Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 49. INFORMASI PETUGAS SPBU


__ADS_3

“Wah sekarang jam 03.15 Di, kita lama juga ada di rumah itu”


“Iya… aku juga nggak tau No, sore hingga malam kita ada disana, dan sekarang secara ghaib kita sudah ada di pom bensin. Kita tanya ke petugas yang jaga disana bagaimana kita bisa datang sampai sini No”


“Gak usah Di, nanti mereka malah ketakutan, kita nggak usah bicara tentang apa yang membawa kita dan apa yang kita lakukan disana hari ini”


“Kita jalan dengan santai aja Di, seolah nggak ada apa-apa, seolah tadi memang kita tidur karena kecapekan”


Aku dan Sumadi berjalan santai ke dalam area SPBU karena disana mobil kami parkirkan, dan kebetulan saat ini sangat sepi, hanya ada satu penjaga stasiun pengisian bahan bakar yang sedang merokok santai sambil mendengarkan musik daerah sini.


“Selamat malam pak, wah terima kasih tadi sudah membangunkan kami pak”


“Nggak papa pak, kalau bisa tidur di area sini saja, jangan di luar sana pak, bahaya kalau ada orang jahat” kata petugas itu


Aku tau orang itu, tapi aku tidak mengenalnya karena kami memang tidak ingin bicara dengan mereka. Ya hanya untuk membatasi  rasa kekepoan mereka tentang apa yang sedang kami kerjakan.


“Eh maaf pak, tadi kami ada di sana jam berapa ya pak, maksud saya kami tidur di pinggir jalan itu jam berapa pak?”


“Waduh saya tidak perhatikan jam berapa pak, karena saya tadi sedang ada pelanggan. Tapi tadi saya lihat bapak-bapak ini jalan dan menyeberang jalan seperti orang mabuk hehehe”


“Saya pikir bapak-bapak ini baru saja minum arak bali pak heheheh”


“Ah iya pak, tadi memang kami sempat minum bersama Gungde disana pak hehehe” aku menunjuk ke rumah belakang setra


“Aduuuh kalau disana jangan macam-macam pak… bahaya kalau berbuat jelek disana”


“Tapi kalau bapak bersama Gungde mungkin aman saja pak” jawab pegawai SPBU itu


“Aman… apa dia yang punya rumah itu?” tanya Sumadi


“Rumah itu milik keluarga besar dia pak, termasuk SPBU ini juga milik keluarga besar dari Anak Agung Gede Surya Pertama”


“Keluarga besar dia ada tinggal di puri A, dari sini mungkin sekitar tujuh kilometer lagi”


“Mereka orang kaya raya pak, bisnisnya dari spbu, juga ada artshop di bandara dan di sekitar daerah C sana”


“Mereka juga punya vila yang letaknya agak aneh, karena vila itu letaknya di sisi jurang. Dan ada mereka juga punya hotel di pulau Nusa Penida”


“Apa Gungde tidak cerita tentang keluarga besarnya sama bapak-bapak soal ini?”


“Tidak pak, tapi terima kasih atas informasinya…”


Aku nggak mau tau lebih banyak tentang Gungde atau lolokcicing atau apapun yang berkaitan dengan dia, aku sekarang mulai bisa menebak kenapa kami harus ada di rumah itu.


Nanti di hotel aku akan bicara dengan Sumadi opiniku tentang rumah itu, aku rasa kami hanya dijadikan umpan disana, dan apabila perkatakan pak Wayan dan penjaga SPBU ini aku hubungkan, maka ada benang merah diantaranya.


Pukul empat pagi kami sudah sampai di hotel. Aku dan Sumadi tidak banyak bicara, mungkin Sumadi sedang sibuk dengan pikirannya.


Karena aku sendiri juga sedang berpikir tentang apa yang barusan kami alami, dan ada juga sedikit informasi dari petugas SPBU tentang kepemilikan rumah berikut SPBUnya.


“Aku ngantuk No, aku tidur dulu ya”

__ADS_1


“Ya… aku mau duduk-duduk di depan dulu Di, aku belum mekatuk eh mengantuk soalnya”


“Badanku rasanya sakit No, sendi sendiku pegal rasanya”


“Sama Di.. sendiku juga pegal kayak kena asam urat”


Sumadi langsung tidur, sedangkan aku keluar dari kamar dan duduk di teras hotel. Pikiranku sedang berkecamuk tentang info info dari pak Wayan dan penjaga SPBU.


Aku sama sekali tidak mikir apa yang barusan tadi aku alami di rumah itu, aku nggak terlalu peduli. Yang sekarang sangat menyita pikiranku adalah omongan pak Wayan dan info dari penjaga SPBU tentang kepemilikan rumah dan SPBU itu.


“Selamat pagi pak Paino, baru datang apa tidak bisa tidur pak?” sapa penjaga hotel  yang biasa aku panggil dengan nama mas Nyoman


“Hehehe baru datang mas Nyoman, terus saya tidak bisa tidur”


“Ya sudah pak, mari pak Paino” kata mas Nyoman kemudian melangkah ke arah kantor hotel


Aku sudah empat malam ada disini, dan selama empat malam ini selalu ada saja yang membuat aku ketakutan, biasanya aku dan Sumadi untuk melakukan observasi hanya membutuhkan waktu paling lama dua hari selesai.


