
PAINO POV
“Di, mbak Hera dan gek Ayu apa nggak pulang saja?”
“Kamu tanya aja ke mereka No”
“Hehehe tenang saja pak Paino, tadi waktu perjalanan kesini gek Ayu sudah kasih kabar orang rumah bahwa kami akan ada dirumah teman dan mungkin akan menginap disana pak”
“Wah kalian berdua ini memang nekat kok. Kalian kayak anak hilang gek, mbak”
Badanku sudah sehat, dan aku sekarang juga bisa melihat hal ghaib seperti Sumadi, dan hal ini juga karena pak Wayan yang membuka mata batinku.
Malam ini nanti pak Wayan akan apa ya istilahnya… eh pokoknya penjelasanya gini, raga halus kami akan dikeluarkan dari raga kasar, sehingga kami bisa menuju dan mencari bu Tina.
“Oh iya Di, kita dari kemarin kan belum bikin laporan ke lolokcicing, ada baiknya sebelum kita melakukan aksi untuk nanti malam kamu bikin email dulu di”
“Apa yang akan kita laporkan No… kita sendiri saja masih kayak gini”
“Dah laporkan aja apa yang terjadi dengan kita selama di rumah sakit dan di hotel. Dan sekarang kita cari tempat yang aman dengan tinggal di rumah belakang setra saja”
“Tapi jangan sebutkan ada pak Wayan dan gek Ayu serta mbak Hera ya, sebutkan saja kita tidak aman apabila di hotel dan jelaskan apa saja yang kita alami”
“Kemudian beri alasan kenapa kita nginap di rumah belakang setra, karena kita rasa disini lebih aman dari pada di kamar hotel…. Dah gitu aja Di”
“Ok tak kerjakan sekarang No…”
“Ah iya mbak Hera dan gek Ayu….menurut kalian berdua, ketika ada di rumah bu Tina, apa yang kalian lihat disana?”
“Banyak sekali pak Paino… banyak mahluk halus dengan bentuk yang mengerikan, kalau yang Hera rasakan dan lihat, disana itu seperti tempat penampungan, sebelum disalurkan ke tempat yang membutuhkan hehehe”
“Jadi seperti tempat penampungan Tenaga Kerja Wanita gitu ya mbak Hera?”
__ADS_1
“Hahaha iya pak, seperti itu. Tetapi yang ada di rumah bu Tina itu luar biasa banyaknya pak. Tapi ada yang mencurigakan disana pak, saya lihat laki-laki tua dengan sorot mata tajam melihat ke arah kami”
“Ah mungkin itu suami bu Tina mbak… yang katanya sempat sakit jiwa itu lho mbak”
“Iya pak, bisa juga pak. Eh tapi.. Ah entahlah, nanti saja ketika kita ada disana saja kita lihat sendiri pak”
Kulihat Sumadi sedang sibuk dengan laptopnya, dia sedang mengirim laporan kepada lolokcicing tentang apa yang terjadi pada kami berdua.
Tidak lama dia bikin laporan itu, beda sama aku yang sulit untuk menumpahkan apa yang ada di otak ke dalam laptop. Aku lebih suka berpikir, melakukan analisa, dan membuat sebuah kesimpulan pertama atas kesimpulan akhir dari sebuah masalah.
Ketika di luar aku rasa aman, aku dan Sumadi mencari makanan di sekitar area sini, dan kebetulan tidak jauh dari sini sekitar 500 meter ada sebuah warung makan lawar kuir (bebek), biasanya menu lawar itu identik dengan babi. Tapi kebetulan sekali yang dekat disini adalah lawar bebek.
Hari semakin sore, aku semakin tegang tidak sabar untuk merasakan apa yang akan terjadi dan apa yang akan kami lakukan setelah ini.
Pak Wayan yang dari siang ini tidak ada disini, sore ini tiba-tiba sudah ada di ruang tamu tempat kami berempat sedang duduk.
