
“Nanti akan saya jelaskan mbak, tadi itu bukan tidur mbak Hera… nanti akan saya ceritakan apa yang tadi sedang saya alami mbak”
“Oh iya…Mbak Hera….apa yang terjadi dengan Sumadi?”
“Tenang pak, tadi pihak rumah sakit telepon, katanya harus segera dilakukan tindakan operasi, karena ada tulang rusuk yang patah, juga tindakan pengambilan cairan dan darah di paru-paru pak Sumadi”
“Tadi pihak rumah sakit hanya minta tanda tangan atas keluarga atau teman dekat atau siapapun yang dekat dengan pak Sumadi”
“Hanya tanda tangan saja, karena seluruh pembiayaan rumah sakit atas nama pak Sumadi sudah ada yang menanggung”
“Karena tadi pak Paino tidak bisa dihubungi, akhirnya Hera dan gek Ayu yang datang ke sana. Hera yang tanda tangan dan bertanggung jawab atas pasien pak Sumadi” jawab mbak Hera
“Kemudian Hera dan gek Ayu juga tanda tangan untuk kamar tempat pak Sumadi rawat inap pak… jadi untuk masalah rumah sakit itu bisa diselesaikan tadi”
“Bagaimana bisa pihak rumah sakit tau nomor telepon mbak Hera?”
“Lha tadi pagi kan Hera dan gek Ayu yang tanda tangan ketika pak Sumadi dan Pak Paino ada di dalam ruang ugd. Waktu itu pihak rumah sakit juga minta nomor telepon kami juga pak”
“Sekarang lebih baik bapak ke sana, Hera akan balik ke kantor dulu, nanti selepas jam kantor Hera dan gek Ayu susul ke rumah sakit”
“Hera dan gek Ayu ke sini karena Hera merasa ada apa-apa dengan pak Paino… eh nanti kita bicara di rumah sakit saja pak”
“Eh barusan juga tadi Hera lihat ada yang sesuatu di sekitar sini pak, nanti kita ngobrol waktu di rumah sakit saja pak”
Aneh ada yang membayar biaya rumah sakit Sumadi, jangan-jangan itu si lolokcicing!
Dua perempuan baik hati itu pergi dari hotel, aku membawa dua tas ransel menggunakan mobilku menuju ke rumah sakit.
Aku ndak enak dengan dua perempuan itu, mereka mau tanda tangan atas pasien Sumadi, padahal mereka bukan siapa siapanya kami.
Barusan aku lihat layar ponsel, ternyata ada sekitar sepuluh kali misscall dari nomor yang tidak aku kenal, dan ada juga misscall dari mbak Hera juga.
*****
Aku sedang mendapat penjelasan dari bagian administrasi terkait dengan pembiayaan Sumadi. Tetapi sebelumnya aku menemui dokter yang menangani Sumadi.
Kata dokter itu nanti malam sekitar jam sepuluh malam baru bisa dilakukan operasi, dan sekarang Sumadi ada di ruangan rawat inap.
__ADS_1
Kata dokter itu lagi, saat ini Sumadi dalam keadaan tidak sadar, tapi organ vitalnya masih bekerja dengan baik.
keadaan Sumadi bisa dikatakan cukup berbahaya, karena ada cairan dan darah di paru-parunya, selain itu ada tulang rusuk yang patah. Untuk luka yang lainnya kata dokter bisa diobati dengan pemberian obat berkala saja
Sumadi ada di kamar VIP dan tentu saja biaya kamar itu tidak murah, tapi ya sudah lah semoga Sumadi bisa sembuh seperti sedia kala.
“Maaf bu, bisa saya tau siapa yang membiayai teman saya yang namanya Sumadi itu?”
“Maaf pak, kami tidak boleh memberitahu tentang siapa yang memberikan bantuan dana kepada teman bapak. Ini atas permintaan dari penyumbang dana itu sendiri pak” kata suster yang bertugas di bagian administrasi
Ya sudah…..
Tadi penjelasan yang sangat jelas dari bagian administrasi, yah siapa lagi kalau bukan lolokcicing, tapi ya sudahlah yang penting nanti malam Sumadi akan menjalani operasi.
Aku kembali ke kamar Sumadi, kuambil handycam yang tadi baru sebentar aku charges, kemudian aku lanjutkan mengisi daya baterai handycam, aku penasaran dengan hasil handycam ini.
Sumadi terbaring di tempat tidur dengan selang infus di lengannya, dan alat bantu pernafasan yang terpasang di hidungnya.
