengambil pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan teman saya dulu dok”
“Silahkan pak Paino, tinggalnya di mana pak?”
“Kami menginap di hotel C , tidak jauh dari rumah sakit ini dok”
Ketika aku sudah ada diluar, aku tolah toleh mencari taksi…. Aku melihat orang yang sedang memperhatikan aku dari kejauhan..
“Sialan itu kan Gusta dan Gustin”
Sedang apa mereka berdua di seberang jalan, mereka berdua berdiri di pinggir jalan..…pandangan mata mereka ke arahku.
Pandangan mata mereka sempat membuat aku salah tingkah… deg deg an, dan bingung. Aku tidak paham hanya pandangan mata tajam dari dua anak itu membuat aku salah tingkah seperti ini.
Aku pura-pura tidak melihat mereka berdua, aku nggak tau apa yang mereka berdua lakukan di seberang sana, dan sedang memperhatikan aku yang berdiri di pinggir jalan.
Ketika aku toleh lagi, ternyata mereka berdua sudah tidak ada di seberang jalan!
Anak dua itu aneh, tapi apa betul yang aku lihat itu adalah Gusta dan Gustin, bukannya kata ibunya kemarin kadang mereka berdua ada di rumah dan sedang sakit.
Apakah ini semua ada hubungannya dengan Gusta dan Gustin…..?
Aku harus tau siapa mereka berdua dan apa tujuan mereka berdua kepada aku dan Sumadi. Karena sepengetahuanku, aku dan Sumadi nggak pernah menyakiti mereka.
Bahkan kami membeli nasi mereka, tapi kenapa mereka sekarang seperti musuh yang terus memata matai aku dan Sumadi.
Apakah mereka berdua ada hubunganya dengan rumah itu, atau Gungde, atau sesuatu yang ada di dalam rumah itu…. Atau dengan lolokcicing?
__ADS_1
Kepalaku mulai sakit memikirkan apa yang sedang kami alami….
Kebetulan tidak lama kemudian ada satu taksi yang berhenti di depanku.. Dan aku nggak urus apakah kedua anak aneh itu masih memperhatikan aku atau tidak!