“Ah bagaimana, apa kalian sudah siap untuk memisahkan suksma sarira dan raga sarira, eh maaf maksud saya raga kasar dan raga halus ?” tanya pak Wayan
“Kami siapa pak” jawab Sumadi
“Oh jadi kami berempat tidak boleh apa itu pak eh ngeraga sukma ya?”
“Boleh saja pak Paino, tetapi perjalanan kalian ini berbahaya, jadi harus ada yang jaga disini hingga kalian balik ke raga kasar lagi”
“Nanti ular yang akan mengawal kalian ukuranya tidak seperti yang kalian lihat disini, nanti kalian bisa berlindung di balik tubuh ular apabila terjadi sesuatu. Atau kalian bisa sembunyi di balik tubuh ular saya itu” kata pak Wayan
“Saya yang akan memutuskan siapa yang akan berangkat ke sana. Pak Paino dan mbah Hera, sedangkan pak Sumadi dan gek Ayu tetap ada disini dan siap apabila ada sesuatu yang terjadi dengan pak Paino dan mbak Hera” tambah pak Wayan.
Semakin malam aku semakin tegang, begitu juga mbak Hera yang akan berangkat bersama aku ke kediaman bu Tina.
“Ah iya pak Wayan, saya mau tanya sekali lagi, apakah ular bapak ini bisa membinasakan atau membunuh dua anak setan itu?”
__ADS_1
“Hahaha tentu saja mudah sekali pak Paino, hanya saja saya yang tidak mau”
“Kenapa saya tidak mau, karena barusan saya dapat info kalau kedua anak itu adalah tonggak atau paku bumi dari sebuah daerah di jawa yang dengan penduduk tak kasat mata yang banyak”
“Kalau saya bunuh makan akan terjadi ketidak seimbangan disana” jawab pak Wayan
“Saya bukan manusia yang suka berandai andai dan memperkirakan atau meramal istilahnya, meskipun saya bisa dan saya tau, tapi saya tidak mau melakukannya” lanjut pak Wayan
“Saya bisa tau…ingat bisa tau bukan berarti saya tau, saya bisa tau apabila saya menghendaki untuk tau, tetapi karena saya tidak menghendaki untuk tau maka saya tidak tau”
“Jadi saya bisa saja tau apa yang akan terjadi, siapa saja yang ada di balik ini semua, atau bahkan siapa dukun yang melakukan sesuatu di ruang bawah tanah…. Itu kalau saya menghendaki untuk tau”
“Karena disini ada pak Paino dan pak Sumadi, maka saya yakin kalian yang akan membuka tabir ini”
“Maksudnya bagaimana pak Wayan?”
“Ah sudahlah, kalian ikuti saja dan jalani saja, nanti kalian akan tau sendiri dan akan bisa mengambil kesimpulan” jawab pak Wayan
Pak Wayan ini selalu tidak mau memberikan jawaban yang pasti, selalu ngambang dengan pemikiran dia yang ngambang juga.
Tapi masa bodoh… aku dan Sumadi bukan orang yang tidak bisa mengambil kesimpulan atas sesuatu yang tidak jelas.
Wajah mbak Hera tegang, sama dengan aku. Kalau aku tegang bukan karena akan melawan atau bertemu dengan bu TIna.
Tapi melepas raga halus dari raga kasar ini yang bikin aku tegang hehehe.
“Gimana mbak Hera, apa sudah siap untuk melayang heheheh”
“Ah pak Paino ini bikin takut Hera aja pak, Hera takut ni lho pak”
“Eh gimana kalau sama gek Ayu saja?” aku iseng aja bicara
__ADS_1
“Nggak pak Paino, saya disini saja sama pak Sumadi, lebih aman disini menunggu kalian pak”
Pak Wayan sudah pergi dari tadi, sedangkan kami berempat masih ada di ruang tamu rumah belakang setra, menunggu adalah sebuah pekerjaan yang membosankan, tapi bagi aku menunggu adalah pekerjaan yang mengerikan hehehe.