Sungguh tragis apa yang menimpa Sumadi, tapi anehnya kenapa kok tidak menimpa aku, apakah karena aku sedang duduk di teras bersama pak Wayan?
Apakah tiga orang itu kenal dengan pak Wayan?
Semua masih teka teki yang tidak bisa disimpulkan dari sekarang… masalah ini semakin berbelit karena aku harus menyelesaikan satu persatu yang terjadi dengan kami.
Sudah jam lima lebih, aku sedang duduk di depan kamar rawat inap Sumadi, aku bosan di dalam kamar sendirian.
Dari kejauhan mbak Hera dan Gek Ayu datang mendekat….
“Selamat petang pak Paino, gimana kabar pak Sumadi?”
“Malam mbah Hera dan gek Ayu… Sumadi masih tidur, mungkin ada obat yang membuat dia ngantuk, nanti malam jam sepuluh dia akan dioperasi”
“Saya bingung, sebenarnya yang sedang terjadi dengan kami ini apa ya mbak Hera?”
“Pertama jangan bingung dulu pak. Bapak ada di pulau dengan segala persoalan magis dan sejenisnya masih dan sering dilakukan, kedua bapak perlu pegangan disini pak”
“Tidak mbak Hera, saya tidak mau memiliki ilmu apapun, dan saya sudah berjanji eh….”
__ADS_1
“Janji apa dan kepada siapa pak?” tanya Hera sambil tersenyum
“Orang tua yang memakai udeng itu kan pak” kata gek Ayu tersenyum juga
“Bagaimana kalian bisa tau tentang pak Wayan?”
“Dari tadi pagi ketika kita datang, waktu pak Paino tidur di teras hotel…. di sebelah situ ada bapak-bapak dengan udeng, saya kira mungkin datang dari mana gitu pak” jawab gek Ayu
“Terus tadi sore waktu Hera dan gek Ayu datang ke hotel dan membangunkan pak Paino, bapak tua ber udeng itu juga ada di sekitar sana juga pak” jawab Hera
“Dan tadi barusan dia datang lagi, dan langsung masuk ke dalam. Sosok wong samar yang itu punya energi positif pak, biarkan dia ada di dalam, mungkin sedang menjaga pak Sumadi”
“Sebenarnya apa yang dia maui mbak?”
“Hehehe jangan tanya kami pak, kami tidak terkoneksi dengan beliau, jadi tidak bisa bertanya tanya pak, bisa bahaya karena kami bukan yang dia kehendaki untuk komunikasi” jawab mbak Hera
“Aah mungkin bapak, mungkin bapak bisa komunikasi dengan beliau pak”
“Sudahlah mbak nanti saja kita pikirkan itu, eh sekarang saya mau cerita tentang yang tadi sore itu, ketika mbak Hera dan gek Ayu datang”
Aku mulai cerita waktu aku naik taksi dan hingga aku tidur di dalam kamar hotel
Kedua perempuan itu mendengarkan dengan serius, mereka tidak menyela atau bertanya ketika aku sedang cerita. Mereka berdua hanya mengangguk seolah paham dengan yang aku ceritakan.
“Bagaimana mbak. Apa yang mbak-mbak ini pahami dari cerita saya?”
“Keadaan bapak dalam bahaya… jadi menurut Hera, ada yang tidak suka dan iri dengan bapak, ada yang tidak suka dengan kehadiran bapak, dan ada yang dipihak bapak”
“Semua itu memang tidak saling berhubungan dan tidak saling bersinggungan pada mulanya, tetapi nanti selanjutnya akan saling terkoneksi dan akan berbahaya bagi pak Paino dan pak Sumadi”
“Menurut Hera, bapak ikuti saja apa yang dikatakan oleh pak Wayan itu, ikuti kata hati dan berusaha untuk tidak melakukan tindakan yang menimbulkan ketidak senangan dari wong samar”
“Lalu bagaimana dengan dua anak kembar yang aneh dan ibunya yang selalu ketakutan itu”
“Itu yang Hera dan gek Ayu rasakan di kamar ketika kita sedang membangunakan pak Paino waktu pagi-pagi tadi”
“Selain energi dari orang tua ber udeng itu lho ya pak” jelas Hera
__ADS_1
“Lalu sebenarnya kenapa mereka atau dua anak itu selalu mengikuti saya dan Sumadi mbak, dan apa yang mereka maui hingga Sumadi seperti ini?”
“Waduh Hera tidak tau pak, yang jelas pasti mereka punya tujuan terhadap pak Paini dan pak Sumadi, dan yang tau hanya pak Paino dan pak Sumadi saja”