Tapi ini sudah sedemikian lama, dan sampai sekarang aku belum juga bisa membuat sebuah kesimpulan…. Sampai kapan kami ada disini, dan sampai kapan bahaya itu terus akan mendatangi kami.


Suasana di teras hotel ini begitu sepi dan tenang hanya bunyi dengungan outdoor ac kamar yang terdengar samar, ada juga satu suara jangkrik di pojokan taman hotel….


Dan di kursi sebelahku ada…..Ada pak Wayan!


Aku tidak menoleh sama sekali, aku hanya melirik ke arah kiri dengan wajahku tetap memandang ke halaman depan kamarku saja.


Dia hanya diam dan tidak melihat ke arahku…


Beberapa detik kemudian pak Wayan yang saat ini masih berupa bayangan itu menoleh ke arah jendela kamar, dia mungkin sedang melihat Sumadi  yang sedang tidur.


Jancok… aku nderedeg, keringat dinginku mulai muncul…


Aneh kenapa aku takut dengan beliau, bukanya selama ini beliau selalu muncul dan aku tidak ketakutan sama sekali.


Kulirik sekali lagi, ya Allah pak Wayan sedang melihat aku dan kemudian tersenyum…reflek aku berkedip karena kaget.


Lho sekarang beliau sudah tidak ada… tidak ada siapa-siapa di kursi teras selain hanya aku saja sendirian.


Ah mungkin hanya halusinasiku saja….


Perlahan lahan rasa mengatuk eh mengantuk muncul…..


*****


“Selamat pagi pak Painooooo……”


“Pak Paino…. Selamat pagiiiiii”


Kubuka mataku perlahan…


Ah sialan…. ada Hera, ganggu orang tidur aja ah!

__ADS_1


Keadaan disini sudah terang…. Ketika aku buka mata, rasanya silau sekali.


“Eh ada mbak Hera… maaf saya tidak dengar mbak”


“Pak Paino kok tidur di teras kamar?”


“Iya mbak Hera, saya ketiduran disini, mana gek Ayunya kok mbak Hera sendirian?”


“Oh gek Ayu lagi di toko seberang hotel pak, dia lagi beli minum. Katanya tadi dia haus ketika sampai di depan kamar pak Paino”


“Maksudnya gimana mbak Hera?”


“Gini pak, Hera dan Gek Ayu sudah ada sekitar lima belas menit disini, di depan kamar pak Painio”


 “Dari tadi kami bangunin pak Paino tapi susah sekali, pak Paino tidur sambil ngorok kencang”


“Kemudian gek Ayu pergi ke toko yang ada di seberang hotel. Karena… karena eh karena merusak pikiran.. Ups hihihi maaf itu kan lagunya rhuma irama pak heheheh”


“Karena disini bekas ada energi yang lumayan besar, energi panas, dan jahat…. dan bekas energi itu membuat kami kehausan pak”


“Apa yang ada disini mbak Hera, apa kami sedang ada masalah lagi?”


“Pak Paino dan pak Sumadi semalam ke rumah itu lagi kan”


“Iya mbak Hera…. Kami kesana dari sore hari sampai pagi tadi”


“Dan sekarang tubuh kasat mata pak Paino banyak bekas luka serangan wong samar lho pak…. Eh pak Sumadi masih tidur di dalam?” tanya Hera


“Coba bangunkan pak Sumadi pak. Hera takut ada apa-apa dengan pak Sumadi” kata mbak Hera


Iya benar Hera… kulihar di beberapa bagian tubuhku memang ada yang lebam hitam dan rasanya lumayan sakit. Bahkan sendi- sendiku kan juga sakit


Mungkin sakitnya baru muncul sekarang, kalau orang jawa bilangnya njarem.


Sementara itu Gek Ayu datang dari luar hotel sambil membawa tas plastik yang berisi air mineral, dia tersenyum melihat aku…


“Pak Paino…. Bekas-bekas yang nempel di tubuh pak Paino ini harus dihilangkan lho pak, kalau tidak bisa semakin menggerogoti tubuh kasat mata dan tak kasat mata pak Paino” kata gek Ayu yang baru saja datang


“Bapak ini habis perang sama wong samar ya pak?”  tanya gek Ayu


“Kok perang gek, memangnya apa yang gek ayu lihat?”


“Luka yang diderita pak Paino ini beda dengan yang kemarin, kalau yang kemarin itu bapak pasrah sepasrah pasrahnya. Dan luka yang bapak derita itu luka pada tubuh tak kasat mata pak…


“Sebelumnya bapak Tidak ada perlawanan, tetapi yang sekarang beda pak. Luka itu beda, yang bisa bapak lihat di tubuh bapak sekarang jelas, terkena pukulan dari sesuatu yang nyata”


“Ada luka luka nyata yang menggambarkan bapak melawan… kayaknya yang menyerang pak Paino ini banyak sekali pak” kata Gek Ayu


“Dan ada juga luka yang tidak kasat mata… lengkap pokoknya pak”


“Coba bapak masuk dan lihat dikaca pak, bagaimana tubuh bapak sekarang ini” kata Hera

__ADS_1


__ADS_2